Iran Peringatkan Trump: Israel, Pangkalan Militer AS Bisa Jadi Sasaran Pembalasan
JAKARTA – Iran memberikan peringatan kepada Amerika Serikat (AS) bahwa setiap serangan terhadap Republik Islam itu akan memicu pembalasan terhadap Israel dan pasukan Amerika di seluruh Timur Tengah. Peringatan tersebut disampaikan saat Presiden AS Donald Trump memperingatkan tentang potensi serangan ke Iran terkait banyaknya korban akibat demonstrasi besar-besaran di negara itu.
Ketua Parlemen Iran, Mohammad Baqer Qalibaf, menyatakan bahwa instalasi militer serta kapal Israel dan AS di kawasan itu akan dianggap sebagai “target sah” jika Washington menyerang Republik Islam. Pernyataannya menandai peningkatan tajam karena protes nasional terus menantang teokrasi yang berkuasa di Iran.
Berbicara dalam sesi parlemen yang panas dan disiarkan langsung di televisi pemerintah Iran, Qalibaf menegaskan Teheran tidak akan menunggu untuk membalas setelah diserang, menurut laporan kantor berita. Para anggota parlemen bergegas ke podium sambil meneriakkan “Matilah Amerika!” saat ia berpidato di hadapan parlemen.
“Jika terjadi serangan terhadap Iran, baik wilayah pendudukan maupun semua pusat militer, pangkalan, dan kapal Amerika di wilayah tersebut akan menjadi target sah kami,” kata Qalibaf, menggunakan istilah Teheran untuk Israel, sebagaimana dilansir Associated Press. “Kami tidak membatasi diri pada reaksi setelah kejadian dan akan bertindak berdasarkan tanda-tanda ancaman objektif apa pun.”
Warga Iran turun ke jalan dalam protes baru semalam meskipun internet dimatikan, sementara kelompok hak asasi manusia memperingatkan pada hari Minggu bahwa pihak berwenang melakukan “pembantaian” untuk meredam demonstrasi.
Protes tersebut kini telah berkembang menjadi gerakan melawan pemerintah teokratis yang memerintah Iran sejak Revolusi 1979 dan telah berlangsung selama dua minggu.
Menurut tiga sumber Israel yang mengetahui masalah tersebut, otoritas Israel telah menempatkan pasukan mereka dalam siaga tinggi atas kemungkinan aksi militer AS di Iran. Kesiapan ini mencerminkan kekhawatiran bahwa serangan Amerika dapat dengan cepat meningkat menjadi konflik regional yang melibatkan Israel dan pasukan AS di seluruh Timur Tengah.
Presiden Trump berulang kali memperingatkan para pemimpin Iran agar tidak menggunakan kekerasan untuk menekan demonstran dan secara terbuka menyatakan dukungan terhadap gerakan protes tersebut. Pada hari Sabtu, Trump menulis di media sosial: “Iran sedang mengincar KEBEBASAN, mungkin seperti belum pernah terjadi sebelumnya. AS siap membantu!!!”
Qalibaf memuji polisi dan Garda Revolusi, termasuk pasukan sukarelawan Basij, karena “berdiri teguh” melawan kerusuhan. Ia memperingatkan para demonstran bahwa negara akan menanggapi dengan hukuman berat.
“Rakyat Iran harus tahu bahwa kami akan menindak mereka dengan cara paling keras dan menghukum mereka yang ditangkap,” ujarnya.
Kepemimpinan Iran telah memberi sinyal akan melakukan penindakan besar-besaran. Jaksa Agung Mohammad Movahedi Azad memperingatkan bahwa siapa pun yang ikut serta dalam protes — atau membantu demonstran — akan diperlakukan sebagai “musuh Tuhan,” sebuah tuduhan yang dapat dijatuhi hukuman mati menurut hukum Iran.
Meskipun pemadaman internet dan komunikasi nasional diberlakukan pada Kamis (8/1/2026), video yang beredar daring — kemungkinan ditransmisikan melalui tautan satelit — menunjukkan para pengunjuk rasa berkumpul di Teheran, Mashhad, Kerman, dan kota-kota lain. Di Mashhad, kota terbesar kedua di Iran dan lokasi makam Imam Reza, rekaman memperlihatkan puing-puing terbakar dan jalan-jalan yang diblokir saat demonstran bentrok dengan pasukan keamanan.
Protes meletus pada 28 Desember akibat runtuhnya mata uang Iran, dan sejak itu berkembang menjadi tantangan langsung terhadap kepemimpinan ulama negara tersebut. Putra Mahkota yang diasingkan, Reza Pahlavi, menyerukan kepada warga Iran untuk merebut kembali ruang publik dan berkumpul di bawah simbol-simbol nasional yang ada sebelum Revolusi Islam 1979.
Adu Raihan Medali Emas Sepakbola SEA Games Indonesia dengan Thailand, bak Bumi dan Langit!
Keputusan untuk meningkatkan eskalasi militer pada akhirnya bergantung pada Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, bahkan ketika ancaman Teheran muncul beberapa bulan setelah pertahanan udaranya rusak parah selama perang 12 hari dengan Israel. Militer AS menyatakan pasukannya di Timur Tengah tetap siaga penuh untuk membela personel, sekutu, dan kepentingan Amerika.







