Kontroversi Piala Dunia 2026 dan Sikap Santai Infantino: Kenapa Dulu Coret Indonesia?
Di tengah berbagai kontroversi menjelang Piala Dunia 2026, Presiden FIFA Gianni Infantino memilih meredam kekhawatiran dengan satu pesan sederhana: "Santai saja."
Padahal, masalah yang muncul tidak bisa dibilang sepele. Wasit terbaik Afrika asal Somalia, Omar Artan, ditolak masuk ke Amerika Serikat setelah menjalani interogasi selama 11 jam. Striker Irak Aymen Hussein juga sempat ditahan berjam-jam di bandara.
Sementara itu, Iran dipaksa memindahkan markas tim ke Meksiko karena berbagai pembatasan visa dan perjalanan. Namun ketika ditanya soal kasus-kasus tersebut, Infantino tidak mengkritik pemerintah AS.
Baca Juga: Piala Dunia 2026: Meksiko Bidik Start Sempurna, Afrika Selatan Jadi Korban Pertama?Infantino hanya menyebut kejadian yang menimpa Artan sebagai "sangat disayangkan" dan menegaskan bahwa FIFA tidak bisa mengendalikan semua hal. Sikap itu memicu kritik.
FIFA pernah mencabut status tuan rumah Indonesia untuk Piala Dunia U-20 2023 karena penolakan terhadap Israel. Kini, ketika negara peserta menghadapi hambatan masuk ke AS, FIFA justru mengaku tidak berdaya. Infantino bahkan membela Presiden Donald Trump. "Saya tidak menyesali apa pun. Saya memiliki hubungan yang baik dengan Presiden Trump. Saya sangat senang akan hal itu. Tanpa keterlibatan dan partisipasinya, saya pikir mustahil untuk menyelenggarakan Piala Dunia di Amerika Serikat," kata Infantino dikutip dari BBC, Kamis (11/6/2026).
Baca Juga: Apa yang Terjadi Sehari Sebelum Kick-Off Piala Dunia 2026?
Menurutnya, penyelenggaraan Piala Dunia 2026 di Amerika Serikat hampir mustahil tanpa dukungan penuh dari Trump dan pemerintahannya. Kontroversi lain datang dari harga tiket.
FIFA menghadapi tuduhan menaikkan harga secara artifisial dan menyesatkan penggemar. Sejumlah jaksa agung negara bagian AS telah membuka penyelidikan, tetapi Infantino menepisnya sebagai keluhan dari segelintir orang dan menegaskan harga yang diterapkan sudah sesuai dengan pasar Amerika Utara.
Bagi banyak penggemar yang kesulitan membeli tiket, serta mereka yang mengalami hambatan masuk ke AS, penjelasan itu tentu tidak memberikan banyak ketenangan. Pada akhirnya, kritik terbesar bukan sekadar soal visa atau tiket.
Banyak pihak menilai FIFA telah kehilangan pengaruhnya terhadap turnamen terbesar mereka sendiri. Dan ketika diberi kesempatan untuk menekan pemerintah tuan rumah demi kepentingan peserta dan penggemar, Infantino justru memilih mempertahankan hubungan baik dengan Trump.
Bagi Omar Artan dan mereka yang terdampak kebijakan imigrasi AS, mungkin FIFA tidak hanya perlu berkata "santai saja". Mungkin FIFA seharusnya memperjuangkan lebih banyak hal.










