Rusia Peringatkan Korea Selatan Jangan Ikut-ikutan NATO Kirim Senjata ke Ukraina
Pemerintah Rusia memperingatkan Korea Selatan untuk tidak berpartisipasi dalam skema NATO untuk mendanai pembelian senjata bagi Ukraina. Juru bicara Kementerian Luar Negeri Rusia Maria Zakharova mengatakan keikutsertaan Seoul dalam skema tersebut akan sangat merusak hubungan dengan Moskow.
Peringatan itu disampaikan setelah media Korea Selatan melaporkan bahwa Seoul sedang mempertimbangkan partisipasi tersebut.
Skema NATO tersebut, yang dikenal sebagai Daftar Persyaratan Prioritas Ukraina (PURL), diluncurkan Agustus lalu dan melibatkan anggota NATO Eropa membeli senjata buatan Amerika Serikat (AS) untuk Kyiv.
Baca Juga: Bos NATO Ledek Rusia Siput yang Lambat, Moskow Ejek Balik Sekutu
Pada bulan Januari, Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky mengeluh bahwa negara-negara Eropa pendukung Kyiv terlalu lambat untuk berkomitmen mendanai inisiatif tersebut, meskipun angka yang diungkapkan secara publik menunjukkan bahwa USD4,3 miliar telah dialokasikan untuk rencana tersebut pada bulan Desember.
“Pemerintah terus berkonsultasi dengan [NATO] mengenai berbagai langkah untuk mendukung Ukraina,” kata seorang pejabat Kementerian Luar Negeri Korea Selatan kepada kantor berita Yonhap pada hari Jumat lalu. Laporan lain dari The Korea Times menyebutkan bahwa NATO sendiri yang meminta Seoul untuk bergabung dengan PURL.Zakharova mengatakan laporan-laporan tersebut mengejutkan Moskow. "Kemungkinan partisipasi Korea Selatan dalam pengiriman semacam itu dalam bentuk apa pun—langsung atau tidak langsung—hanya akan menunda penyelesaian konflik," katanya, seperti dikutip dari Russia Today, Minggu (22/2/2026)."Hal itu pasti akan menyebabkan kerusakan yang tidak dapat diperbaiki pada hubungan antara Rusia dan Republik Korea," lanjut Zakharova, menambahkan bahwa Moskow harus mengambil tindakan balasan, termasuk opsi asimetris.
Rusia telah berulang kali mengecam pengiriman senjata Barat ke Ukraina, dengan mengatakan bahwa hal itu hanya memperpanjang konflik dan memperluas penderitaan manusia tanpa mengubah hasilnya.
Korea Selatan telah menjadi salah satu penerima manfaat utama dari peningkatan militer global. Produsen senjata terbesar di negara itu, Hanwha Group, mencatatkan peningkatan pendapatan senjata sebesar 42 pada tahun 2024, dengan lebih dari setengahnya berasal dari ekspor, termasuk ke negara-negara NATO, menurut laporan Stockholm International Peace Research Institute (SIPRI) pada Desember 2025.
Kyiv, yang terus-menerus menuntut lebih banyak bantuan militer dari para pendukungnya, baru-baru ini mengumumkan rencana untuk mengekspor senjata. Awal pekan ini, seorang pejabat senior Ukraina mengatakan kepada Reuters bahwa pemerintah memperkirakan pendapatan dari penjualan senjata akan mencapai "beberapa miliar dolar" hanya dalam tahun ini saja.










