Perluas Jangkauan, Halocoko Terapkan Model Bisnis Berbasis Kemitraan Lokal
Halocoko memperkuat penetrasi pasar nasional melalui implementasi model distribusi berbasis kemitraan lokal yang terintegrasi dengan program pengembangan bisnis berkelanjutan sepanjang tahun 2025. Pendekatan ini terbukti efektif meningkatkan kapasitas operasional perusahaan dalam menjangkau lebih dari 50 wilayah di Indonesia melalui 16.000 kegiatan yang menyasar segmen komunitas dan pendidikan. "Total dampak program menjangkau lebih dari 2,5 juta masyarakat," jelas Senior Brand Manager Halocoko, Viona, dalam keterangan resmi, dikutip Sabtu (14/2/2026).
Baca Juga:Dulu Takut, Sekarang Ketagihan: Kisah Arya Mohan Menemukan Solusi Makan Es Krim
Viona mengatakan, model distribusi tersebut menjadi instrumen strategis untuk memperluas jangkauan brand hingga ke tingkat akar rumput. Interaksi langsung antara tim lapangan dengan para siswa di sekolah dinilai sebagai langkah jitu untuk membangun kedekatan emosional serta loyalitas jangka panjang pada segmen konsumen usia sekolah.
Memasuki tahun 2026, perusahaan telah menyiapkan peta jalan ekspansi dengan meningkatkan intensitas kegiatan dan memperluas jangkauan ke lebih banyak kota. Strategi pertumbuhan ini akan difokuskan pada penguatan kolaborasi dengan pemerintah daerah serta institusi pendidikan guna menciptakan ekosistem bisnis yang lebih solid."Ini sekaligus memperkokoh posisi Halocoko di industri es krim nasional melalui model bisnis yang inklusif dan berorientasi dampak," tegas Viona mengenai visi perusahaan ke depan.
Baca Juga:Glico Wings Ramaikan AFA Indonesia 2025, Bagikan Ribuan Es Krim Jepang Frostbite Yakoo
Keberhasilan strategi berkelanjutan ini juga membuahkan apresiasi tinggi dengan diraihnya Rekor Museum Rekor-Dunia Indonesia (MURI). Halocoko dinobatkan sebagai pemegang rekor Program Pembagian Es Krim Secara Seri Terbanyak dalam Satu Tahun setelah sukses mendistribusikan lebih dari 1,1 juta es krim kepada anak-anak di berbagai pelosok negeri.









