Mobil ke-100.000 Buatan Subang: Wuling Butuh 5,5 Tahun, BYD Cuma 26 Bulan

Mobil ke-100.000 Buatan Subang: Wuling Butuh 5,5 Tahun, BYD Cuma 26 Bulan

Otomotif | sindonews | Jum'at, 4 September 2026 - 21:15
share

Mobil BYD ke-100.000 di Indonesia resmi diproduksi. Bukan didatangkan (CBU). Diproduksi. Di Subang. Kamis, 3 September 2026. Di hari yang sama pabriknya diresmikan.

Butuh 2 tahun 2 bulan bagi BYD sampai ke angka 100.000 unit di Indonesia. Wuling butuh 5,5 tahun untuk angka yang sama.

BYD mulai mengirim mobil ke konsumen Indonesia pada Juli 2024. Bulan itu 2.047 unit. Sepanjang 2024 (6 bulan), wholesales-nya 15.429 unit, ritel 13.964 unit.

2025 meledak. Wholesales 46.711 unit, ritel 44.342 unit. Naik 217,5 persen. Peringkat 6 nasional. Mengalahkan Chery, Wuling, dan Hyundai yang semuanya lebih dulu datang.

Januari-Juli 2026: wholesales 29.826 unit, naik 81,6 persen dari 16.427 unit di periode sama 2025. Ritel 28.428 unit. Peringkat 5. Di atas Honda.

Total wholesales merek BYD sejak 2024 sampai Juli 2026: 91.966 unit. Ditambah Denza, sub-merek premiumnya yang menyumbang 7.474 unit sepanjang 2025, angka 100.000 itu tercapai.

Sepuluh Besar Pabrikan Mobil di Juli 2026

Bulan lalu adalah potret paling jelas dari pergeseran itu. Total wholesales nasional Juli 2026: 81.115 unit, naik 4,5 persen dari Juni dan melonjak 33,3 persen dibanding Juli 2025 yang 60.837 unit. Ritel 77.412 unit, naik 3,6 persen bulanan dan 23,1 persen tahunan.

Wholesales (distribusi pabrik ke diler):

 1.⁠ ⁠Toyota — 21.642 unit 2.⁠ ⁠Daihatsu — 14.153 unit 3.⁠ ⁠BYD — 6.569 unit 4.⁠ ⁠Mitsubishi Motors — 6.143 unit 5.⁠ ⁠Suzuki — 5.654 unit 6.⁠ ⁠Mitsubishi Fuso — 4.969 unit 7.⁠ ⁠Hino — 3.440 unit 8.⁠ ⁠Jaecoo — 3.200 unit 9.⁠ ⁠Honda — 2.587 unit10.⁠ ⁠Geely — 1.965 unit

Ritel (distribusi diler ke konsumen):

 1.⁠ ⁠Toyota — 21.008 unit 2.⁠ ⁠Daihatsu — 12.750 unit 3.⁠ ⁠Mitsubishi Motors — 6.041 unit 4.⁠ ⁠Suzuki — 5.844 unit 5.⁠ ⁠BYD — 5.240 unit 6.⁠ ⁠Mitsubishi Fuso — 4.630 unit 7.⁠ ⁠Honda — 3.707 unit 8.⁠ ⁠Jaecoo — 3.200 unit 9.⁠ ⁠Isuzu — 2.889 unit10.⁠ ⁠Hino — 2.572 unit

Tiga merek China di sepuluh besar wholesales: BYD, Jaecoo, Geely. Dan BYD ada di posisi tiga, di atas Mitsubishi, di atas Suzuki.

Honda? Posisi sembilan. Dengan 2.587 unit. Di bawah Jaecoo yang baru berjualan sejak November 2025.

Untuk modelnya, BYD Atto 1 adalah mobil kedua terlaris nasional Juli 2026 dengan 4.233 unit, hanya kalah dari Daihatsu Gran Max Pick Up (4.449 unit) dan mengungguli Toyota Kijang Innova (4.176 unit) serta Toyota Avanza (3.511 unit). Jaecoo J5 di posisi enam dengan 3.155 unit, Geely EX2 di posisi 11 dengan 2.511 unit, BYD M6 DM di posisi 17 dengan 1.437 unit.

