Kisah Izzat, Pernah Jadi Kuli dan Loper Koran di Jepang, Kini Raih Gelar Doktor Biologi Kelautan
M Izzat Nugraha atau yang akrab disapa Izzat membuktikan bahwa mimpi besar bisa diraih lewat kerja keras dan ketekunan. Siapa sangka, di balik gelar doktor yang kini disandangnya, Izzat pernah bekerja sebagai kuli bangunan dan loper koran saat menempuh studi di Jepang.
Izzat membagikan perjalanan panjang pendidikannya hingga resmi lulus sebagai doktor Biologi Kelautan dari kampus ternama di Negeri Sakura, yakni Tohoku University.
Baca juga: Kisah dr Rafli, Lulusan Terbaik FK UI yang Raih Gelar Doktor dengan IPK 4,00
Fondasi Madrasah dan Pendidikan Agama
Izzat menegaskan bahwa perjalanan akademiknya tak lepas dari fondasi pendidikan agama sejak dini. Ia mengenyam pendidikan dasar di SDIT Pesantren Darul Muttaqien, Bogor (2004–2010), yang membiasakannya membaca Al-Qur’an sekaligus mengenalkan sains melalui berbagai lomba akademik.“Di sana saya belajar disiplin, cinta ilmu, dan mulai tertarik pada sains,” ujarnya, dikutip dari laman Kemenag, Senin (16/2/2026).
5 Shio yang Diprediksi Beruntung di 2026
Baca juga: 14 Gelar Kehormatan Megawati, dari Waseda Jepang hingga Kampus Wanita Terbesar di DuniaPendidikan menengah ia lanjutkan di MTsN 3 Jakarta (2010–2013). Di sekolah ini, jiwa kepemimpinannya mulai terasah setelah dipercaya menjadi Ketua OSIS. Meski aktif berorganisasi, prestasinya tetap gemilang dengan raihan nilai tertinggi di Ujian Sekolah dan Ujian Nasional.
Perjalanan akademiknya berlanjut ke MAN Insan Cendekia Serpong (2013–2016). Di sana, Izzat semakin mendalami Biologi, aktif sebagai Wakil Ketua OSIS, serta meraih Juara 3 Kompetisi Sains Madrasah (KSM) Nasional bidang Biologi. Ia juga menjadi bagian dari tim Olimpiade Biologi tingkat provinsi.
Berani Bermimpi Kuliah di Jepang
Cita-cita kuliah di Jepang sudah tertanam sejak usia 13 tahun. Sebuah kartu telepon bergambar Gunung Fuji yang dibawakan ayahnya dari Tokyo menjadi simbol impian tersebut. Bahkan, saat car free day di Jalan Thamrin pada 2011, Izzat kecil pernah berkata ingin suatu hari belajar di Jepang.Baca juga: Raih Gelar Doktor di Usia 26 Tahun, Dea Angelia Jadi Lulusan Termuda UGM Bidang AI
Usai lulus MAN IC Serpong, ia langsung mendaftar ke Tohoku University tanpa mengikuti tes perguruan tinggi lain. Tekadnya terbayar, ia diterima di jurusan Marine Biology pada 2016.
Pernah Jadi Kuli dan Loper Koran
Perjalanan studi Izzat di Jepang tidak selalu mulus. Saat menempuh program magister (2020–2022) di Graduate School of Agricultural Science, ia harus bekerja paruh waktu demi mencukupi kebutuhan hidup.“Saya pernah menjadi pekerja harian membongkar gedung tua dan menjadi pengantar koran pagi lebih dari satu tahun. Mulai jam 3 sampai 6 pagi, lalu ke kampus sekitar jam 9,” kenangnya.Baca juga: Perjuangan Mardiah, Lulus S3 IPB di Usia 26 Tahun dan 17 Publikasi Terindeks Scopus
Pengalaman sebagai kuli bangunan dan loper koran di Jepang menjadi titik penting yang membentuk karakter disiplin dan manajemen waktunya. Di sela pekerjaan fisik yang berat, ia tetap menjaga komitmen akademik, bahkan salat Subuh di mana pun waktu itu tiba.
Kesulitan finansial justru menguatkan mentalnya. Ia menerima berbagai dukungan beasiswa, mulai dari Beasiswa Madrasah Berprestasi Kemenag saat S1, Presidential Fellowship, MEXT Honor, hingga MEXT SGU. Saat S3 (2022–2025), ia memperoleh dukungan Pioneering Research Project (PRP).
Sembilan Tahun Menuntaskan Mimpi
Selama sembilan tahun di Jepang (2016–2025), Izzat menuntaskan studi dari sarjana hingga doktoral di Tohoku University. Bidang yang ditekuninya meliputi Biologi Kelautan, Oseanografi, dan Planktonologi, khususnya harmful algal bloom—fenomena ledakan populasi alga berbahaya bagi ekosistem laut.Risetnya mencakup studi genetika dan morfologi plankton, analisis arus laut dan suhu permukaan laut berbasis data satelit, hingga simulasi particle tracking untuk memahami konektivitas laut Indonesia dan Jepang.
Baginya, keberhasilan ini bukan hasil instan, melainkan buah dari konsistensi, adaptasi, dan kerja keras yang dijaga setiap hari.
“Selalu ada jalan meraih cita, selagi ada upaya dan tawakal,” tegasnya.
Izzat pun berpesan kepada para siswa madrasah agar tidak ragu bermimpi hingga tingkat internasional. Menurutnya, madrasah adalah fondasi, bukan batas.










