Argentina Dibayangi Hukuman Berat FIFA jelang Final Piala Dunia 2026
ATLANTA, iNews.id – FIFA tengah menyelidiki aksi sejumlah pemain Argentina yang membentangkan spanduk bertuliskan "Las Malvinas son Argentinas" atau "Kepulauan Falkland adalah milik Argentina" setelah kemenangan 2-1 atas Inggris pada semifinal Piala Dunia 2026, Kamis (16/7/2026) dini hari WIB. Insiden tersebut berpotensi berujung sanksi karena FIFA melarang penyampaian pesan politik dalam pertandingan sepak bola.
Aksi itu terjadi sesaat setelah peluit panjang dibunyikan pada laga semifinal yang berlangsung Rabu waktu setempat. Sejumlah pemain Argentina terlihat membawa spanduk bertuliskan "Las Malvinas son Argentinas", yang merujuk pada klaim Argentina atas Kepulauan Falkland.
Bek Lisandro Martinez, Cristian Romero, dan gelandang Giovani Lo Celso menjadi beberapa pemain yang terlihat memegang spanduk tersebut. Tulisan itu mengacu pada konflik tahun 1982 antara Argentina dan Inggris yang menewaskan 649 warga Argentina serta 255 warga Inggris.
Kepulauan Falkland merupakan Wilayah Seberang Laut Britania Raya di Samudra Atlantik Selatan. Hingga kini, wilayah tersebut masih menjadi sengketa kedaulatan yang berlangsung lama antara Inggris dan Argentina.
FIFA Kaji Sanksi, Inggris Desak Investigasi
FIFA memiliki aturan yang melarang penggunaan pesan politik dalam pertandingan. Pada 2014, Federasi Sepak Bola Argentina pernah didenda sebesar 20.000 poundsterling setelah membentangkan spanduk dengan pesan serupa sebelum laga persahabatan melawan Slovenia.
Menyusul insiden di Atlanta, Pemerintah Inggris mendesak FIFA segera melakukan penyelidikan. Desakan itu muncul setelah aksi para pemain Argentina memicu gelombang kritik.
Menteri Bisnis Inggris Peter Kyle mengatakan spanduk tersebut merupakan pelanggaran serius terhadap aturan FIFA.
"Itu merupakan pelanggaran yang sangat serius terhadap aturan yang melarang aktivitas politik menjadi bagian dari sepak bola," kata Kyle dikutip dari Sport Bible.
"Piala Dunia memiliki salah satu prinsip utama, yaitu politik harus dipisahkan dari sepak bola. Sekarang hal itu menjadi urusan FIFA. Saya berharap FIFA melakukan penyelidikan secara menyeluruh," ujarnya.
Menurut laporan The Guardian, juru bicara Perdana Menteri Inggris Keir Starmer menyatakan kepala pemerintahan Inggris mendukung pernyataan Peter Kyle yang meminta FIFA menyelidiki insiden tersebut.
"Piala Dunia mungkin bukan milik kami, tetapi Kepulauan Falkland jelas milik kami. Sikap kami tidak berubah. Hak menentukan nasib sendiri berada di tangan penduduk pulau tersebut dan komitmen kami terhadap Falkland tidak akan pernah goyah," tutur Keir.
"Secara lebih luas, tindakan lebih lanjut merupakan urusan FIFA. Namun, Piala Dunia sejauh ini berlangsung luar biasa dan sejak awal kami selalu menyampaikan politik harus dijauhkan dari sepak bola," ucapnya.
Partai Liberal Demokrat Inggris juga mengirim surat kepada FIFA agar pemain Argentina yang terlibat dalam insiden tersebut dilarang tampil pada final melawan Spanyol. Pemimpin partai Ed Davey menilai FIFA perlu bersikap konsisten.
"Pada Agustus 2024 Rodri dan Alvaro Morata mendapat larangan bermain satu pertandingan karena menyanyikan 'Gibraltar adalah milik Spanyol'. Kini para pemain Argentina yang merayakan kemenangan dengan spanduk 'Falkland adalah milik Argentina' juga harus dilarang tampil di final."
FIFA Masih Pelajari Laporan Pertandingan
Sehari setelah insiden tersebut, juru bicara FIFA menyampaikan Komite Disiplin Independen FIFA masih mempelajari laporan pertandingan sebelum menentukan langkah berikutnya.
"Seperti prosedur standar, Komite Disiplin Independen FIFA saat ini sedang menilai laporan pertandingan dan mempertimbangkan seluruh keadaan yang relevan sebelum memutuskan kemungkinan langkah lanjutan berdasarkan Kode Disiplin FIFA."
Pemerintah Kepulauan Falkland juga meminta FIFA menjatuhkan sanksi kepada Argentina. Dalam pernyataan resminya, pemerintah wilayah tersebut menyampaikan kekecewaan atas tindakan para pemain Argentina.
"Pemerintah Kepulauan Falkland kecewa, meski sayangnya tidak terkejut, tim sepak bola Argentina memutuskan mencoreng hasil semifinal Piala Dunia tadi malam, pertandingan yang sama sekali tidak melibatkan Kepulauan Falkland."
Pernyataan tersebut juga mengingatkan invasi tahun 1982 meninggalkan trauma bagi banyak penduduk Falkland sehingga spanduk yang dibentangkan dinilai sangat tidak sensitif.
Pemerintah Falkland menegaskan mereka tidak ingin politik dibawa ke dalam olahraga dan berharap FIFA menegakkan aturannya secara konsisten.
"Kami berharap FIFA menepati janjinya untuk menjaga politik tetap berada di luar olahraga dan memberikan sanksi terhadap setiap tindakan seperti ini sesuai dengan aturan yang dimilikinya."









