Mantan Bintang Arsenal Terancam 5 Tahun Penjara Gegara Sertifikat Vaksin Covid-19 Palsu

Mantan Bintang Arsenal Terancam 5 Tahun Penjara Gegara Sertifikat Vaksin Covid-19 Palsu

Olahraga | inews | Selasa, 22 September 2026 - 09:08
share

LUCERNE, iNews.id - Granit Xhaka mengakui pernah memperoleh sertifikat vaksinasi Covid-19 tanpa menjalani proses vaksinasi sebagaimana mestinya. Pengakuan tersebut muncul ketika kapten Timnas Swiss itu tengah menghadapi penyelidikan pidana oleh Kejaksaan Kanton Lucerne.

Xhaka yang kini memperkuat Sunderland mengungkap persoalan tersebut melalui pernyataan di Instagram. Dia menyampaikan pengakuan setelah sebelumnya penyelidikan terkait dugaan sertifikat vaksin Covid-19 palsu mencuat di Swiss.

Dalam pernyataannya, Xhaka menjelaskan kondisi yang dia alami saat pandemi. Dia mengaku memiliki keraguan besar terhadap vaksin Covid-19 dan memilih memperoleh sertifikat dibandingkan mencari jawaban atas kekhawatirannya melalui jalur yang tepat.

"Dalam beberapa hari terakhir, banyak hal dilaporkan tentang masalah dari masa lalu saya. Saya ingin membahasnya secara pribadi," kata Xhaka dikutip dari The Sun.

"Pada saat itu, terkait vaksinasi Covid-19, saya secara pribadi sangat tidak yakin dan memiliki kekhawatiran serius. Saya sangat tidak percaya terhadap vaksin dan dipengaruhi rasa takut serta ketidakpastian," ujarnya.

"Dalam situasi yang penuh tekanan secara emosional ini, saya memperoleh sertifikat vaksinasi alih-alih mencari jawaban atas pertanyaan saya yang belum terjawab melalui jalur yang benar," tuturnya.

"Hari ini, saya melihat dengan jelas jika tindakan tersebut bukan langkah yang tepat. Itu adalah sebuah kesalahan. Saya minta maaf. Saya bertanggung jawab atas keputusan tersebut, akan menghadapi proses untuk mengklarifikasi fakta, dan akan bekerja sama sepenuhnya dengan pihak berwenang."

Xhaka Terancam Sanksi Hukum

Kasus tersebut bermula dari penyelidikan terhadap seorang dokter perempuan di Lucerne yang diduga menerbitkan sertifikat vaksinasi tanpa memberikan vaksin kepada penerimanya. Dokter tersebut membantah tuduhan tersebut.

Kepolisian Swiss sebelumnya menggeledah klinik dokter tersebut pada 2023 dan menyita sejumlah barang bukti. Penyelidikan kemudian mencakup sejumlah orang yang diduga memperoleh sertifikat Covid-19 secara tidak sah, termasuk Xhaka.

Kantor Kejaksaan Kanton Lucerne menyatakan penyelidikan dilakukan untuk menentukan apakah terdapat tindakan yang relevan secara pidana terkait kemungkinan memperoleh sertifikasi palsu dan/atau pemalsuan dokumen. Proses hukum masih berjalan sehingga status Xhaka dalam perkara tersebut harus dibedakan dari putusan pengadilan.

Dalam hukum Swiss, pemalsuan dokumen dapat dikenai hukuman berat, termasuk denda atau hukuman penjara hingga lima tahun. Namun, ancaman maksimal tersebut tidak berarti Xhaka sudah dijatuhi hukuman atau pasti akan menerima hukuman tersebut.

Pada masa pandemi, sertifikat Covid memang digunakan di Swiss untuk mengakses sejumlah aktivitas dan tempat tertentu. Pemerintah Swiss pada September 2021 memberlakukan kewajiban sertifikat untuk memasuki sejumlah restoran, fasilitas budaya dan rekreasi, serta acara di dalam ruangan. Aturan tersebut kemudian dicabut untuk berbagai aktivitas mulai Februari 2022.

Xhaka juga tercatat melewatkan tiga pertandingan bersama Timnas Swiss pada September 2021 setelah dinyatakan positif Covid-19. Saat itu, dia masih berstatus pemain Arsenal. Setelah meninggalkan Arsenal, Xhaka memperkuat Bayer Leverkusen pada 2023 sebelum kembali ke Inggris bersama Sunderland pada 2025.

Kasus tersebut kini berdampak langsung terhadap aktivitas Xhaka bersama Timnas Swiss. Setelah pengakuannya, dia tidak bergabung dengan rekan-rekannya dalam agenda internasional kali ini. Keputusan tersebut diambil melalui kesepakatan antara Xhaka dan manajemen Asosiasi Sepak Bola Swiss atau SFV.

Presiden SFV Peter Knabel mengatakan, "Granit Xhaka memberi tahu kami tentang situasi tersebut tadi malam dan mengatakan jika dia akan membahasnya secara terbuka serta bertanggung jawab."

"Kami menyambut langkah Granit untuk mengambil tindakan tersebut dan menghadapi konsekuensinya."

"Pada saat yang sama, kami bersama-sama menyimpulkan jika demi kepentingan tim, pemusatan latihan ini sebaiknya dilanjutkan tanpa dia."

"Prioritas kami sekarang adalah menenangkan situasi dan sepenuhnya fokus pada tim serta tantangan yang akan datang di UEFA Nations League."

"Setelah periode pertandingan internasional ini selesai, kami akan meninjau kembali situasi bersama Granit dan membahas langkah selanjutnya."

Timnas Swiss dijadwalkan menghadapi laga tandang melawan Makedonia Utara dan Skotlandia sebelum menjamu Slovenia serta Makedonia Utara di Lucerne. Xhaka sebelumnya masuk dalam rencana tim untuk rangkaian pertandingan tersebut, tetapi kini harus absen karena perkembangan kasus sertifikat Covid-19.

Kasus Xhaka juga mengingatkan pada perkara mantan pelatih Timnas hoki es Swiss, Patrick Fischer. Pada 2023, Fischer dinyatakan bersalah menggunakan sertifikat Covid-19 palsu untuk dapat bekerja pada Olimpiade Musim Dingin 2022 di Beijing dan dijatuhi denda 38.000 franc Swiss oleh pengadilan pidana. Pada April tahun ini, dia diberhentikan dari jabatannya dan kemudian dijatuhi larangan selama empat tahun oleh Federasi Hoki Es Internasional.

Xhaka sendiri merupakan salah satu pemain penting Timnas Swiss. Dia tampil di Piala Eropa 2021 dan 2024, Piala Dunia Qatar 2022 dan 2026.

Knabel juga menegaskan sertifikat vaksin tersebut bukan syarat bagi Xhaka untuk tampil dalam turnamen besar atau pertandingan internasional.

"Granit tidak membutuhkan sertifikat vaksinasi untuk berpartisipasi dalam turnamen besar atau pertandingan internasional. Asosiasi Sepak Bola Swiss (SFV) pada saat itu mengeluarkan rekomendasi vaksinasi, bukan kewajiban."

Topik Menarik