Berapa Lama yang Lain?

Wuling masuk Juli 2017. Membangun pabrik dulu di Cikarang. Tahun pertama 3.268 unit. 2018: 15.162. 2019: 21.112. Lalu Covid, 2020 anjlok ke 9.523. 2021 pulih: 23.920.

Pada ulang tahun keenam, Juli 2023, Wuling mengumumkan 112.000 konsumen. Artinya ambang 100.000 itu dilewati sekitar akhir 2022. Lima setengah tahun.Sekarang, sembilan tahun, Wuling punya lebih dari 180.000 konsumen dan produksi kumulatif 200.000 unit di Cikarang. Ekspornya 10.000 unit ke 18 negara setir kanan.

Chery kembali ke Indonesia pada 2022. 4 tahun. Sepanjang 2025 wholesales-nya 19.391 unit, ritel 10.639 unit. Januari–April 2026 wholesales 4.348 unit, turun 27,8 persen. Ritel 4.490 unit, turun 19,7 persen. Belum setengah jalan ke 100.000.

MG lebih pahit. Masuk Maret 2020. Ritel 2020: 313 unit. 2021: 1.101. 2022: 959. 2023: 1.154. 2024 melonjak ke 4.123. Januari-Agustus 2025: 1.279. 6 tahun, belum tembus 10.000 unit.

Jaecoo yang paling menarik. Sub-merek Chery ini meluncurkan J5 EV awal November 2025. Januari–Juli 2026 sudah 20.534 unit wholesales. J5 EV sendiri 20.186 unit: Januari 2.031, Februari 3.028, Maret 2.868, April 3.009, Mei 3.000, Juni 3.050, Juli 3.200. Konsisten 3.000-an per bulan. Dengan tempo itu, 100.000 butuh sekitar 34 bulan. Lebih lambat dari BYD. Tapi jauh lebih cepat dari siapa pun sebelum BYD.

Pembanding non-China: Hyundai. Jualan 200 unit di 2020. Lalu 3.000 unit di 2021, 30.000 unit di 2022, 35.736 unit di 2023, 22.097 unit di 2024, 19.485 unit di 2025. Sekitar 110.000 unit dalam lima tahun.

Jadi urutannya: BYD 26 bulan. Hyundai sekitar 5 tahun. Wuling 5,5 tahun. Chery dan MG belum sampai.

Lalu Jepang?

2022: pasar nasional 1.048.040 unit wholesales. Toyota 336.777. Daihatsu 188.000. Honda 138.967.

2023: pasar 1.005.802 unit. Ritel Toyota 325.395, Daihatsu 194.108, Honda 128.010, Suzuki 82.244, Mitsubishi Motors 81.792. Wuling 25.992, satu-satunya merek China di sepuluh besar.

2024: pasar turun ke 865.723 unit wholesales, ritel 889.680 unit. Toyota 288.982. Daihatsu 163.032. Honda 94.742.

Mitsubishi 72.217. Suzuki 66.809. BYD masuk di peringkat 11 dengan 15.429 unit, belum setahun berjualan, sudah mengalahkan Chery dan MG.2025: pasar 803.687 unit wholesales, ritel 833.692 unit. Toyota 250.431. Daihatsu 130.677. Suzuki 66.345. Honda 56.500. BYD 46.711, nomor enam. Wuling tinggal 18.605 unit.

Januari–Juli 2026: pasar naik lagi ke 517.742 unit, tumbuh 18,3 persen. Toyota 155.574 unit (+9 persen). Daihatsu 87.670 (+17,1 persen). Suzuki 41.973 (+26,5 persen). Mitsubishi Motors 38.731. BYD 29.826. Honda 23.260, turun 38,7 persen. Ritel Honda 27.554 unit, turun 37,7 persen.

Lihat Honda saja. Pada 2022 Honda menjual 138.967 unit setahun. Butuh sekitar sembilan bulan untuk 100.000 unit. Pada 2026, tujuh bulan baru 23.260 unit.

Toyota masih perkasa. Dengan tempo 2026, Toyota menjual 100.000 unit dalam kurang dari lima bulan. Tapi pangsanya menyusut: dari 32,6 persen pada Juli 2025 menjadi 30,0 persen.

