Kisah Nekat Wuhu Membangun Imperium Chery Group
Chery Group Chery Motor Indonesia tidak lahir di Beijing. Bukan juga di Shanghai, pusat industri terbesar di China itu. Ia lahir di Wuhu. Sebuah kota yang dulu nyaris tidak punya hubungan dengan industri otomotif.
Tahun 1995. Wuhu hanyalah kota perdagangan dan tekstil di Provinsi Anhui. Tidak ada sejarah otomotif. Tidak ada pabrik mobil. Tidak ada rantai pasok.
Tapi ada satu hal yang mereka miliki: ambisi besar untuk berubah. Pemerintah kota Wuhu tiba-tiba mengambil keputusan yang tidak biasa. Mereka ingin punya industri sendiri. Bukan industri kecil. Tapi industri berat: otomotif. Pilihan yang sangat berisiko.
Mereka kemudian merekrut satu orang penting. Namanya Yin Tongyue. Saat itu bekerja di FAW-Volkswagen. Masih muda, tapi dikenal sebagai insinyur berbakat. Ia diminta pulang ke kampung halamannya di Anhui.
Tahun 1997. Wuhu membentuk perusahaan. Namanya belum Chery. Masih Anhui Auto Parts Co., Ltd. Modalnya dari pemerintah kota. Bukan dari pusat. Di sinilah titik pembeda utama Chery dibanding pabrikan China lain.Jika pabrikan besar seperti SAIC, FAW, Dongfeng, dan Changan adalah “anak pusat”, maka Chery adalah “anak daerah”. Konsekuensinya besar. Kalau gagal, bukan hanya perusahaan yang jatuh. Ekonomi kota Wuhu ikut runtuh.
Maka mereka tidak punya pilihan selain berhasil. Masalahnya banyak. Tidak punya teknologi. Tidak punya fasilitas. Bahkan tidak punya izin produksi nasional. Tapi proyek tetap berjalan.
Mesin pertama Chery bahkan bukan buatan sendiri.
Wuhu membeli satu lini produksi mesin bekas dari pabrik Ford di Dagenham, Inggris. Dirakit ulang di China. Di mana? Di gudang-gudang kosong. Di bangunan seadanya.
Orang dalam Chery menyebut fase ini sebagai “thatched hut spirit” — semangat gubuk jerami. Masalah berikutnya lebih serius. Chery tidak bisa menjual mobil secara nasional. Tidak punya lisensi.Solusinya unik. Wuhu “menikahkan” Chery dengan SAIC. SAIC mengambil 20 persen saham.
Sebagai imbalannya, Chery bisa menggunakan lisensi nasional SAIC. Ini jalan pintas untuk bertahan hidup. Meski, hubungan itu tidak berlangsung lama.Tahun 2003, Chery sudah cukup kuat. Wuhu membeli kembali saham SAIC. Chery resmi berdiri sendiri. Dari titik ini, karakter Chery terbentuk.Berbeda dengan “Big Four” China yang bergantung pada joint venture dengan brand global seperti Volkswagen, GM, atau Toyota, Chery tidak punya kemewahan itu. Mereka dipaksa untuk mengembangkan teknologi sendiri.
Mulai dari mesin ACTECO. Transmisi CVT dan DHT. Platform kendaraan. Semua dibangun dari nol. Itulah sebabnya Chery sering disebut sebagai “perusahaan para insinyur”.
Dan semua itu berpusat di satu tempat: Wuhu.Wuhu bukan hanya lokasi pabrik. Ia adalah pusat kendali (command center). Di sana ada Longshan R&D Center. Salah satu pusat riset terbesar di China.Struktur global Chery pun unik. Mereka menyebutnya model “1+7+N”.
Satu pusat utama di Wuhu. Tujuh pusat riset global — termasuk di Frankfurt, Barcelona, dan Sao Paulo. Dan jaringan tambahan di berbagai negara.Tapi semua tetap kembali ke Wuhu. Tidak hanya riset. Wuhu juga menjadi pusat integrasi industri Chery.
Di sana ada galangan kapal. Bisnis properti. Layanan keuangan. Semua saling terhubung. Inilah yang membuat Chery berbeda. Mereka membangun ekosistem, bukan sekadar pabrik.
Keterbatasan di dalam negeri juga membentuk strategi global mereka. Karena tidak punya dominasi seperti pemain besar di China, Chery memilih keluar. Ekspor pertama dilakukan tahun 2001 ke Suriah.
Bukan pasar besar. Tapi awal dari strategi global. Hasilnya sekarang terlihat. Selama 22 tahun berturut-turut, Chery menjadi eksportir mobil nomor satu dari China.
Dan Wuhu menjadi titik awal semua pencapaian itu.






