Lebih Mahal Tak Jadi Soal, Jetour Hibrida Colok Kuasai 70 Persen Penjualan
Konsumen Jetour di Indonesia rela membayar Rp100 juta hingga Rp150 juta lebih mahal demi versi hibrida colok (Plug-in Hybrid EV). Pada September 2026, Jetour T1 i-DM dan T2 i-DM menyumbang 288 dari 411 unit penjualan ritel jenama asal China itu, atau sekitar 70 persen.
Penjualan ritel tersebut naik 17 persen dibandingkan dengan Agustus yang masih 351 unit. T1 i-DM menjadi penyumbang terbesar dengan 150 unit, disusul T2 i-DM sebanyak 138 unit.
Padahal, selisih harganya tidak kecil. T1 bermesin bensin dibanderol Rp408 juta, sedangkan T1 i-DM Rp558 juta.
Di Jakarta, T2 dipatok Rp588 juta, sementara T2 i-DM dijual Rp688 juta.
Bensin tergeserData Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) menunjukkan arah serupa. Sepanjang Januari-September 2026, distribusi T1 i-DM mencapai 447 unit.
Model ini menempati peringkat keempat mobil hibrida colok (plug-in hybrid electric vehicle/PHEV) terlaris.
T2 i-DM baru meluncur di Gaikindo Indonesia International Auto Show (GIIAS) 2026 pada akhir Juli. Meski begitu, model ini sudah mengisi peringkat ke-10 dengan 184 unit. Di pameran itu, Jetour mengantongi 1.038 surat pemesanan kendaraan.
Angka ini menandai pergeseran cepat. Sepanjang Januari–Mei 2026, tulang punggung Jetour masih T2 bermesin bensin, yakni 1.018 unit atau 83 persen dari total distribusi 1.233 unit.
Kedua model i-DM memakai baterai 18,4 kWh. T1 i-DM diklaim mampu melaju 100 km hanya dengan listrik. Adapun jarak tempuh gabungan T2 i-DM diklaim lebih dari 1.200 km.Marketing Director PT Jetour Sales Indonesia Moch Ranggy Radiansyah mengakui perubahan selera itu. ”Dalam satu bulan, T1 i-DM dan T2 i-DM menyumbang sekitar dua pertiga dari total retail sales kami,” ujarnya, Jumat (9/10/2026).
Panggung di China
Tren tersebut sejalan dengan langkah induknya. Pada 20–23 Oktober 2026, Jetour menggelar Global Technology Experience Day bertema ”Future Travel Starts Now” di Wuhu, Provinsi Anhui, serta Moganshan dan Xiazhu Lake, Provinsi Zhejiang.
Di sana, Jetour memamerkan sistem C-DM Super Hybrid dan penggerak empat roda XWD. Jenama itu juga membawa arsitektur GAIA untuk jalur pegunungan, jalan berbatu, hingga menyeberangi air.
Hingga September 2026, penjualan kumulatif global Jetour mencapai 2,56 juta unit di lebih dari 100 negara dan wilayah.Jetour berdiri pada 2018 dengan strategi ”Travel+”. Jenama ini mengklaim memuncaki penjualan kendaraan olahraga serbaguna (sport utility vehicle/SUV) bergaya kotak di 13 negara. Jetour kini merambah pasar berstandar tinggi, seperti Eropa, Australia, dan Selandia Baru.
”Kami ingin menunjukkan bagaimana inovasi teknologi Jetour dapat dirasakan secara langsung dalam berbagai kondisi perjalanan, mulai dari mobilitas sehari-hari hingga eksplorasi alam,” kata Ranggy, Senin (19/10/2026).
Di sisi lain, skala Jetour di pasar PHEV nasional masih kecil. Sepanjang Januari–September 2026, pasar ini meroket 209,5 persen menjadi 10.264 unit. Setahun sebelumnya, angkanya masih 3.316 unit. BYD M6 menempati posisi puncak dengan 5.121 unit, lebih dari 11 kali lipat capaian T1 i-DM.



