Satu Telepon, Delapan Bulan: Porsche Menyiapkan Hypercar di Atas 911
Satu panggilan telepon delapan bulan lalu kini berujung pada Porsche Mission S, konsep hypercar yang disiapkan duduk di atas 911 dan menjadi pusat strategi bisnis baru Porsche.
Panggilan itu datang dari Michael Leiters, CEO yang memimpin dewan direksi Porsche AG sejak Januari.
Lawan bicaranya, Tobias Sühlmann, baru menjabat kepala desain sejak Februari. Keduanya sama-sama pendatang baru dan bertukar gagasan tentang mobil di puncak lini Porsche. Setelah itu, Sühlmann mengumpulkan timnya.
Ia memulai dari Museum Porsche untuk memahami kelahiran dan evolusi gaya merek itu.
”Saya terinspirasi banyak mobil, bukan hanya 911. Saya suka 928, Carrera GT, 964, 550, 917,” ujarnya. Tim lalu bekerja bersama bagian rekayasa dan aerodinamika.”Setiap elemen adalah tantangan,” kata Sühlmann.
Ia menyebut Mission S sebagai patung desain tentang masa depan mobil bermesin tengah Porsche.
Meski masih konsep, ia hanya mau menggarap elemen yang mungkin masuk produksi. Contohnya lampu belakang berbilah aero yang kembar dengan bagian depan.
Di kabin, kunci fisik dikembalikan di sisi kiri setir. Karakter interior sengaja condong analog: panel instrumen memadukan jarum dan layar, dengan penghitung putaran mesin di tengah.
Saat mode di setir diganti, penghitung itu maju ke depan pengemudi dan indikator lain mundur. Pelek meniru gaya ”telephone wheel” pada 928 dan 944. ”Sederhana, bersih, tetapi fungsional,” kata Sühlmann.Ia membawa pengalaman lebih dari 20 tahun di Volkswagen, Aston Martin, Bugatti, dan terakhir sebagai kepala desain McLaren. Karyanya mencakup Arteon, Touareg, V12 Speedster, hingga Solus GT. Di garasinya ada 911 generasi 992 dan Taycan.
Mengejar Nilai, Bukan Jumlah
Mission S bagian dari strategi Sportwagenschmiede ’35 yang menargetkan satu produk baru tiap tahun.
Leiters menyatakan turunan 911 akan bertambah, tetapi tidak ada yang listrik murni.
Saudara Macan bermesin bakar sekaligus plug-in hybrid disiapkan pada 2028. Porsche juga menyiapkan SUV tujuh penumpang di atas Cayenne dengan arsitektur Audi Premium Platform Combustion, yang melahirkan Audi Q9.Arah bisnisnya ”value over volume”. Matthias Becker, anggota direksi bidang penjualan dan pemasaran, menilai potensi terbesar ada di bisnis kelas atas.
Buktinya, daya tetapkan harga naik 29 persen dari Carrera ke GTS, 53 persen lagi ke GT3, dan 95 persen lagi ke GT3 S/C. Ia memperkirakan lonjakan berikutnya lebih besar.
Lini personalisasi ikut mengisi kantong. Paket Manthey berharga lebih dari Rp1,79 miliar (USD100.000).
Cayman GT4 RS yang diuji penulis memakai perlengkapan Manthey senilai Rp1,07 miliar (USD60.000).
Porsche juga merestorasi Carrera lama di atas sasis modern dalam seri terbatas: 11 unit selesai, 16 dalam produksi, dan 21 menunggu.
Biaya restorasinya saja Rp8,95 miliar hingga Rp14,05 miliar (USD500.000–785.000). Ada pula mobil sekali buat seperti Flachbau RS, dan 15 proyek lain senilai Rp32,22 miliar hingga Rp268,5 miliar (USD1,8 juta–15 juta).Makin tinggi kelasnya, makin besar lompatan harganya. Dari situ, Mission S tampak bukan sekadar pameran desain, melainkan jangkar harga bagi seluruh piramida produk Porsche.



