Heboh! Lamborghini Jadi Kendaraan Niaga Bebas dari Pajak Mobil Mewah

Heboh! Lamborghini Jadi Kendaraan Niaga Bebas dari Pajak Mobil Mewah

Otomotif | inews | Senin, 4 Mei 2026 - 14:45
share

JAKARTA, iNews.id - Penggunaan mobil perusahaan biasanya identik dengan kendaraan fungsional dan efisien, seperti MPV, sedan atau SUV kelas menengah. Namun, kasus di Jerman berbeda, seorang wiraswasta berhasil meyakinkan pengadilan supercar Lamborghini Aventador sebagai kendaraan niaga.

Keputusan tersebut bukan sekadar rumor, melainkan putusan resmi dari Bundesfinanzhof. Putusan yang ditandatangani pada akhir 2024 tersebut kini kembali ramai dibicarakan publik karena dinilai tidak biasa.

Kasus ini bermula saat otoritas pajak mencurigai laporan seorang ahli forensik yang mengklaim memiliki armada kerja terdiri atas BMW 740d xDrive dan Lamborghini Aventador. Kedua kendaraan tersebut bukan milik pribadi, melainkan disewa dan digunakan untuk operasional bisnis.

Menariknya, Lamborghini tersebut dipasangi stiker promosi perusahaan, menjadikannya semacam “papan iklan berjalan”. Meski terdengar tidak lazim, strategi ini dianggap sebagai bagian dari aktivitas bisnis.

Kecurigaan muncul ketika petugas pajak menemukan catatan penggunaan kendaraan yang ditulis tangan dan sulit dibaca. Hal ini membuat otoritas meragukan apakah mobil tersebut benar-benar digunakan untuk kepentingan usaha, atau justru untuk penggunaan pribadi.

Pihak pajak pun berencana mengenakan pajak tambahan dengan asumsi adanya penggunaan pribadi. Namun, pengadilan justru memutuskan sebaliknya dan memenangkan wajib pajak.

Salah satu alasan kuat dalam putusan ini adalah fakta bahwa pria tersebut telah memiliki kendaraan pribadi lain, yakni Ferrari 360 Spider dan Jeep Commander. Atas adanya mobil pribadi tersebut, pengadilan menilai tidak ada kebutuhan logis baginya menggunakan Aventador untuk keperluan pribadi.

Pengadilan juga menegaskan meskipun catatan kendaraan tidak disusun secara sempurna, hal tersebut tidak serta-merta membatalkan klaim penggunaan bisnis. Selama gambaran keseluruhan mendukung aktivitas usaha, kendaraan tetap bisa dikategorikan sebagai aset bisnis.

Dalam kasus ini, Lamborghini dianggap memiliki fungsi promosi yang kuat dan relevan dengan pekerjaan pemiliknya. Walaupun terlihat berlebihan, pengadilan menilai penggunaan tersebut masih dapat diterima secara hukum.

Putusan ini memberikan pesan menarik, bahwa di Jerman, penggunaan kendaraan mewah sebagai mobil perusahaan bukan hal mustahil. Namun, tetap ada syarat penting, seperti bukti penggunaan yang masuk akal serta pemisahan jelas antara kebutuhan pribadi dan bisnis.

Berbeda dengan Jerman, aturan di Amerika Serikat jauh lebih ketat. Berdasarkan regulasi Internal Revenue Service (IRS), kendaraan dengan bobot di bawah 6.000 pon masuk kategori “mobil mewah” dengan batas pengurangan pajak yang terbatas.

Ini membuat kendaraan seperti Ford F-150 dan Chevrolet Suburban lebih populer sebagai mobil perusahaan di AS, karena memenuhi syarat pengurangan pajak lebih besar dibandingkan mobil sport.

Kasus di Jerman menjadi contoh menarik bagaimana interpretasi hukum pajak dapat berbeda di setiap negara. Meski terlihat tidak biasa, keputusan tersebut tetap sah secara hukum dan membuka perspektif baru tentang penggunaan kendaraan dalam dunia bisnis.

Topik Menarik