Dunia SUV Makin Bongsor, tapi Jimny Tetap Punya Penggemar Fanatik

Dunia SUV Makin Bongsor, tapi Jimny Tetap Punya Penggemar Fanatik

Otomotif | sindonews | Senin, 12 Oktober 2026 - 08:58
share

Harganya sudah hampir Rp500 juta. Mesinnya hanya 1.462 cc. Sama dengan yang digunakan Suzuki Ertiga. Bentuknya tetap kotak, seperti kardus sepatu. Tapi Suzuki Jimny tetap dicari orang.

Aneh? Tidak juga.

Tren SUV sekarang bergerak ke arah lain. Bodinya makin bongsor, desainnya makin futuristis, layarnya makin lebar, dan teknologinya makin rumit.Jimny tidak ikut arus. Ia tetap kotak dan ringkas. Rodanya tetap mepet di sudut bodi. Tetap 4x4. Itulah identitasnya. Dari jauh pun orang tahu: itu Jimny.

Generasi pertamanya lahir tahun 1970. Kini sudah generasi keempat, yang lahir 2018. Jimny generasi ini pertama kali hadir di Indonesia pada 2019. Teknologinya sudah jauh berbeda dari nenek moyangnya. Material juga. Tapi siluetnya masih sama. "Suzuki Jimny merupakan model kendaraan legendaris dengan sentuhan original dan karakter yang sederhana, lugas, dan desain yang berjiwa energik," ujar Donny Saputra, Deputy Managing Director PT Suzuki Indomobil Sales (SIS).

Desain boxy, sasis ladder frame, penggerak 4WD dengan low range, dan suspensi rigid axle justru jadi keunggulan Jimny yang banyak dicari. Foto: SISDi generasi keempat, Suzuki sengaja menjaga empat hal: desain boxy, sasis ladder frame, penggerak 4WD dengan low range, dan suspensi rigid axle.

Keempatnya bisa disebut "kuno". Justru keempatnya yang menjadi alasan orang membeli.

Soal mesin, Jimny memakai mesin bensin 1.462 cc empat silinder, dengan tenaga 102 PS atau setara 100 hp di 6.000 rpm dan torsi puncak 130 Nm di 4.000 rpm. Angka yang biasa saja untuk mobil seharga hampir setengah miliar. Fiturnya sudah modern. Versi tiga pintu maupun lima pintu sudah dibekali enam airbag, ESP, Hill Hold Control, Hill Descent Control, ABS, EBD, Brake Assist, kamera belakang, dan sensor parkir belakang.

Varian 5 pintu memberikan fleksibilitas bagi konsumen untuk membawa lebih banyak orang dan bawaan. Foto: SIS

Lalu datang versi lima pintu. Panjangnya 3.965 mm, atau 315 mm lebih panjang dari versi tiga pintu. Lebar dan tingginya sama. Jarak sumbu rodanya 340 mm lebih panjang. Konsekuensinya: radius putar versi lima pintu 5,7 meter, sementara tiga pintu cukup 4,85 meter. Rem depan lima pintu sudah ventilated disc, sedangkan tiga pintu masih solid disc. Bagasinya 211 liter, dengan sudut serang 36 derajat dan sudut buang 47 derajat. Harganya, OTR Jakarta per September 2026:

Jimny 3-Door Single Tone AT: Rp470.500.000 Jimny 3-Door Two Tone AT: Rp473.500.000 Jimny 5-Door Single Tone MT: Rp474.800.000 Jimny 5-Door Two Tone MT: Rp477.800.000 Jimny 5-Door Single Tone AT: Rp492.700.000 Jimny 5-Door Two Tone AT: Rp495.700.000 Di luar Jakarta lebih mahal lagi. Di Surabaya, Jimny lima pintu varian tertentu tercatat Rp531 juta–Rp534 jutaan. Sekarang coba bandingkan. Dengan uang Rp470 juta, orang bisa membawa pulang SUV tujuh penumpang yang lebih besar, lebih lega, dan lebih banyak layarnya. Di atas kertas, Jimny kalah.Harganya pun terus bergerak naik. Januari lalu, Jimny lima pintu Single Tone AT masih Rp488,5 juta dan Dual Tone AT Rp491,5 juta. September ini keduanya naik Rp4,2 juta. Hanya varian manual yang tidak bergerak. Maka yang membeli Jimny memang bukan orang yang sedang berhitung.

Di sinilah bedanya mobil biasa dengan mobil berkarakter. Orang yang membeli karena fungsi gampang pindah ke lain hati begitu ada produk yang lebih murah atau lebih canggih. Orang yang membeli karena rasa, hitungannya lain. Lebih rumit.

Jimny dapat digunakan untuk offroad, tapi tetap praktis untuk pemakaian harian. Foto: SIS

Pemakaian Jimny pun beragam. Ada yang membawanya off-road. Ada yang memakainya harian. Ada yang menyimpannya sebagai koleksi. Jimny generasi lama pun masih punya tempat di kalangan penghobi.

Lalu muncullah komunitas.Salah satunya Suzuki Katana Jimny Indonesia, atau SKIn. Awalnya hanya kumpul-kumpul di Surabaya sejak 10 November 2001. Mereka kopdar tiap malam Minggu di depan BRI Tower, jam 10 malam. Sekarang, menurut data di situs komunitas itu, anggotanya hampir 1.800 orang, dengan 24 pengurus daerah dan 147 chapter.

Angka itu tentu tidak bisa dipakai untuk mengukur seluruh penggemar Jimny di Indonesia. Tapi jaringan lintas daerah sebesar itu menunjukkan satu hal: Jimny tidak berhenti di showroom. Ada touring, off-road, restorasi, modifikasi, jual beli komponen, atau sekadar ngopi bareng.

Komunitas juga tidak membiarkan Jimny tetap standar. Ada yang dibuat retro. Ada yang direstorasi. Ada yang dijadikan monster off-road. Ada yang dibuat lebih modern.

Desain dasarnya cukup kuat untuk menjadi kanvas. Satu mobil bisa punya banyak wajah tanpa kehilangan jati dirinya.

Tapi, justru di situlah pelajarannya. Heritage bukan berarti membekukan mobil persis seperti waktu pertama lahir. Heritage adalah fondasi untuk interpretasi baru.

Tapi itu juga dilema terbesar produsen. Kalau terlalu sedikit berubah, mobil dianggap ketinggalan zaman. Kalau terlalu banyak berubah, penggemar lama merasa kehilangan.

Jimny memilih jalan tengah: berubah di dalam, bertahan di luar. Kotak itu ternyata bukan kekurangan. Kotak itu justru jualannya.

Topik Menarik