Kelompok Suporter Eropa Kritik FIFA: Tribun Piala Dunia 2026 Minim Pemisahan Penonton

Kelompok Suporter Eropa Kritik FIFA: Tribun Piala Dunia 2026 Minim Pemisahan Penonton

Olahraga | sindonews | Rabu, 17 Juni 2026 - 05:44
share

Penyelenggaraan Piala Dunia 2026 mendapat sorotan dari kelompok suporter sepak bola Eropa. Direktur Eksekutif Football Supporters Europe (FSE), Ronan Evain, menilai minimnya pemisahan antara pendukung dari tim yang bertanding berpotensi menimbulkan risiko keamanan di stadion.

Sejauh fase grup berlangsung, sejumlah pertandingan memperlihatkan suporter dari kedua negara duduk bercampur di tribun. Situasi ini berbeda dengan praktik yang lazim diterapkan dalam pertandingan sepak bola internasional, di mana pendukung tim lawan biasanya ditempatkan di area terpisah.

"Ketidakhadiran pemisahan penonton bukanlah hal yang normal untuk turnamen seperti ini," kata Evain dikutip dari BBC Sport, Rabu (17/6/2026).

Baca Juga:Kylian Mbappe Cetak 2 Rekor Bersejarah di Piala Dunia 2026

Menurutnya, kondisi tersebut terjadi karena FIFA dinilai telah kehilangan kendali atas distribusi dan penjualan kembali tiket pertandingan. "Yang mengkhawatirkan adalah FIFA sebenarnya tidak mengetahui siapa yang memegang tiket di berbagai area stadion, terutama karena begitu gencar mendorong pembelian dan penjualan kembali tiket. Risiko suporter dari satu tim berada di tengah kelompok pendukung lawan menjadi lebih besar dari sebelumnya," ujarnya.Evain menyampaikan kekhawatirannya saat berada di Dallas, tempat ia menyaksikan langsung suporter Belanda dan Jepang bercampur di tribune saat kedua tim bertanding. Ia mengakui situasi tersebut mungkin masih bisa diatasi dengan penukaran tiket atau perpindahan tempat duduk.

Namun, menurutnya, FIFA memiliki ruang gerak yang terbatas karena tidak mengetahui secara pasti siapa pemilik tiket yang beredar di pasar penjualan kembali. "Ini merupakan risiko tambahan yang sepertinya belum dipertimbangkan secara serius. Ada begitu banyak tiket di platform penjualan kembali dan FIFA tidak memiliki kendali penuh terhadap peredarannya," kata Evain.

Baca Juga:Penalti Mbappe Ditolak, Wasit Piala Dunia 2026 Dicap Arogan

FIFA menegaskan bahwa mereka tetap menerapkan alokasi tiket terbatas bagi pendukung resmi. Setiap asosiasi anggota yang berpartisipasi (PMA) mendapatkan jatah sekitar delapan persen dari total tiket di setiap pertandingan timnya, sama seperti edisi-edisi Piala Dunia sebelumnya.

Selain persoalan tiket, Evain juga menyoroti kebijakan terkait penggunaan bendera di stadion. Ia mengungkapkan bahwa sejumlah suporter dilarang membawa atau mengibarkan bendera saat pertandingan di Dallas, yang menurutnya bertentangan dengan aturan yang selama ini berlaku di turnamen FIFA."Di banyak stadion, bendera tidak menjadi masalah. Karena itu, sulit memahami apa sebenarnya kebijakan yang diterapkan dan mana yang hanya improvisasi dari petugas setempat," ujarnya.

Menurut Evain, sebagian besar bendera disita oleh petugas stadion. Ia menilai kondisi ini menunjukkan tidak adanya aturan yang konsisten di seluruh venue Piala Dunia 2026.

Dalam panduan resmi untuk suporter, FIFA menyebut bendera kecil, spanduk, dan poster yang terbuat dari bahan tahan api diperbolehkan dibawa ke stadion. Namun, atribut berukuran lebih besar harus mendapatkan persetujuan terlebih dahulu. FIFA juga melarang bendera yang bersifat politis, ofensif, atau diskriminatif.

Pada Senin (16/6/2026), FIFA bahkan memenangkan sidang pengadilan di Los Angeles yang melarang pendukung Iran membawa bendera pra-revolusi karena dikategorikan sebagai simbol politik. Meski demikian, Evain mengklaim sejumlah bendera non-politik juga ikut disita oleh petugas di stadion.

"Masalah utamanya adalah kurangnya kejelasan. Suporter seharusnya mengetahui aturan sebelum berangkat ke stadion, tetapi itu tidak terjadi. Sangat tidak jelas apa yang boleh dan tidak boleh dibawa, mulai dari bendera, tas, drum, hingga spanduk," katanya.

Evain pun memperingatkan bahwa Piala Dunia 2026 berisiko menjadi turnamen dengan penerapan aturan yang berbeda-beda di setiap stadion. "FIFA tampaknya gagal menerapkan aturan secara konsisten. Apa yang kami lihat di Dallas menunjukkan pemahaman petugas lebih mengacu pada aturan pertandingan NFL daripada kode etik FIFA sendiri," tutupnya.

Topik Menarik