Laris Manis Tanpa Insentif, Penjualan Mobil Hybrid Naik 41,9 Persen

Laris Manis Tanpa Insentif, Penjualan Mobil Hybrid Naik 41,9 Persen

Otomotif | sindonews | Jum'at, 23 Oktober 2026 - 09:00
share

Sepanjang Januari-September 2026, mobil hybrid terjual 65.968 unit, melampaui capaian setahun penuh 2025. Lonjakan itu terjadi justru setelah insentif PPnBM DTP-nya berakhir.

Data distribusi dari pabrik ke diler (wholesales) Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) menunjukkan, penjualan hybrid naik 41,9 persen dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu.

Padahal, sepanjang 2025, ketika mobil hybrid menikmati Pajak Penjualan atas Barang Mewah Ditanggung Pemerintah (PPnBM DTP) 3 persen, penjualannya hanya tumbuh 10 persen, dari 59.903 unit menjadi 65.943 unit.

Angka ini penting di tengah usulan Menteri Perindustrian Muhammad Sarmuji agar hybrid, plug-in hybrid electric vehicle (PHEV), dan range extended electric vehicle (REEV) kembali mendapat insentif. Pertanyaannya, seberapa besar insentif baru akan mengubah pasar?

Jembatan yang Tersalip

Jawabannya bisa dimulai dari perbandingan dengan mobil listrik berbasis baterai (battery electric vehicle/BEV).

Pada periode yang sama, BEV terjual 117.218 unit, melesat sekitar 112 persen dibandingkan dengan Januari-September 2025 yang masih 55.225 unit. Angka ini setara 17,26 persen dari total wholesales 679.020 unit.

PHEV tumbuh paling kencang meski dari basis kecil. Penjualannya meroket 209,5 persen, dari 3.316 unit menjadi 10.264 unit. BYD M6 DM menyumbang 5.121 unit atau hampir separuhnya.Peta ini berbalik total dalam tiga tahun. Pada 2023, hybrid terjual 52.568 unit dan menguasai 75,4 persen pasar elektrifikasi, sedangkan BEV baru 17.058 unit. Setahun kemudian, hybrid mencapai 59.903 unit dan BEV 43.188 unit.

Pada 2025, BEV menyalip dengan 103.931 unit, naik 141 persen. PHEV melonjak dari 136 unit menjadi 5.270 unit seiring masuknya model-model asal China. Total mobil elektrifikasi 2025 mencapai 175.144 unit atau 21,79 persen dari pasar 803.687 unit.

Tahun ini porsinya meluas. Gabungan BEV, hybrid, dan PHEV sepanjang Januari-September 2026 mencapai 193.450 unit atau 28,5 persen pasar.

Mobil nonelektrifikasi memang masih bertambah sekitar 6 persen secara unit, tetapi porsinya menyusut dari sekitar 81 persen menjadi 71,5 persen.

Satu Model Penopang

Namun, pertumbuhan hybrid tahun ini tidak merata. Sebagian besar ditopang satu model baru, yakni Toyota Veloz Hybrid yang mulai dikirim Februari 2026 dengan harga perdana Rp299 juta.

Veloz Hybrid terdistribusi 18.106 unit hingga September. Bersama Kijang Innova Zenix Hybrid yang terjual 20.215 unit, keduanya menguasai sekitar 58 persen pasar hybrid.Jika Veloz Hybrid dikeluarkan dari hitungan, penjualan hybrid lain hanya sekitar 47.900 unit, nyaris sama dengan capaian Januari-September 2025.

Artinya, yang mendorong pasar adalah harga yang terjangkau, bukan sekadar teknologi. Ketua I Gaikindo Jongkie Sugiarto menyebut segmen yang tumbuh adalah mobil di bawah Rp300 juta.

”Yang meningkat penjualannya adalah segmen dengan harga di bawah Rp300 juta, dan banyak BEV-nya,” kata Jongkie, awal Oktober.

Harga BBM menjadi pendorong lain. Ketua Umum Gaikindo Putu Juli Ardika menyebut kenaikan penjualan mobil penumpang 10 persen tahun ini lebih banyak didorong produk irit bahan bakar. ”Harga bahan bakar sudah tinggi,” ujar Putu di Jakarta, Rabu (21/10/2026).

Laju bulanan memperlihatkan arah yang sama. Pada September 2026, hybrid terjual 7.928 unit, naik dari 7.667 unit pada Agustus. Sebaliknya, PHEV merosot 34 persen menjadi 1.278 unit, sedangkan BEV turun dari rekor 17.417 unit pada Agustus menjadi 16.043 unit.

Jika Insentif Cair

Lalu, bagaimana proyeksinya? Hitungan sederhana redaksi memakai laju rata-rata kuartal III 2026. Dengan sekitar 7.870 unit per bulan, hybrid berpotensi menutup 2026 di kisaran 89.600 unit atau naik 36 persen. Dengan laju sekitar 15.800 unit per bulan, BEV berpotensi mencapai 164.600 unit atau naik 58 persen.Insentif baru hampir pasti tidak banyak mengubah angka tahun ini. Sarmuji sendiri mengakui pelaksanaannya bisa bergeser ke awal 2027. Dampaknya akan bergantung pada tiga hal yang terekam dari kebijakan sebelumnya.

Pertama, besaran potongan. PPnBM DTP 3 persen pada 2025 hanya memangkas sekitar Rp9 juta untuk mobil seharga Rp300 juta, dan hybrid tumbuh 10 persen di tengah pasar yang lesu.

Sebagai pembanding, relaksasi PPnBM DTP 100 persen untuk mobil di bawah 1.500 cc pada 2021 membuat penjualan kelompok itu naik 31,34 persen pada semester I dibandingkan dengan 2020 yang tertekan pandemi.

Sementara itu, PPN DTP 10 persen untuk BEV sejak 2023, ditambah pembebasan bea masuk mobil impor, ikut mengantar penjualannya dari 17.058 unit menjadi 103.931 unit dalam dua tahun.

Kedua, insentif nonfiskal. Bebas ganjil genap terbukti menjadi magnet. Pada April 2025, Sekretaris Umum Gaikindo Kukuh Kumara menyebut sebagian pembeli BEV mungkin hanya ingin menghindari ganjil genap.Ketiga, ketersediaan model murah dan produksi lokal. Kasus Veloz Hybrid menunjukkan pasar bergerak saat harga menembus batas Rp300 juta.

Dengan simulasi kasar, jika hybrid hanya tumbuh seperti 2025, penjualan 2027 berada di kisaran 98.500 unit. Jika insentif mampu menjaga laju 2026, angkanya bisa mendekati 121.600 unit, masih di bawah volume BEV tahun ini.

Di sisi lain, sejumlah pihak menilai pasar hybrid tidak lagi membutuhkan dorongan. Pada GIIAS 2026, Jumat (7/8/2026), Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menilai pertumbuhan hybrid sudah positif sehingga tambahan insentif belum menjadi prioritas.

Head of Industrial and Transport Decarbonization INDEF Green Transition Initiative (INDEF GTI) Andry Satrio Nugroho mengingatkan risiko lain. Jika insentif hybrid terbit lebih dulu, selisih harga dengan BEV menyempit. ”Pembeli yang tadinya siap beralih ke mobil listrik bisa kembali memilih kendaraan yang masih bergantung pada BBM,” ujar Andry, Rabu (21/10/2026).

Data penjualan memberi pesan yang lugas. Tanpa insentif pun hybrid tumbuh, asalkan harganya terjangkau dan BBM mahal.

Topik Menarik