Secara kolektif merek China menjual 94.971 unit sepanjang Januari-Juli 2026. Naik 82 persen. Sekarang ada 18 merek China terdaftar di Gaikindo. Geely tumbuh 861 persen.

Tapi Indonesia Bukan Pasar Terbesar BYD

Pada 2023, pasar luar negeri terbesar BYD adalah Thailand: lebih dari 30.500 unit, menguasai 40 persen pasar EV Thailand. Counterpoint mencatat Thailand menyumbang sekitar 20 persen penjualan internasional BYD di kuartal III 2023.

Pada 2024, Brasil mengambil alih: 76.713 unit registrasi, naik 327,68 persen dari 17.937 unit di 2023. Pada 2025, Brasil makin jauh: sekitar 112.800 unit. Merek China pertama yang tembus 100.000 unit setahun di Brasil. Peringkat tujuh nasional. Tapi kalau memakai basis pengiriman ekspor, Meksiko justru nomor satu pada Januari–November 2025 dengan 116.197 unit, 44.802 BEV dan 71.395 PHEV. Sebabnya jelas: Meksiko menaikkan tarif kendaraan asal China dari 20 persen menjadi 50 persen mulai 1 Januari 2026. BYD memborong kapal sebelum pintu ditutup.

Pada 2026 sampai Juni, Brasil menyerap 194.686 unit, 99.504 BEV dan 95.182 PHEV. Australia kedua. Inggris ketiga dengan 29.908 unit (Januari–Mei), Belgia 29.747, Jerman 16.342, Uni Emirat Arab 16.077, Filipina 15.466, Spanyol 13.813, Thailand 12.831, Hong Kong 10.545.

Indonesia? Tidak masuk sepuluh besar.

Pabrik BYD berdiri di atas 126 hektare di Subang Smartpolitan Industrial Park, Jawa Barat. Kapasitas terpasang 150.000 unit per tahun. Realisasi produksi saat ini sekitar 10.000 unit per bulan. Diklaim sebagai fasilitas kendaraan energi baru terbesar di Asia Tenggara.Lokasinya berdekatan dengan Pelabuhan Patimban. Itu bukan kebetulan. Pabrik ini disiapkan jadi basis ekspor BYD untuk Asia Tenggara.

Nilai investasinya USD 1 miliar atau Rp17 triliun. Pekerjanya kini lebih dari 5.000 orang lokal. Target 20.000 orang saat kapasitas penuh.

Model yang sudah diproduksi lokal: Atto 1, M6 EV, dan M6 DM. Denza D9 masuk di lini finishing. Prosesnya lengkap, stamping, welding, painting, assembly, final inspection. Bukan sekadar rakitan CKD sederhana.

Model pertama yang keluar dari lini Subang adalah M6 DM, dengan TKDN di atas 40 persen. BYD menargetkan TKDN 60 persen dalam beberapa tahun ke depan, termasuk lewat perakitan baterai secara lokal.

"Kami secara perlahan mulai merakit produk-produk secara domestik, khususnya yang menyumbang volume signifikan seperti Atto 3 dan M6. Di lini finishing, kami juga memproduksi Denza," kata Head of Public and Government Relations PT BYD Motor Indonesia Luther Panjaitan.

Tapi jangan buru-buru berharap harga turun. Luther menjelaskan pemerintah sudah membentuk mekanisme fiskal agar transisi dari impor CBU ke produksi domestik berjalan mulus. Karena itu struktur fiskal antara kendaraan impor dan produksi lokal tidak serta-merta membuat harga berubah.

"Seluruh proses produksi dilakukan di Indonesia. Untuk proses produksinya mencakup pengecatan, pengelasan, dan proses akhir. Ini sebuah pencapaian yang baru," kata Liu Xueliang, Vice President BYD Co Ltd sekaligus General Manager BYD Asia Pacific Auto Sales Division.

"Tenaga kerja di Indonesia 5 ribu orang lebih, staf Indonesia sangat rajin dan tekun dalam melakukan pekerjaan," tambahnya.

Targetnya juga sudah dipasang: 200.000 unit pada 2027, sekitar dua kali lipat capaian sekarang. Jaringan diler ditargetkan 100 mitra tahun ini dan 200 mitra tahun depan, lengkap dengan pembangunan charging station khusus pengguna BYD.Luhut menambahkan: "Mendorong BYD kerja sama dengan lembaga pendidikan bukan hanya transfer teknologi tapi perkembangan teknologi terbaru."

