5 Atlet Cantik yang Berprestasi di Panggung Olimpiade dan Berstatus Ilmuwan, Nomor 1 Bikin Dunia Terperangah
ADA 5 atlet cantik yang mampu berprestasi di panggung Olimpiade dengan status sebagai ilmuwan. Menjalani peran ganda sebagai atlet Olimpiade sekaligus ilmuwan tentu menuntut disiplin tingkat dewa, di mana satu kaki berada di arena latihan dan kaki lainnya terpatri di laboratorium.
Para srikandi tangguh ini membuktikan kecerdasan intelektual dan prestasi fisik kelas dunia dapat berjalan secara berdampingan. Lantas siapa saja mereka?
Berikut 5 Atlet Cantik yang Berprestasi di Panggung Olimpiade dan Berstatus Ilmuwan:
1. Louise Shanahan (Irlandia)
Berawal dari mimpi sederhana untuk bisa menembus ajang Olimpiade Paris 2024, atlet lari jarak 800 meter putri ini justru berhasil melompat lebih cepat ke panggung Olimpiade Tokyo 2020. Meski harus terhenti di babak penyisihan, perempuan berusia 24 tahun ini menyimpan kecerdasan luar biasa di bidang fisika kuantum.
Lulusan Universitas Cork yang tengah merampungkan studi doktoralnya di Universitas Cambridge ini mendedikasikan minat risetnya untuk pengembangan perangkat fisika medis guna mendeteksi serta merawat kanker secara lebih akurat.
2. Anna Kiesenhofer (Austria)
Tampil tanpa pelatih khusus dan tanpa sokongan tim profesional, pembalap sepeda asal Austria ini sukses menciptakan salah satu kejutan terbesar di Olimpiade Tokyo dengan merengkuh medali emas cabang balap sepeda jalanan putri usai mengalahkan unggulan dunia Annemiek van Vleuten.
Di balik ketangguhannya mengayuh sepeda di atas aspal panas, Kiesenhofer merupakan seorang ahli matematika mumpuni yang menamatkan studi sarjananya di Technical University of Vienna serta Universitas Cambridge, dan kini aktif berkarier sebagai peneliti serta dosen di Technical University of Lausanne, Swiss.
3. Hadia Hosny (Mesir)
Panggung Olimpiade Tokyo menjadi penutup perjalanan panjang pebulu tangkis asal Mesir ini setelah bertahun-tahun harus membagi fokus antara turnamen internasional kelas dunia dan dunia akademik yang menuntut konsentrasi tinggi. Pemilik gelar Master bio-kedokteran dari Universitas Bath serta gelar PhD dalam bidang farmakologi dari Universitas Kairo ini aktif melakukan riset ilmiah mengenai obat anti-inflamasi dexamethasone.
Kini, setelah gantung raket, kesibukan Hosny semakin padat karena ia juga mengabdi sebagai asisten profesor di British University of Egypt sekaligus politisi di parlemen Mesir.
4. Charlotte Hym (Prancis)
Ketertarikannya pada dunia skateboard sejak usia 12 tahun di kota Paris akhirnya membawa perempuan inspiratif ini mencatatkan debut di ajang Olimpiade Tokyo meski belum berhasil menembus babak final. Di luar arena seluncur, ia adalah seorang perempuan bergelar doktor di bidang ilmu syaraf (neuroscience).
Fokus penelitian ilmiah yang digelutinya tergolong sangat unik, yakni meneliti pengaruh suara seorang ibu terhadap percepatan perkembangan motorik bayi yang baru lahir.
5. Gabby Thomas (Amerika Serikat)
Dikenal luas sebagai salah satu pelari wanita tercepat di dunia untuk nomor 200 meter, perempuan berusia 24 tahun ini sukses menyumbangkan medali perunggu bagi kontingen Amerika Serikat di Olimpiade Tokyo.
Di sela-sela rutinitas latihan atletiknya yang sangat menguras tenaga, Thomas menyelesaikan pendidikan neurobiologi dan kesehatan global di Universitas Harvard, lalu melanjutkan studi master bidang epidemiologi dan manajemen kesehatan di Universitas Texas, Austin, dengan fokus riset pada isu ketimpangan rasial layanan kesehatan.









