Sponsor Piala Dunia 2026 Picu Amarah, LaLiga dan Operator Prancis Protes FIFA

Sponsor Piala Dunia 2026 Picu Amarah, LaLiga dan Operator Prancis Protes FIFA

Olahraga | inews | Senin, 13 Juli 2026 - 21:40
share

PARIS, iNews.id - Sponsor Piala Dunia 2026, ExpressVPN, memicu kemarahan LaLiga dan sejumlah operator penyiaran olahraga Prancis. Mereka mengirimkan keberatan resmi kepada FIFA karena menilai kemitraan tersebut berlawanan dengan perjuangan melindungi hak siar sepak bola dari pembajakan.

ExpressVPN diumumkan sebagai Official Tournament Supporter Piala Dunia 2026 untuk wilayah Amerika Serikat, Kanada, dan Eropa menjelang pembukaan turnamen. Perusahaan itu menjadi pendukung resmi kategori VPN serta mendapatkan ruang promosi pada papan LED di sekitar lapangan.

Kemitraan tersebut diperkenalkan sebagai bagian dari kampanye keamanan digital bagi suporter. ExpressVPN menyoroti risiko pencurian data, jaringan Wi-Fi palsu, dan serangan siber yang dapat mengincar penonton selama turnamen.

Namun, langkah FIFA langsung memantik penolakan dari industri penyiaran Eropa. Presiden LaLiga Javier Tebas mengirimkan surat kepada Presiden FIFA Gianni Infantino untuk menyampaikan protes resmi terkait kerja sama tersebut.

Tebas menilai keputusan FIFA tidak sejalan dengan prinsip perlindungan hak audiovisual sepak bola. Dia juga menyebut kemitraan itu dapat mengirimkan pesan buruk kepada klub, liga, serta perusahaan penyiaran yang mengeluarkan biaya besar untuk memperoleh hak tayang.

“Kesepakatan ini jelas tidak sesuai dengan prinsip perlindungan hak audiovisual sepak bola,” tulis Tebas dalam suratnya.


LaLiga Soroti Putusan Pengadilan Prancis

Keberatan LaLiga berkaitan dengan sejumlah perkara hukum di Prancis yang melibatkan penyedia layanan VPN. Pada Mei 2025, Pengadilan Negeri Paris memerintahkan ExpressVPN dan empat perusahaan VPN lain memblokir akses menuju 203 domain yang menayangkan kompetisi olahraga secara ilegal.

Domain-domain tersebut digunakan untuk menyiarkan Liga Champions, Liga Inggris, dan kompetisi rugbi Top 14 tanpa izin. Canal+ memegang hak siar eksklusif untuk ketiga kompetisi tersebut di wilayah Prancis.

Tebas menilai kerja sama FIFA dapat memberikan kesan legitimasi kepada perusahaan yang sedang terlibat sengketa hukum dengan pemegang hak siar. LaLiga, beIN Sports Prancis, Canal+, dan organisasi olahraga lainnya sebelumnya mengambil langkah hukum terhadap ExpressVPN di sejumlah yurisdiksi.

“FIFA menjalin kemitraan dengan perusahaan yang layanannya memfasilitasi pembajakan konten olahraga. Ini mengirimkan pesan yang merusak kepada ekosistem sepak bola,” tulis Tebas dalam keterangannya.

ExpressVPN membantah tudingan tersebut. Perusahaan itu menegaskan belum pernah dinyatakan bersalah karena memfasilitasi pembajakan di yurisdiksi mana pun serta menyebut VPN sebagai perangkat untuk privasi dan keamanan, bukan celah bagi aktivitas ilegal.

Penolakan juga datang dari Association for the Protection of Sports Programs atau APPS. Organisasi yang menaungi sejumlah pemegang hak siar olahraga Prancis itu menyampaikan keprihatinan kepada FIFA atas permintaan sejumlah anggotanya, termasuk LFP Media.

LFP Media sedang berupaya menjaga nilai hak siar Ligue 1 menjelang peluncuran Ligue 1+. Platform baru tersebut diproyeksikan menayangkan seluruh pertandingan kompetisi kasta tertinggi Prancis secara eksklusif.

Direktur APPS Xavier Spender menilai ExpressVPN belum menerapkan langkah pemblokiran yang efektif di Prancis. Menurut dia, perusahaan tersebut juga terus menggugat permintaan pelaksanaan putusan pengadilan yang diajukan para pemegang hak siar.

“ExpressVPN belum menerapkan tindakan pemblokiran yang efektif di Prancis,” tulis APPS dalam surat keberatannya.


FIFA Beri Jawaban

APPS meminta FIFA memastikan setiap mitra komersial memiliki kebijakan yang sejalan dengan perlindungan hak siar. Organisasi itu menilai konsistensi diperlukan untuk menjaga integritas, keberlanjutan, serta nilai ekonomi kompetisi olahraga.

LaLiga dan APPS juga mendesak FIFA meminta ExpressVPN mengambil seluruh langkah yang diperlukan agar layanannya tidak digunakan untuk mengakses tayangan ilegal. Surat keberatan tersebut sempat belum memperoleh respons cepat di tengah polemik lain selama Piala Dunia 2026 yang disebut L’Équipe sebagai “kasus Trump”.

FIFA kemudian menjelaskan setiap perjanjian komersial telah melewati proses pemeriksaan serta evaluasi menyeluruh. Induk sepak bola dunia tersebut mengaku sudah mempelajari dampak yang mungkin muncul dari kemitraan dengan ExpressVPN.

FIFA juga menyatakan telah mengambil langkah untuk memastikan kerja sama itu tidak mengganggu upaya para pemegang hak siar dan pemangku kepentingan lain dalam memberantas pembajakan konten olahraga.

Kontroversi ini memperlihatkan benturan besar antara perlindungan privasi digital dan pemberantasan pembajakan siaran olahraga. Di satu sisi, pemegang hak siar menuntut pemblokiran lebih ketat. Di sisi lain, perusahaan VPN mempertahankan prinsip privasi pengguna dan sistem layanan tanpa pencatatan aktivitas.

Topik Menarik