Penjualan Mobil Listrik Bekas China Melonjak 280, Ini Penyebabnya
JAKARTA - Penjualan mobil listrik bekas dari China melonjak hingga 280 persen di Eropa. Hal ini merupakan dari dampak dari pembatasan impor oleh Uni Eropa.
1. Penjualan Mobil Listrik Bekas Naik
Seiring kenaikan tarif untuk kendaraan listrik asal China hingga mencapai 45,3 pada 2024, konsumen Eropa yang ingin mengimpor mobil dari China dalam dua tahun terakhir beralih ke kendaraan plug-in hybrid electric vehicle (PHEV) baru serta EV bekas. Kedua kategori itu tidak dikenakan bea masuk tambahan.
Namun, tren ini kembali bergeser. Dengan diberlakukannya batasan impor baru oleh Uni Eropa, yang membatasi impor kendaraan hybrid dari China hingga 350.000 unit, konsumen kini beralih ke mobil bekas. Mobil bekas tidak terkena bea masuk tambahan sebesar 45,3 maupun batasan kuota impor untuk kendaraan hibrida.
Berdasarkan data dari China EV Marketplace (CEVM), penjualan kendaraan bekas kepada konsumen di Uni Eropa melonjak 280 secara tahunan (year-on-year) selama periode Januari–September 2026, mencapai 7.900 unit. Sementara itu, penjualan kendaraan baru justru turun 44.
“Tarif yang ada telah melemahkan permintaan terhadap BEV baru asal China di kalangan konsumen Eropa kami. Kami memperkirakan batasan impor kendaraan hybrid juga akan menekan penjualan PHEV baru,” ujar COO CEVM, Jakub Gersl, dikutip dari Car News China, Jumat (23/10/2026).
“Mobil bekas tidak dikenakan tarif tambahan untuk BEV maupun kuota baru untuk kendaraan hibrida (PHEV). Itulah sebabnya kami menjadikan kendaraan bekas sebagai fokus utama bisnis kami di Eropa,” katanya.
Saat ini, perusahaan tersebut menawarkan lebih dari 2.600 unit mobil listrik bekas di situs webnya. Perusahaan itu menawarkan mobil dari berbagai merek seperti Xiaomi, BYD, iCar, Denza, Lynk&Co, Avatr, dan lainnya.
Menurut CEVM, harga yang ditawarkan jauh di bawah harga ritel asli (MSRP) akibat persaingan yang sangat ketat di China.
“Harga mobil baru yang lebih rendah turut menekan harga mobil bekas,” ucap Gersl.
“Tim kami yang berbasis di Shanghai terus mencari peluang tersebut. Kami sering menemukan mobil dengan jarak tempuh sekitar 6.000 km yang dijual dengan harga 40 lebih rendah dari harga resmi di China,” tuturnya.
Di China, beberapa model mengalami penurunan nilai lebih dari 40 dalam kurun waktu tiga tahun. Sementara merek lain mampu mempertahankan nilainya dengan jauh lebih baik.





