Alwi Farhan Pakai Ilmu Ketapel untuk Bungkam Hujan Kritik
JAKARTA, iNews.id – Alwi Farhan menegaskan kebangkitannya dengan menjuarai Australian Open 2026. Ini merupakan sebuah gelar yang menjadi bukti nyata keberhasilan strategi mental yang dia sebut sebagai ilmu ketapel.
Titel Australian Open menjadi titik balik setelah perjalanan naik-turun sepanjang 2026. Pada awal tahun, Alwi sempat mencuri perhatian lewat gelar Indonesia Masters 2026 yang mengangkat namanya sebagai salah satu tunggal putra paling menjanjikan.
Performa Alwi kemudian merosot. Dia mendapat sorotan tajam saat memperkuat Indonesia di Piala Thomas 2026. Kekalahan dari Alex Lanier membuat langkah Indonesia terhenti di fase grup, sebuah hasil yang memicu gelombang kritik besar.
Tekanan tersebut diakui Alwi meninggalkan dampak mental yang berat. Dia menerima hujatan dari berbagai arah, bahkan kritik yang sudah melenceng dari konteks pertandingan.
“Banyak (yang mengkritik setelah Piala Thomas). Saya memang sangat terpukul dengan kejadian itu. Saya merasakan masa yang cukup berat setelah Thomas Cup karena menerima kritik dan hujatan yang sudah di luar konteks,” ungkap Alwi kepada awak media, termasuk iNews Media Group di Pelatnas PBSI, Cipayung, Jakarta Timur, Rabu (17/6/2026).
“Tapi itu tidak membuat saya down. Justru itu yang membangun mental saya menjadi lebih kuat,” sambungnya.
Ilmu Ketapel dan Titik Balik Performa
Dari fase terendah tersebut, Alwi memilih bangkit dengan pendekatan mental yang dia sebut ilmu ketapel. Konsep ini dia terapkan untuk menjadikan tekanan sebagai dorongan agar bisa melesat lebih jauh.
Perubahan tersebut langsung terlihat dalam tiga turnamen terakhir. Seusai kegagalan di Piala Thomas, Alwi meraih posisi ketiga di Singapore Open, melangkah hingga 16 besar Indonesia Open, lalu menutup rangkaian dengan gelar juara Australia Open 2026.
“Saya percaya dengan kejadian seperti itu saya menjadi pribadi yang lebih kuat lagi. Ibarat ketapel, ditarik ke belakang untuk bisa melesat lebih jauh,” tutur Alwi.
Pebulu tangkis berusia 21 tahun tersebut menyebut tiga turnamen terakhir sebagai momentum kebangkitan yang memang sudah dia bidik sejak awal. Target gelar menjadi motivasi utama di tengah tekanan dan keraguan publik.
Australia Open pun memiliki makna khusus bagi Alwi. Gelar ini terasa istimewa karena diraih setelah masa sulit, namun dia menegaskan tidak ingin cepat puas dengan pencapaian tersebut.
“Ini perjalanan yang cukup seru karena naik turun. Banyak orang yang tidak percaya, banyak juga yang tetap mengkritik meskipun saya sudah juara. Tapi tidak masalah. Yang paling tahu diri saya adalah saya sendiri, tim pelatih, dan orang-orang terdekat saya. Karena pada akhirnya orang hanya melihat hasil. Padahal persiapan saya sebelum tiga turnamen itu sangat keras,” terang Alwi.
“Apa pun saya jalani, sampai badan dan mental benar-benar diuji. Alhamdulillah semuanya terbayar,” pungkasnya.










