Nicolo Tresoldi Cetak Hattrick Lawan Inter Milan, Ternyata Pernah Ditolak AC Milan hingga Juventus

Nicolo Tresoldi Cetak Hattrick Lawan Inter Milan, Ternyata Pernah Ditolak AC Milan hingga Juventus

Olahraga | inews | Kamis, 15 Oktober 2026 - 07:00
share

JAKARTA, iNews.id - Nicolo Tresoldi menjadi sorotan setelah mencetak tiga gol atau hattrick saat Club Brugge mengalahkan Inter Milan 4-3 dalam pertandingan Liga Champions di Giuseppe Meazza, Rabu (14/10/2026) dini hari WIB. Di balik penampilan gemilang tersebut, tersimpan kisah menarik: penyerang berusia 22 tahun itu pernah ditolak lima klub besar Italia ketika masih berusia 12 tahun.

Pelatih pertamanya di Italia, Marco Bedini, mengungkapkan Tresoldi sempat menjalani seleksi di Atalanta, AC Milan, Fiorentina, Bologna, dan Juventus. Namun, tidak satu pun klub tersebut menerimanya.

Kisah itu diungkapkan Bedini kepada La Gazzetta dello Sport. Dia mengenang Tresoldi sebagai pemain muda yang tetap produktif mencetak gol meski berulang kali gagal mendapatkan tempat di akademi klub-klub besar.

“Dia pernah menjalani seleksi di Atalanta, Milan, Fiorentina, Bologna, dan Juventus, tetapi mereka semua mengatakan, ‘kami sudah memiliki pemain dengan level seperti itu,’ lalu menolaknya,” ungkap Bedini.

“Mereka juga mengatakan hal itu kepada saya. Nico akan kembali ke Gubbio seolah-olah tidak terjadi apa-apa dan terus mencetak gol,” lanjutnya.

Ditolak Lima Klub Italia, Kini Bersinar di Liga Champions

Tresoldi mengawali perjalanan sepak bolanya bersama tim muda Fontanelle saat berusia 12 tahun. Di bawah arahan Bedini, dia mampu mencetak gol ketika menghadapi pemain-pemain yang berusia dua tahun lebih tua darinya.

Ayah Tresoldi, Emanuele, pernah berkarier sebagai pemain bertahan di Siena. Namun, Nicolò justru ditempatkan sebagai penyerang tengah oleh Bedini, meski postur tubuhnya saat itu belum memenuhi gambaran fisik penyerang yang dicari sejumlah klub Italia.

“Saya menggunakannya sebagai penyerang tengah, meskipun dia tidak memiliki tinggi badan dan postur seperti kebanyakan penyerang. Nicolò belum pernah bermain sepak bola pada level seperti itu. Untuk beberapa waktu, dia bermain tenis sama seringnya dengan bermain sepak bola,” kata Bedini.

Menurut Bedini, Tresoldi juga menjalani seleksi di sejumlah klub lain dan bermain sepak bola lima lawan lima. Dalam format permainan tersebut, dia tetap mampu menunjukkan perbedaan kualitas dibandingkan pemain lain.

Perjalanan Tresoldi kemudian berlanjut ke Jerman. Pada 2017, keluarganya pindah ke negara tersebut karena pekerjaan ibunya di sebuah perusahaan penerbangan. Setahun kemudian, Tresoldi bergabung dengan akademi Hannover 96 untuk melanjutkan perkembangan karier sepak bolanya.

Kini, namanya mencuri perhatian bersama Club Brugge. Hattrick ke gawang Inter Milan di San Siro menjadi bukti ketajamannya sekaligus pencapaian penting dalam perjalanan kariernya setelah pernah gagal menembus sejumlah klub elite Italia.

Bedini menyebut Tresoldi masih menjaga hubungan dengan lingkungan tempat dia memulai karier. Sang pemain sesekali kembali ke Fontanelle dan bertemu teman-teman lamanya yang juga bermain sepak bola.

“Sesekali dia kembali ke Fontanelle dan bertemu dengan teman-teman lamanya di tim sepak bola. Dia masih terikat dengan asal-usulnya, tetapi jangan tanya kepada saya apakah dia akan memilih Italia atau Jerman, karena saya tidak tahu. Hatinya yang akan menentukan,” ujar Bedini.

Penggemar AC Milan, Terinspirasi Filippo Inzaghi

Penampilan Tresoldi di San Siro juga memiliki cerita tersendiri. Dia diketahui merupakan penggemar AC Milan. Karena itu, mencetak tiga gol ketika menghadapi rival sekota Milan, Inter, di stadion tersebut menjadi pengalaman yang istimewa.

Bedini juga mengungkapkan salah satu sosok yang menginspirasi Tresoldi sejak kecil adalah mantan penyerang Italia, Filippo Inzaghi. Pengaruh tersebut terlihat dari kemampuan sang pemain mencari ruang dan memanfaatkan peluang di dalam kotak penalti.

“Bahkan pada usia 12 tahun, dia bisa mencetak gol dengan berbagai cara, menggunakan kaki kanan, kaki kiri, sundulan, hingga menyelinap ke dalam kotak penalti. Bagaimanapun, idolanya selalu Pippo Inzaghi. Terkadang dia juga meniru Inzaghi. Kami mengadakan sesi latihan khusus untuk menunjukkan kepadanya cara bergerak di dalam kotak penalti,” kata Bedini.

Kisah Tresoldi memperlihatkan perjalanan seorang pemain yang tidak langsung mendapat tempat di klub-klub besar. Setelah lima klub Italia menolaknya saat masih muda, dia justru berkembang di Jerman sebelum mencuri perhatian di panggung Liga Champions bersama Club Brugge.

Topik Menarik