Ukraina Mengharapkan 3 Juta Peluru Sekutu untuk Melawan Rusia
Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky mengatakan Kyiv telah mengharapkan pasokan 3 juta peluru artileri dari sekutu Kyiv untuk perang melawan Rusia.
"Jika Ukraina kuat, perang akan berakhir," kata Zelensky kepada wartawan di Praha bersama Presiden Ceko Petr Pavel.
Zelensky dan Ibu Negara Olena Zelenska tiba di Republik Ceko pada Minggu untuk kunjungan resmi.
Prakarsa amunisi Ceko akan mengirimkan hingga 1,8 juta peluru artileri ke Ukraina pada akhir tahun 2025, kata Pavel saat kunjungan tersebut.
"Rusia harus tahu bahwa kami mengharapkan tiga juta peluru artileri dari sekutu kami. Tidak hanya Korea Utara yang mampu membantu dalam perang, kami memiliki sekutu yang membantu Ukraina," kata Zelensky.
Rusia telah dibantu Korea Utara saat merebut kembali wilayah Kursk yang dikuasai pasukan Ukraina.
Korea Utara juga mengonfirmasi bahwa mereka telah mengirim pasukan untuk bertempur bersama pasukan Rusia di Kursk.
Zelensky memperingatkan Moskow bahwa ada aliran bantuan militer lain selain prakarsa amunisi Ceko untuk membantu Ukraina menangkis invasi Rusia.
Prakarsa Ceko diluncurkan tahun lalu untuk mengatasi kekurangan peluru Ukraina di tengah keterlambatan bantuan militer Amerika Serikat pada awal tahun 2024.
"Memaksa Rusia untuk melakukan gencatan senjata penuh tanpa syarat, terutama karena itu adalah usulan dari Amerika Serikat dan kami mendukungnya, juga merupakan tugas prioritas," kata Zelensky.
Menurut laporan Kyiv Independent, Senin (5/5/2025), Kremlin telah menunjukkan tanda-tanda bahwa mereka tidak mau melanjutkan perjanjian damai dengan Ukraina. Pihak berwenang Rusia telah mencantumkan tuntutan maksimalis dalam negosiasi gencatan senjata yang ditengahi oleh Amerika Serikat.
Ukraina telah menyetujui gencatan senjata penuh selama 30 hari yang diusulkan AS, dengan mengatakan pada 11 Maret bahwa Kyiv siap jika Rusia juga menyetujui persyaratannya. Sejauh ini, Moskow telah menolak.
Zelensky telah berulang kali menyerukan gencatan senjata selama 30 hari, dengan mengatakan pada 23 April bahwa Ukraina bersikeras pada "gencatan senjata segera, penuh, dan tanpa syarat."




