F1 Singapura Digelar Malam Hari, Teknologi Lampu Hadapi Tantangan Kabut Asap

F1 Singapura Digelar Malam Hari, Teknologi Lampu Hadapi Tantangan Kabut Asap

Otomotif | sindonews | Kamis, 8 Oktober 2026 - 14:57
share

Gemerlap lampu menjadi bagian tak terpisahkan dari Formula 1 Singapore Grand Prix. Berbeda dengan mayoritas seri Formula 1 yang berlangsung pada siang atau sore hari, balapan di Marina Bay Street Circuit digelar pada malam hari dengan latar belakang gedung-gedung pencakar langit Singapura.

Namun di balik pertunjukan cahaya tersebut terdapat sistem pencahayaan yang dirancang khusus untuk memastikan pembalap tetap dapat melihat lintasan dengan jelas saat melaju dengan kecepatan tinggi.

Salah satu perusahaan yang berada di balik sistem pencahayaan tersebut adalah Signify, perusahaan teknologi pencahayaan global yang memasok sistem lampu untuk Marina Bay Street Circuit.

Pada gelaran Formula 1 2026, balapan utama dijadwalkan berlangsung pada Minggu, 11 Oktober pukul 20.00 waktu Singapura. Seri ini menjadi balapan ke-17 dalam kalender Formula 1 musim 2026 sekaligus kembali mempertahankan karakter khas Singapura sebagai balapan malam. (Reuters)

Signify bersama DZ Engineering (DZE) menangani sistem pencahayaan trek. Berdasarkan data Signify, sekitar 1.600 lampu sorot Philips ArenaVision LED gen3.5 dipasang di sepanjang lintasan Marina Bay yang memiliki panjang sekitar 5 kilometer.

Pemasangannya bukan pekerjaan sederhana. Karena Marina Bay merupakan street circuit yang bersifat temporer, sistem pencahayaan harus dipasang dari awal setiap tahun. Infrastruktur tersebut mencakup lebih dari 1.600 floodlight dan sekitar 220 kilometer kabel. (Signify Deutschland)

3.000 lux, empat kali lebih terang dari stadion

Lampu sorot terpasang di atas trek Marina Bay Street Circuit, Singapura. Intensitas pencahayaan trek rata-rata sekitar 3.000 lux, atau empat kali lebih terang dibandingkan stadion olahraga pada umumnya. Foto: Andry Susanto/SINDOnews

Kebutuhan pencahayaan di Formula 1 berbeda dengan arena olahraga biasa.Mobil F1 dapat melaju lebih dari 300 kilometer per jam. Karena itu, bukan hanya tingkat kecerahan yang menjadi perhatian, tetapi juga konsistensi pencahayaan sepanjang lintasan.

Signify menyebut lampu ditempatkan pada interval strategis dan setiap unit diatur berdasarkan lokasi, arah serta sudut pancar. Tujuannya menghilangkan bayangan dan mengurangi glare yang dapat mengganggu pandangan pembalap.

Sistem pencahayaan tersebut dirancang menyerupai kondisi cahaya alami dengan temperatur warna sekitar 5.700 Kelvin dan color rendering index (CRI) 90.

Mercedes-AMG PETRONAS F1 Team menyebut Marina Bay membutuhkan sekitar 1.600 floodlight khusus. Intensitas pencahayaan trek rata-rata mencapai sekitar 3.000 lux, atau sekitar empat kali lebih terang dibandingkan stadion olahraga pada umumnya. (Mercedes-AMG PETRONAS F1 Team)

Yang menarik, Signify menyebut keseragaman cahaya justru lebih penting daripada sekadar membuat trek semakin terang. Perubahan intensitas cahaya yang terlalu besar dapat menyulitkan pembalap memperkirakan kecepatan maupun jarak dengan mobil lain. (Signify Deutschland)

Teknologi LED juga dibuat untuk kebutuhan siaran televisi

Pencahayaan F1 tidak hanya berkaitan dengan keselamatan pembalap.

Balapan malam harus dapat ditangkap kamera televisi dengan kualitas tinggi. Karena itu, sistem Signify dirancang dengan pencahayaan yang konsisten serta memenuhi kebutuhan standar penyiaran televisi, termasuk pengendalian glare dan visible flicker. (Signify Deutschland)Hasilnya, mobil yang melaju dalam kecepatan tinggi tetap terlihat jelas kamera, sementara latar belakang skyline Singapura tetap menjadi bagian dari visual balapan.

Teknologi ini sekaligus membuat Formula 1 Singapura memiliki karakter visual yang berbeda dibandingkan balapan siang hari.

