Dedolarisasi Tanpa Mata Uang Lokal, BRICS Bentuk Bursa Logam Mulia
Negara-negara BRICS tengah mengembangkan bursa perdagangan logam mulia sebagai bagian dari upaya memperkuat kerja sama ekonomi dan mengurangi ketergantungan pada sistem keuangan yang didominasi Barat. Inisiatif ini berjalan bersamaan dengan rencana penguatan penggunaan mata uang nasional dalam transaksi lintas negara anggota.
"Ada juga inisiatif baru-baru ini, tetapi sangat penting, untuk membentuk bursa logam mulia, bersamaan dengan bursa gandum," kata Wakil Menteri Luar Negeri Rusia Sergey Ryabkov dalam wawancara dengan TASS dikutip, Minggu (15/2/2026).
Baca Juga:Lepas Ketergantungan Dolar AS, BRICS Siapkan Arah Baru di KTT 2026
Pernyataan tersebut disampaikan di tengah pembahasan lanjutan mengenai platform investasi bersama serta kemitraan zona ekonomi khusus antarnegara BRICS. Pengembangan bursa logam mulia dinilai sebagai salah satu langkah strategis untuk memperkuat infrastruktur perdagangan komoditas dan sistem pembayaran alternatif.
Inisiatif ini melanjutkan komitmen yang dihasilkan pada KTT Kazan pada Oktober 2024, saat Rusia memegang presidensi BRICS. Dalam pertemuan itu, negara anggota mengadopsi sejumlah usulan, termasuk platform pembayaran alternatif, mekanisme penyelesaian transaksi dalam mata uang nasional, serta rencana pembentukan bursa gandum.Ryabkov menyatakan optimistis berbagai proyek tersebut dapat diwujudkan dalam waktu dekat. "Ada semua alasan dan prasyarat untuk munculnya sesuatu yang konkret," katanya.
Konsep bursa gandum disebut telah berkembang pesat, dengan Rusia dikabarkan menyiapkan proposal rinci untuk dibahas bersama negara mitra. Negara-negara BRICS diketahui menyumbang sekitar 44 persen produksi gandum global, sehingga kolaborasi di sektor komoditas dinilai berpotensi meningkatkan posisi tawar kelompok tersebut di pasar internasional.
Meski demikian, Ryabkov menegaskan bahwa pembentukan mata uang bersama BRICS belum menjadi agenda dalam waktu dekat. Dalam wawancara terpisah dengan The Economic Times, ia menekankan fokus utama saat ini adalah memperluas penggunaan mata uang nasional dalam penyelesaian perdagangan, bukan membentuk mata uang tunggal.
Baca Juga:Daftar Negara yang Sudah Buat Buku Panduan Hadapi Perang Dunia III untuk WarganyaPengembangan bursa logam mulia juga berlangsung di tengah volatilitas pasar emas dan perak global. Fluktuasi harga yang tajam dalam beberapa pekan terakhir mendorong negara-negara produsen dan konsumen utama mencari mekanisme perdagangan yang lebih stabil dan transparan.
Di sisi lain, Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump sebelumnya mengancam tarif tinggi terhadap negara-negara BRICS yang mendorong alternatif sistem perdagangan berbasis dolar. Pejabat BRICS menegaskan langkah mereka bersifat defensif untuk memperkuat ketahanan ekonomi, bukan untuk menantang dominasi dolar.
India dijadwalkan menjadi tuan rumah KTT BRICS berikutnya tahun ini, dengan agenda antara lain pembahasan potensi keterhubungan mata uang digital bank sentral negara anggota untuk memfasilitasi pembayaran lintas batas. Inisiatif tersebut dinilai akan memperkuat ekosistem keuangan BRICS tanpa harus membentuk mata uang bersama.










