Kapten Mehdi Taremi: FIFA Tak Adil, Iran Sendirian dan Tidak Ada yang Membantu Kami
Kapten Timnas Iran, Mehdi Taremi, melontarkan kritik tajam kepada FIFA dan Presidennya, Gianni Infantino, usai laga terakhir Grup G Piala Dunia 2026. Striker Olympiacos itu menilai penyelenggaraan turnamen berlangsung tidak adil bagi Team Melli karena berbagai persoalan di luar lapangan yang tak kunjung diselesaikan.
Kekecewaan Iran memuncak setelah hanya bermain imbang 1-1 melawan Mesir. Hasil tersebut membuat mereka gagal memastikan tiket otomatis ke babak 32 besar dan kini harus menunggu hasil pertandingan grup lain untuk mengetahui nasib sebagai salah satu tim peringkat ketiga terbaik.
Menurut Taremi, sejak awal turnamen Iran sudah menghadapi berbagai kendala yang mengganggu persiapan tim. Salah satu masalah terbesar adalah keterlambatan penerbitan visa yang membuat sejumlah anggota staf penting tidak bisa mendampingi skuad. Selain itu, Iran juga harus bolak-balik dari Tijuana, Meksiko, menuju Amerika Serikat untuk menjalani pertandingan, sesuatu yang dinilai menguras tenaga para pemain.
"Turnamen ini benar-benar berantakan. FIFA seharusnya mampu menyelesaikan persoalan-persoalan seperti ini sejak awal, tetapi kenyataannya tidak terjadi," kata Taremi.
Pemain berusia 33 tahun itu mengungkapkan bahwa Gianni Infantino sempat menemui para pemain Iran di ruang ganti seusai laga pertama melawan Selandia Baru dan menjanjikan solusi atas berbagai kendala yang mereka alami. Namun, menurut Taremi, hingga fase grup berakhir tidak ada perubahan berarti."Kami tidak memiliki staf logistik maupun tim pemulihan yang lengkap karena persoalan visa. Sebagai tim profesional yang tampil di ajang sebesar Piala Dunia, situasi seperti ini jelas tidak bisa diterima," ujarnya.
Taremi bahkan mempertanyakan komitmen FIFA dalam menjamin perlakuan yang setara bagi seluruh peserta. Ia mengaku timnya terus menyampaikan keluhan, tetapi merasa tidak pernah memperoleh bantuan nyata.
"Kami hanya menginginkan perlakuan yang adil. Kalau menurut FIFA semua ini sudah adil, silakan saja. Tetapi menurut kami jelas tidak demikian. Tidak ada seorang pun yang benar-benar membantu kami," tegasnya.
Nada serupa disampaikan pelatih Amir Ghalenoei. Ia menilai berbagai kebijakan yang diterapkan tuan rumah telah merugikan persiapan Iran sepanjang turnamen. Ketegangan politik antara Amerika Serikat dan Iran membuat Team Melli harus memindahkan pusat latihan ke Meksiko menjelang Piala Dunia, sehingga proses pemulihan dan persiapan pertandingan menjadi jauh lebih sulit.
"Saya tahu Pak Infantino telah berusaha membantu, tetapi perlakuan yang kami terima dari tuan rumah sangat mengecewakan. Saya berharap FIFA berani mengambil sikap agar kejadian seperti ini tidak terulang pada turnamen berikutnya," kata Ghalenoei.Meski dibayangi berbagai persoalan nonteknis, Ghalenoei tetap bangga terhadap perjuangan para pemainnya. Menurutnya, Iran mampu menunjukkan daya juang tinggi di tengah situasi yang tidak mudah.
"Kami datang dengan membawa banyak beban, termasuk kondisi negara kami yang sedang dilanda konflik. Terlepas dari semua hambatan itu, para pemain tetap memberikan segalanya di lapangan. Saya yakin rakyat Iran bisa bangga dengan perjuangan tim ini," tuturnya.
Peluang Iran untuk lolos ke babak 32 besar masih terbuka melalui jalur delapan tim peringkat ketiga terbaik. Namun, Team Melli kini tidak lagi menentukan nasibnya sendiri dan harus berharap hasil pertandingan di grup lain berpihak kepada mereka.









