Kisah Sportivitas Pebulutangkis Christian Hadinata, Koreksi Keputusan Wasit demi Fair Play di Final Piala Thomas

Kisah Sportivitas Pebulutangkis Christian Hadinata, Koreksi Keputusan Wasit demi Fair Play di Final Piala Thomas

Olahraga | okezone | Kamis, 26 Februari 2026 - 09:55
share

DALAM panggung bulu tangkis dunia, nama Christian Hadinata atau yang akrab disapa Koh Chris, adalah jaminan mutu bagi tim beregu putra Indonesia. Sejak debutnya di tahun 1973 hingga 1986, legenda spesialis ganda ini memiliki catatan luar biasa, ia selalu berhasil menyumbangkan poin bagi Merah Putih di setiap laga final yang ia mainkan.

Namun, lebih dari sekadar angka dan medali, ada satu momen di Istora Senayan yang mengabadikan namanya sebagai simbol sportivitas sejati.

1. Kejujuran Lebih Utama dari Poin

Momen ikonik tersebut terjadi pada final Piala Thomas 1986 di Jakarta. Christian Hadinata yang berpasangan dengan Hadibowo tengah berhadapan dengan wakil China, He Sangquan/Jiang Guoliang.

Setelah mengamankan gim pertama, tensi memuncak di gim kedua saat Indonesia memimpin 12-9. Sebuah smash keras dari pemain China meluncur dan jatuh di luar lapangan. Wasit pun langsung memberikan poin untuk Indonesia.

Namun, sebuah pemandangan langka terjadi. Bukannya merayakan poin, Christian justru mendatangi wasit.

Christian Hadinata PB Djarum

Christian secara jujur mengakui sebelum shuttlecock jatuh di luar arena, bulu unggas tersebut sempat menyentuh rambutnya. Pengakuan ini membuat wasit menganulir poin Indonesia dan memberikannya kepada lawan.

Meski tindakan ini berisiko secara teknis, Koh Chris menunjukkan bahwa fair play adalah jiwa dari setiap pertandingan, sebuah pelajaran berharga bagi seluruh atlet lintas generasi.

 

2. Dominasi di Enam Edisi dan Empat Gelar Juara

Sepanjang kariernya memperkuat tim Thomas Indonesia sebanyak enam kali, Christian Hadinata dikenal sebagai pemain yang sangat konsisten. Ia tercatat telah mempersembahkan empat gelar juara bagi Indonesia (1973, 1976, 1979, dan 1984) dengan pasangan yang berbeda-beda, mulai dari Ade Chandra, Liem Swie King, hingga Hadibowo.

Salah satu momen paling manis terjadi pada tahun 1976 di Thailand, di mana Christian dan kawan-kawan menyapu bersih Malaysia dengan skor telak 9-0. Begitu pula pada tahun 1979, saat ia bersama Liem Swie King turut andil dalam kemenangan mutlak 9-0 atas Denmark.

Sayangnya, meski Christian memenangkan laga ganda pada final 1986, Indonesia harus puas menjadi runner-up setelah kalah tipis 2-3 dari China. Kekalahan itu menjadi salah satu momen paling mengecewakan bagi Koh Chris, namun integritas yang ia tunjukkan di lapangan tetap menjadikannya juara di hati para pecinta bulu tangkis dunia.

Topik Menarik