Harganya

Kunci semuanya ada di satu model. Atto 1: Rp199 juta sampai Rp245 juta OTR Jakarta. Model ini menyumbang lebih dari 22.500 unit sepanjang 2025. Pada Oktober 2025 saja terjual 9.396 unit, disusul 8.333 unit pada November. Juli 2026 masih 4.233 unit.

Berikut daftar lengkapnya (OTR Jakarta 2026, dapat berubah sewaktu-waktu):

•⁠ ⁠BYD Atto 1: Rp199 juta – Rp245 juta•⁠ ⁠BYD M6 DM-i (plug-in hybrid): Rp298 juta (Classic Standard) – Rp390 juta (Cross Superior Captain). Motor 120 kW, 0–100 km/jam 9,1 detik, jarak mode listrik 45 km (Classic) hingga 110 km (Cross). TKDN di atas 40 persen. Pesanan tembus 4.000 unit sampai akhir Juli 2026•⁠ ⁠BYD Dolphin: Rp360,5 juta (Dynamic) – Rp429 juta (Premium), jarak tempuh hingga 490 km•⁠ ⁠BYD M6 EV: Standard Rp383 juta – Rp395 juta, Superior Rp423 juta, Superior Captain Rp433 juta. Baterai 58 kWh (naik dari 55,4 kWh), tenaga 150 kW, torsi 310 Nm, 0–100 km/jam 7,9 detik, jarak 450 km. Sudah rakitan Indonesia•⁠ ⁠BYD Atto 3 Advanced Plus 2026: Rp415 juta•⁠ ⁠BYD Sealion 7: Premium Rp629 juta (230 kW RWD, 567 km, 0–100 km/jam 6,7 detik), Performance Rp719 juta (390 kW AWD dual-motor, 542 km, 4,5 detik). Baterai Blade 82,56 kWh•⁠ ⁠BYD Seal: Premium Rp639 juta (230 kW RWD, 650 km, 5,9 detik), Performance Rp750 juta (390 kW AWD dual-motor, 580 km, 3,8 detik)•⁠ ⁠Denza D9: Rp950 juta

Konteks Pasarnya

Pasar mobil listrik nasional 2024: 35.306 unit, penetrasi 4,1 persen dari total pasar. 2025: 99.755 unit, naik 182,5 persen, penetrasi 12,4 persen. Pada 2026 penetrasi menembus 18,3 persen. April 2026 saja mencetak rekor 14.815 unit, naik 40 persen dari Maret yang 10.572 unit.

BYD menguasai 43,2 persen pasar BEV nasional per Agustus 2026.

Secara global, BYD menjual 4,6 juta unit sepanjang 2025 dengan penjualan luar negeri menembus 1 juta unit. Total kumulatifnya 17,8 juta kendaraan per Agustus 2026. Agustus 2026 jadi bulan terbaik sepanjang sejarah: 440.293 unit, naik 17,84 persen tahunan, dengan penjualan luar negeri 189.466 unit. Melonjak 134 persen. Target ekspor 2026: 1,5 juta unit, naik 50 persen dari sekitar 1,05 juta unit pada 2025.

Beda BYD dan Wuling

Wuling datang 2017 dengan cara lama. Bangun pabrik dulu di Cikarang. Jualan pelan-pelan. Lima setengah tahun untuk 100.000 unit. Waktu itu dianggap sukses besar--dan memang sukses. Wuling-lah yang mengubah persepsi orang Indonesia soal mobil China.

BYD datang 2024 dengan cara terbalik. Jualan dulu, memakai insentif impor bebas bea masuk dan PPnBM lewat Permen Investasi Nomor 1 Tahun 2024. Pabrik menyusul. Dua tahun dua bulan untuk 100.000 unit.

Dua-duanya benar. Dua-duanya jalan.

Bedanya cuma satu: yang satu membuka pasar, yang satu memanen pasar yang sudah terbuka.Dan mobil ke-100.000 itu keluar dari lini perakitan di Subang. Bukan dari kapal.

Topik Menarik