Lebih terang bukan berarti lebih boros

Teknologi LED yang digunakan di Marina Bay juga membawa aspek efisiensi energi.

Menurut Signify, penggunaan Philips ArenaVision LED gen3.5 yang menggantikan sistem metal-halide sebelumnya sejak 2023 mampu mengurangi konsumsi listrik untuk pencahayaan sirkuit hingga 30 persen.

Lampu tersebut juga menggunakan pancaran cahaya yang sangat terarah sehingga mengurangi spill light, glare dan sky glow. Dengan demikian, cahaya lebih banyak diarahkan ke area yang memang membutuhkan penerangan, bukan menyebar ke langit dan lingkungan sekitar. (Signify Deutschland)

Tantangan baru: kabut asap

Teknologi pencahayaan tersebut kini menghadapi tantangan lain.Menjelang F1 Singapura 2026, kualitas udara di Singapura memburuk akibat kabut asap lintas batas yang berasal dari kawasan yang mengalami kebakaran di Sumatra dan Kalimantan.

Badan Lingkungan Nasional Singapura atau National Environment Agency (NEA) pada 7 Oktober melaporkan konsentrasi PM2.5 selama satu jam berada pada level 71–136 mikrogram per meter kubik, sementara indeks PSI 24 jam berada pada kisaran 105–140 atau kategori tidak sehat. NEA juga memperkirakan kabut asap dapat terus bergerak menuju Singapura akibat angin dari tenggara hingga selatan. (National Environment Agency)

Pada 8 Oktober, kondisi bahkan masih berada di kategori tidak sehat di seluruh wilayah Singapura. Data yang dilaporkan The Straits Times pada pukul 10.00 menunjukkan PSI 24 jam berada pada kisaran 112 hingga 160 di berbagai wilayah. (The Straits Times)

Kondisi tersebut menjadi tantangan tersendiri bagi sebuah balapan yang mengandalkan visibilitas tinggi pada malam hari.

Secara teknis, partikel kabut asap dapat menyebabkan cahaya mengalami hamburan sehingga sumber cahaya yang sangat terang berpotensi menghasilkan efek glare dan menurunkan kontras objek di kejauhan. Karena itu, persoalannya bukan sekadar seberapa terang lampu, tetapi bagaimana cahaya diarahkan secara presisi dan tetap menghasilkan pencahayaan yang seragam.

Di sinilah desain sistem pencahayaan Marina Bay menjadi penting.

Lampu Signify menggunakan pancaran yang sangat terarah dan ditempatkan dengan sudut tertentu untuk mengurangi glare serta menjaga keseragaman pencahayaan di permukaan trek. Namun, teknologi lampu tidak menghilangkan kabut asap; kondisi atmosfer tetap menjadi faktor eksternal yang harus dipantau oleh penyelenggara dan otoritas.

Singapore GP sendiri telah memiliki rencana kontingensi untuk menghadapi kemungkinan kabut asap. Penyelenggara menyatakan akan bekerja sama dengan lembaga terkait apabila kondisi kabut asap mulai memengaruhi visibilitas, kesehatan publik maupun operasional acara. (CNA)FIA dan penyelenggara juga memiliki mekanisme untuk menilai kondisi selama akhir pekan balapan. Dengan demikian, apabila kondisi udara memburuk secara signifikan, keputusan tidak hanya mempertimbangkan performa pencahayaan tetapi juga keselamatan pembalap, kru dan penonton.

Balapan malam yang bergantung pada teknologi

Formula 1 Singapura pada akhirnya menunjukkan bahwa balapan malam bukan hanya soal estetika.

Di balik sorotan lampu dan skyline Marina Bay terdapat sistem pencahayaan yang harus memenuhi tiga tuntutan sekaligus: keselamatan pembalap, kebutuhan produksi televisi, dan efisiensi energi.

Lebih dari 1.600 lampu LED bekerja menerangi sirkuit sepanjang hampir lima kilometer, dengan sistem yang dirancang agar cahaya merata dan tidak menyilaukan pembalap.

Dan pada 2026, teknologi tersebut harus berhadapan dengan tantangan tambahan berupa kabut asap yang sedang menyelimuti Singapura.

Di lintasan, mobil Formula 1 akan tetap melaju dalam kecepatan lebih dari 300 kilometer per jam. Sementara di atasnya, ribuan lampu akan memastikan jalan mereka tetap terlihat.

Sebuah balapan yang berlangsung dalam gelap, tetapi bergantung sepenuhnya pada presisi cahaya.

Topik Menarik