Panjat Tebing Indonesia Diterpa Isu Pelecehan Seksual, Coach Hendra Basir Dicopot Akhirnya Buka Mulut

Panjat Tebing Indonesia Diterpa Isu Pelecehan Seksual, Coach Hendra Basir Dicopot Akhirnya Buka Mulut

Olahraga | sindonews | Kamis, 26 Februari 2026 - 09:10
share

Kasus dugaan pelecehan seksual menggegerkan dunia olahraga Tanah Air. Federasi Panjat Tebing Indonesia yang tengah naik daun berkat prestasi atletnya kini diterpa skandal pelecehan yang menyeret nama pelatih aktif Hendra Basir.

Pelatih panjat tebing, Hendra Basir, telah membantah tuduhan kekerasan fisik dan pelecehan seksual terhadap atlet. Dia memaparkan kronologi versinya atas polemik yang berujung penonaktifan tersebut.

Hendra dinonaktifkan oleh Federasi Panjat Tebing Indonesia (FPTI) menyusul dugaan kekerasan fisik dan pelecehan kepada delapan atlet tim nasional Indonesia. Penonaktifan itu berlaku per 9 Februari 2026 berdasarkan Surat Keputusan 0209/SKP/PP.NAS/1I/2026 tentang Penonaktifan Sementara Kepala Pelatih Pelatnas FPTI.

Dalam SK tersebut dijelaskan bahwa dugaan muncul setelah adanya pengaduan dari delapan atlet Pelatnas FPTI. Mereka didampingi psikolog Pelatnas dan menyampaikan laporan kepada Ketua Umum Yenny Wahid pada 28 Januari 2026.

Hendra menegaskan hingga kini dirinya belum menerima undangan atau surat klarifikasi resmi. Dia juga menyarankan pertanyaan mengenai berbagai tuduhan itu ditanyakan langsung kepada atlet yang bersangkutan.

"Ya saya sampai saat ini kan belum ada undangan atau surat klarifikasi terkait tuduhan dan dugaan penganiayaan dan pelecehan seksual," kata Hendra saat dihubungi awak media, termasuk iNews Media Group via telepon, Rabu (25/2/2026). "Jadi silakan ditanyakan ke delapan atlet itu saja. Apakah tuduhan pelecehan seksual, dan setahu saya kan ada lima atlet putra dan tiga atlet putri tuh yang mengadu ke Ibu Ketum (Yenny Wahid) gitu," tambahnya.

Hendra menyebut selama 15 tahun melatih, pola kepelatihannya tidak pernah berubah dan dikenal keras. Dia menilai karakter tersebut sudah menjadi bagian dari gaya melatihnya sejak awal berkarier.

"Saya udah 15 tahun ngelatih, ya kalau memang pola latihannya keras, ya memang, ya memang gaya, karakteristik melatih saya seperti itu gitu kan," ucap Hendra.

"Kalau nggak perform dan lain-lain, ada momen tertentu yang memang eh misalkan saya tempeleng pakai sepatu atau apa, ya kira-kira gitu. Jadi kalau memang itu dikatakan bahwa itu tindakan kekerasan, ya saya siap menerima konsekuensinya gitu," sambungnya.

Terkait dugaan pelecehan seksual, Hendra mengaku tidak memahami tindakan mana yang dimaksud. Dia menyebut dalam pendekatannya pernah memeluk dan mencium kening atlet putri saat dalam kondisi terpuruk untuk memberi dukungan. Hendra menegaskan, tidak ada maksud melecehkan seperti yang dituduhkan kepadanya.

"Ya sekali lagi sampai saat ini saya juga masih belum tahu tuduhan pelecehan seksualnya di bagian mananya gitu kan. Apakah itu dengan memeluk dan mencium kening itu adalah bagian dari pelecehan seksual? Itu ya saya nggak tahu. Karena memang pola pendekatan kepelatihan saya setiap kali harus saya lakuin kayak begitu tuh gitu," terang Hendra."Jadi tidak ada yang di-framing sekarang ini kan pelecehan seksual seperti kayak alat vital lah, segala macam payudara dan lain-lain dipegang, itu kan sangat jauh dari itu saya. Saya ya silakan saja ditanyakan. Yang jelas saya tidak melakukan hal-hal yang dituduhkan seperti yang di luar batas lah gitu," jelasnya menambahkan.

