Tak Hanya Lewat Lagu, Danilla Riyadi Kini Eksplorasi Seni melalui Aroma
JAKARTA, iNews.id - Musisi Danilla Riyadi memiliki cara tersendiri dalam memaknai suatu karya seni. Tak hanya melalui musik dan album yang diciptakan, Danilla juga melihat aroma parfum sebagai medium untuk menuangkan ide, perspektif, dan kreativitas.
Pandangan tersebut muncul saat Danilla terlibat dalam kolaborasi yang berkaitan dengan album Candramawa. Dia menilai proses meracik parfum memiliki kemiripan dengan proses kreatif seorang musisi ketika menyusun album, yakni sama-sama membutuhkan gagasan dan sudut pandang artistik.
"Kalau dari aku pribadi melihat Usual itu kolaborator juga, dia tuh kayak sebenarnya, cara dia bikin parfum itu sudut pandangnya tuh kayak bikin karya seni," kata Danilla saat ditemui di kawasan Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, belum lama ini.
"Terus ada beberapa ideologi Usual yang memang nyambung dan itu seperti yang biasa aku lakukan kalau bikin album," sambungnya.
Bagi pelantun lagu Senja di Ambang Pilu tersebut, kesamaan cara pandang dalam proses berkarya menjadi salah satu hal yang membuat kolaborasi itu menarik. Parfum tidak hanya dipandang sebagai produk wewangian, tetapi juga sebagai hasil eksplorasi ide yang dapat menghadirkan pengalaman berbeda bagi penikmatnya.
Di luar ketertarikannya terhadap proses kreatif, Danilla juga mengaku cukup memperhatikan aroma tubuhnya sendiri. Dia bahkan merasa risih apabila tubuhnya mengeluarkan aroma yang kurang sedap.
Menariknya, Danilla tidak terlalu mempermasalahkan aroma tubuh orang lain. Perhatiannya justru lebih tertuju pada kondisi dirinya sendiri.
"Gak sebel sih, cuma memorable aja. Sebenarnya mungkin lebih tepatnya aku sebel kalau akunya gitu yang bau gitu," ujar Danilla.
Menurut Danilla, aroma tubuh bisa menjadi sesuatu yang tidak disadari seseorang karena sudah terbiasa dengan bau yang melekat pada dirinya. Dia menceritakan percakapannya dengan Aldi, sosok yang terlibat dalam pembuatan parfum, mengenai kebiasaan seseorang yang bisa kurang menyadari aroma tubuhnya sendiri.
"Tadi ngobrol-ngobrol sama Mas Aldi tuh aku suka dia bilang, kan dia sebagai yang bikin parfum dia malah jarang pakai parfum ya, takut hidungnya tuh terbiasa gitu. Terus dia bilang, 'Makanya Ci, kadang-kadang kalau ada aroma-aroma tubuh orang yang mungkin kurang sedap gitu, dia tuh enggak ngeh karena dia sudah terbiasa dengan aroma itu.' Jadi itu kayak ya udah, itu kasual aja," tuturnya.
Meski demikian, Danilla mengaku menyukai aroma yang harum karena menurutnya memberikan kesan menyenangkan. Ketertarikan tersebut turut memengaruhi preferensinya dalam memilih parfum.
"Tapi kalau buat aku pribadi sih aku memang suka yang wangi gitu. Gimana ya, kalau wangi tuh kayak menggemaskan gitu, buat saya pribadi," kata Danilla.
Soal pilihan aroma, Danilla ternyata menyukai perpaduan karakter manis dan herbal. Namun, dia mengaku tidak mudah menemukan parfum yang mampu menggabungkan kedua elemen tersebut sesuai dengan seleranya.
"Aku suka yang agak manis. Dan aku suka yang herbal juga, tapi aku jarang nemuin parfum yang bisa nyatuin dua elemen itu. Tapi di sini dia menyatukan itu, jadi aku merasa gua dapet parfum buat gua juga nih jauh-jauh gini nih tahun ini nih gitu," sambungnya.
Bagi Danilla, perpaduan aroma manis dan herbal tersebut menjadi daya tarik tersendiri. Pengalaman itu sekaligus memperlihatkan bagaimana preferensi personal dapat bertemu dengan proses kreatif untuk menghasilkan sesuatu yang terasa dekat dengan karakter seseorang.
Melalui pandangannya terhadap parfum, Danilla menunjukkan bahwa ekspresi seni tidak harus berhenti pada musik. Aroma pun dapat menjadi medium untuk menerjemahkan gagasan dan selera menjadi pengalaman yang bisa dinikmati melalui indra penciuman.






