Membedah Ongkos Jualan Online 2026: Lapisan Biaya yang Menggerus Margin Brand Lokal

Membedah Ongkos Jualan Online 2026: Lapisan Biaya yang Menggerus Margin Brand Lokal

Otomotif | sindonews | Kamis, 24 September 2026 - 14:04
share

Pertanyaan paling mendasar bagi pemilik toko daring sebenarnya sederhana: yakni berapa besar bagian dari omzet yang benar-benar sampai ke rekening bisnis. Sebagian besar pelaku usaha menjawabnya dengan menyebut angka komisi. Padahal komisi hanya satu dari beberapa komponen yang memotong hasil penjualan.

Pribadi Hasto Kusumo, Head of SME Business DOKU, menyarankan pelaku usaha memakai ukuran yang lebih menyeluruh. "Menurut saya, jangan hanya melihat komisi. Yang lebih relevan adalah take rate efektif, yaitu total biaya yang benar-benar mengurangi hasil penjualan," ujarnya dalam wawancara khusus dengan SINDOnews.

Hasto merinci komponen yang membentuk take rate efektif tersebut. "Biasanya ada beberapa lapisan: biaya administrasi atau komisi, biaya program seperti promo dan gratis ongkir, biaya per pesanan, biaya iklan, serta biaya metode pembayaran atau cicilan," katanya.

Ia menegaskan bahwa seluruh komponen itu bukan biaya tersembunyi. Persoalannya terletak pada cara komponen tersebut disajikan.

"Semua biaya tersebut sebenarnya transparan dan diumumkan oleh platform. Masalahnya, biaya itu tersebar di beberapa komponen sehingga brand sering hafal komisinya, tetapi tidak mengetahui berapa sebenarnya biaya kanal secara keseluruhan," ujar Hasto.Selisih tersebut, menurut dia, tidak selalu terasa pada bisnis bermargin lebar. Namun bagi sebagian besar pelaku usaha kecil dan menengah, dampaknya menentukan. "Untuk bisnis dengan margin terbatas, perbedaan itu bisa sangat signifikan," katanya.

Besaran tiap komponen dapat diperiksa secara terbuka. Berdasarkan pembaruan per Mei 2026, biaya administrasi di Shopee dibedakan menurut status toko dan kategori produk. Seller Shopee Mall dikenakan biaya pada kisaran 2,5 persen hingga 11,7 persen, sedangkan seller Star, Star Plus, dan Non-Star berada pada kisaran 2,5 persen hingga 10 persen.

Angka tersebut belum mencakup biaya proses pesanan, biaya layanan program, biaya iklan, serta program gratis ongkir tambahan.

Tokopedia dan TikTok Shop menerapkan empat komponen utama biaya bagi penjual, dengan biaya komisi platform berdasarkan kategori produk berkisar 4,25 persen hingga 10 persen.

Adapun penyesuaian tarif Gratis Ongkir XTRA Shopee per 2 Mei 2026 menaikkan tarif layanan kategori fashion dan logam mulia ukuran biasa dari 1,5 persen menjadi 2 persen, serta kategori tambahan fashion ukuran biasa dari 5,5 persen menjadi 7,5 persen per transaksi. Ketika diminta memberikan perbandingan konkret, Hasto menyebut akumulasi biaya di marketplace berada pada rentang dua digit."Sangat transparan dan bisa dicek publik. Di marketplace, estimasi akumulasi biayanya bisa mencapai rentang belasan persen per pesanan, dan itu berpotensi terus disesuaikan," ujarnya. Ia kemudian membandingkannya dengan struktur biaya kanal mandiri melalui payment gateway.

"Di DOKU, biayanya tetap: misalnya QRIS hanya 0,7 persen, dompet digital sekitar 1,5 sampai 4 persen, atau transfer bank melalui Virtual Account Rp4.000 flat per transaksi, semua tanpa biaya instalasi dan biaya bulanan," kata Hasto.

Skema Virtual Account yang bersifat nominal tetap memiliki karakter berbeda dari skema persentase. Pada transaksi senilai Rp100.000, biaya Rp4.000 setara dengan 4 persen.

Pada transaksi Rp1 juta, porsinya turun menjadi 0,4 persen. Pada transaksi Rp5 juta, porsinya tinggal 0,08 persen. Dengan kata lain, semakin besar nilai pesanan, semakin kecil proporsi biaya yang ditanggung.

Meski perbandingan tarif tersebut mencolok, Hasto justru mengingatkan agar pelaku usaha tidak membacanya secara mentah. Ada satu variabel yang berpindah tempat ketika brand membangun kanal sendiri. "Kalau membandingkan biaya per transaksi kotor, DOKU jelas jauh lebih efisien. Tapi kita harus jujur pada metrik bisnisnya: di kanal mandiri, beban pemasaran ditanggung brand," ujarnya. Di marketplace, biaya mendatangkan pembeli sudah menyatu dalam komisi yang dibayarkan penjual. Trafik, kepercayaan konsumen, dan ekosistem pemasaran telah tersedia. Di kanal mandiri, seluruh beban itu berpindah ke pundak brand.

Namun menurut Hasto, beban tersebut memiliki nilai balik yang berbeda. "Keuntungannya, investasi pemasaran ini dapat dikalkulasi ke nilai hidup pelanggan atau Customer Lifetime Value," katanya. Dari situ ia menarik kesimpulan yang membagi peran kedua kanal secara tegas. "Artinya, untuk pelanggan baru, marketplace bisa jadi lebih efisien. Tapi untuk merawat pelanggan lama, kanal mandiri secara absolut lebih menguntungkan," ujar Hasto.

Pembagian peran itulah yang menurut dia paling sering luput dari perhitungan pelaku usaha. Komisi yang dibayarkan untuk memperoleh pelanggan baru merupakan biaya akuisisi yang wajar. Persoalan muncul ketika komisi dengan besaran sama terus dibayarkan untuk pelanggan yang sudah lama mengenal produk.

"Marketplace sangat efisien untuk pekerjaan mengakuisisi pelanggan baru. Yang membebani margin adalah ketika brand terus membayar komisi untuk pelanggan lama yang sebenarnya sudah loyal. Jadi, tarik pelanggan lama Anda ke kanal mandiri," kata Hasto.

Isu transparansi biaya ini juga menjadi perhatian pemerintah. Kementerian Perdagangan tengah memfinalisasi revisi Peraturan Menteri Perdagangan Nomor 31 Tahun 2023 yang mewajibkan platform perdagangan elektronik memerinci seluruh komponen biaya yang dibebankan kepada mitra penjual."Jadi platform harus transparan ya di dalam pengenaan biaya, biaya admin, atau biaya apa pun," kata Menteri Perdagangan Budi Santoso pada Mei 2026.

Kendati demikian, kewajiban keterbukaan di sisi platform tidak dengan sendirinya membuat pelaku usaha melakukan perhitungan. Langkah tersebut tetap harus dimulai dari internal masing-masing bisnis, yaitu dengan menjumlahkan seluruh potongan pada laporan penjualan periode berjalan, kemudian membandingkannya dengan omzet kotor.

Hasil pembagian itulah yang disebut Hasto sebagai take rate efektif. Angka tersebut, menurut dia, menjadi dasar paling rasional sebelum sebuah brand memutuskan untuk menambah kanal penjualan atau tidak.

Topik Menarik