Hendra kemudian memaparkan kronologi yang menurutnya menjadi awal persoalan pada 15 Januari 2026. Pelatih panjat tebing itu mengaku menegur salah satu atlet senior yang dinilai berlatih secara arogan dan kurang menjaga etika.

"Di latihan juga ada standar batas lah, batas kewajaran itu boleh teriak atau apa. Dan itu sudah berkali-kali saya tegur, tapi ternyata tetep aja nggak berubah," ucap dia.

"Jadi, ya dari situ akhirnya kelihatan koalisi-koalisi dari mereka tuh. Kayak memang mungkin nggak nyaman dengan pola kepelatihan saya gitu. Akhirnya mereka ngadu lah langsung ke ini, ke Ibu Ketum," terangnya menambahkan.

Menurut Hendra, persoalan itu sebenarnya telah selesai dua hari setelah kejadian. Dia mengaku sudah berpamitan secara lisan kepada para atlet dan memilih pulang ke rumah pada 18 Januari 2026."Ya pokoknya saya sudah balik itu kurang lebih sudah lama, saya 18 Januari balik ke rumah gitu kan. Karena saya merasa kecewa karena tuduhan pelecehan seksual itu tuh. Yang di-framing sama temen-temen atlet senior gitu kan. Jadi saya bilang, saya mending pulanglah daripada berjuang buat negara tapi ujung-ujungnya diginiin gitu," tuturnya.

"Nah, dalam proses saya pulang ini, ternyata di tanggal 28 Januari rame tuh. Nah, baru tanggal 13 Februari saya dapat surat itu, surat penonaktifan, yang tertandatangan di tanggal 9 Februari. Artinya bisa saja surat itu beredar dulu sebelum saya terima gitu kan," tambahnya.

Hendra mempertanyakan alur waktu tersebut karena merasa tidak pernah dimintai klarifikasi. Namun, pada akhirnya Hendra memilih bersikap legawa untuk menyelesaikan persoalan ini.

"Jadi buat saya ini sudah pembunuhan karakter. Karena tidak ada proses tabayyun dulu ke saya. Apakah benar delapan orang ini, lima putra, tiga putri ini begini ceritanya gitu kan. Itu kan buat saya sudah nggak fair gitu. Tapi ya saya terima, nggak apa-apa. Toh juga dengan ini pun saya juga udah cukuplah di tim nasional gitu," jelas Hendra Basir.

Dia menegaskan pendekatan yang dilakukan sejak 2012 merupakan bagian dari metode kepelatihannya di Pelatnas FPTI. Hendra siap menerima konsekuensi jika pola kerasnya dinilai sebagai kekerasan fisik, namun menolak tuduhan pelecehan seksual."Kalau itu dijadikan sebuah isu utama, saya terima. Saya marah di situ. Ini ada konteks berlatihnya lah. Intinya tidak tidak jauh dari situ," ucapnya.

"Tetapi isu tentang pelecehan itu, itu yang bikin saya aduh, gila gua sebegitunya untuk negara, keluarga gua tinggal dan segala macam, tapi adek-adek gue berkoalisi, atlet-atlet senior berkoalisi untuk menjelekkan dengan isu begitu, itu udah soal harga diri ini," tukasnya.

Sementara itu, PP FPTI dikabarkan telah membentuk tim pencari fakta untuk menyelesaikan kasus ini. Senyampang dengan itu, Hendra Basir masih berstatus dinonaktifkan sementara dari jabatan pelatih tim panjat tebing Indonesia.

Sebelumnya ramai diperbincangkan, Federasi Panjat Tebing Indonesia menonaktifkan sementara pelatih Hendra Basir imbas dugaan kekerasaan seksual dan kekerasan fisik terhadap atlet. Sementara investigasi berjalan, atlet-atlet yang diduga menjadi korban mendapatkan pendampingan.

Pada 28 Januari 2026 sebanyak delapan atlet panjat tebing Pelatnas FPTI, yang didampingi oleh psikolog Pelatnas FPTI, telah menyampaikan pengaduan kepada Ketua Umum PP FPTI. Pengaduan itu tentang dugaan adanya tindakan pelecehan seksual dan kekerasan fisik yang terjadi di lingkungan Pelatnas FPTI.

Topik Menarik