Greg Poulgrain: Ketidakpuasan di Papua Dipicu Kegagalan Distribusi Kesejahteraan

Greg Poulgrain: Ketidakpuasan di Papua Dipicu Kegagalan Distribusi Kesejahteraan

Nasional | sindonews | Senin, 5 Mei 2025 - 23:51
share

Indonesia membutuhkan strategi nasional yang tepat dalam pengelolaan kekayaan alam (natural resources) di tengah dinamika ketegangan geopolitik sehingga berorientasi pada kesejahteraan dan distribusi kesejahteraan.

Kegagalan Indonesia mengelola sumber daya alam dan mendistribusikan kesejahteraan dapat membuat kekayaan alam menjadi bencana alam dan bencana politik.

Demikian disampaikan sejarawan dan Indonesianis Dr Greg Poulgrain dalam GREAT Lecture yang diselenggarakan GREAT Institute di kantor lembaga think tank itu di Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Senin (5/5/2025).

Menurut catatan Dr Poulgrain, karena sumber alam yang melimpah Indonesia selalu menjadi pusat dari pertarungan kepentingan global. Bukan hanya antara Blok Barat dan Blok Timur, tetapi juga antara kelompok kepentingan di masing-masing negara seperti antara Presiden John F Kennedy dan Direktur Central Intelligent Agency (CIA) Allen Dulles khususnya terkait kekayaan alam di Papua.

Ketidakpuasan sebagian masyarakat Papua, misalnya, menurut Greg, kerap dipicu oleh kegagalan distribusi kesejahteraan karena hasil dari pengelolaan kekayaan alam Papua menumpuk pada pihak-pihak tertentu.

Dr Poulgrain menekankan pentingnya pendekatan komprehensif yang mencakup aspek ekonomi, lingkungan, dan budaya dalam pengelolaan sumber daya. Kemudian, perlunya visi jangka panjang, kerja sama internasional, serta tata kelola yang bertanggung jawab demi kesejahteraan bangsa.

Dr Poulgrain yang merupakan pengajar di sejumlah universitas di Australia melakukan penelitian ekstensif sejarah Indonesia khususnya di masa-masa puncak Perang Dingin. Dia telah menerbitkan tiga buku terkait tema ini yakni “The Incubus of Intervention” (2015), “Genesis of Konfrontasi” (2019) dan “JFK vs Allen Dulles: Battleground Indonesia” (2020). Satu buku lagi yang sedang dipersiapkannya berjudul “The Curse of Gold”.

Dua penanggap utama dalam GREAT Lecture yang dibuka Ketua Dewan Direktur GREAT Institute Dr Syahganda Nainggolan yakni Dr Sidratahta Mukhtar dan Dr Zarmansyah.

Diskusi yang dimoderatori peneliti GREAT Institute Omar Thalib dihadiri kalangan akademisi dan politisi antara lain Dr. Indra Wardhana dari Pertamina University, Dr. Faisal Nurdin dan Dr. Rahmi Fitryani dari Universitas Islam Negeri (UIN) Jakarta, peneliti isu Kashmir dari Belanda Laura Schuurmans, mantan Duta Besar Indonesia untuk Mesir, Helmy Fauzy, politisi Golkar Dr. Poempida Hidayatulloh, dan politisi Partai Demokrat Dr. Nurhayati Assegaf, serta Jeremy Kight Diplomat dari Kedutaan Besar Amerika.

Dari kalangan pemerintah hadir Staf Khusus Menteri Imigrasi dan Pemasyarakatan Abdullah Rasyid, Staf Ahli Menteri Agama Prof. Iswandisyah Syahputra, dan Staf Ahli Menteri Pemuda dan Olahraga Dr. Hamka Hendra Noer, serta Poppy Dharsono dari Kamar Dagang dan Industri (KADIN) juga tampak hadir.

Syahganda Nainggolan ketika membuka diskusi mengatakan, “kutukan sumber daya alam” seperti yang dialami Indonesia di masa lalu dapat dikendalikan jika pemimpin Indonesia mempunyai leadership dan nasionalisme yang tinggi.

“Di era Prabowo, apa yang selama ini disebut sebagai ‘kutukan sumber daya alam’ diharapkan menjadi rahmat untuk kesejahteraan rakyat,” ujar Syahganda.

Senada dengan Syahganda, Direktur Geopolitik GREAT Institute Teguh Santosa menambahkan di tengah dinamika politik global belakangan ini yang ditandai perang dagang antara AS dan China, pemerintah Indonesia terlihat ingin menciptakan kemandirian berorientasi kepentingan nasional dan di saat bersamaan tetap menjaga hubungan baik dengan negara-negara sahabat.

Topik Menarik