Ekonomi RI Tumbuh 5,47 Persen, Lampaui China hingga Jepang, Ini Faktanya
JAKARTA – Perekonomian Indonesia tumbuh 5,47 persen secara tahunan (year-on-year/yoy) pada kuartal III 2026. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat pertumbuhan tersebut ditopang oleh konsumsi rumah tangga, investasi, belanja pemerintah, serta kinerja ekspor yang tetap positif.
Konsumsi rumah tangga masih menjadi motor utama perekonomian dengan kontribusi sebesar 51,97 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB). Sementara itu, Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) atau investasi menyumbang 30,81 persen terhadap PDB.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyebut pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 5,47 persen melampaui sejumlah negara mitra dagang utama, termasuk China, Korea Selatan, Jerman, dan Jepang.
Di sisi lain, Menteri Keuangan Suahasil Nazara menegaskan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) berperan penting dalam menjaga daya beli masyarakat, mendukung aktivitas dunia usaha, serta meredam tekanan eksternal.
Berikut empat fakta utama pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 5,47 persen pada kuartal III 2026:
IHSG Hari Ini Dibuka Menguat ke 6.210
1. Ekonomi RI Tumbuh 5,47 Persen, Konsumsi Rumah Tangga Jadi Penopang Utama
BPS mencatat pertumbuhan ekonomi Indonesia mencapai 5,47 persen secara tahunan pada kuartal III 2026. Dari sisi pengeluaran, konsumsi rumah tangga menjadi komponen dengan kontribusi terbesar terhadap PDB, yakni 51,97 persen.
Deputi Bidang Neraca dan Analisis Statistik BPS M. Edy Mahmud mengatakan konsumsi rumah tangga tumbuh 5,04 persen secara tahunan. Kondisi tersebut menunjukkan permintaan domestik dan daya beli masyarakat masih menjadi penggerak utama perekonomian nasional.
"Komponen pengeluaran yang memberikan kontribusi terbesar pada PDB adalah konsumsi rumah tangga dengan kontribusi sebesar 51,97 persen pada triwulan III 2026," kata Edy dalam rilis BPS di Jakarta, Kamis (5/11/2026).
Selain konsumsi rumah tangga, investasi melalui PMTB memberikan kontribusi sebesar 30,81 persen terhadap PDB. Dengan demikian, kedua komponen tersebut secara bersama-sama menyumbang 82,78 persen terhadap perekonomian nasional.
Sementara itu, konsumsi pemerintah mencatatkan pertumbuhan tertinggi di antara komponen pengeluaran, yakni sebesar 8,95 persen secara tahunan. Angka tersebut meningkat dibandingkan pertumbuhan sebesar 5,66 persen pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Kenaikan konsumsi pemerintah terutama didorong oleh peningkatan belanja barang sebesar 39,7 persen dan belanja pegawai sebesar 10,3 persen. Percepatan realisasi sejumlah program pemerintah, termasuk Makan Bergizi Gratis (MBG) dan Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP), turut mendukung aktivitas ekonomi.
2. APBN dan Investasi Jadi Penggerak, Penanaman Modal Tembus Rp528,7 Triliun
Menteri Keuangan Suahasil Nazara mengatakan APBN berperan penting dalam menjaga momentum pertumbuhan ekonomi nasional. Pemerintah menggunakan instrumen fiskal untuk mempertahankan daya beli masyarakat, mendukung aktivitas dunia usaha, serta mengantisipasi dampak tekanan eksternal.
"APBN berperan penting dalam menjaga daya beli masyarakat, mendukung aktivitas dunia usaha, dan meredam dampak tekanan eksternal. Pemerintah akan terus mengoptimalkan APBN untuk menjaga stabilitas sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi, didukung penguatan koordinasi kebijakan fiskal, moneter, dan sektor keuangan," ujar Suahasil dalam keterangan resmi di Jakarta, Kamis (5/11/2026).
Selain konsumsi masyarakat, investasi juga menjadi penopang pertumbuhan ekonomi. BPS mencatat PMTB tumbuh 6,06 persen secara tahunan pada kuartal III 2026.
Dari sisi komponennya, investasi bangunan tumbuh 6,39 persen, sedangkan investasi kendaraan meningkat 12,96 persen. Sementara itu, Penanaman Modal Asing (PMA) mencatatkan pertumbuhan sebesar 27,4 persen secara tahunan.
Airlangga Hartarto mengungkapkan realisasi investasi Indonesia pada kuartal III 2026 mencapai Rp528,7 triliun atau tumbuh 7,6 persen secara tahunan. Investasi tersebut menyerap 745.634 tenaga kerja.
Investasi pada sektor hilirisasi juga menunjukkan perkembangan positif. Nilainya mencapai Rp179,9 triliun atau meningkat 19,4 persen secara tahunan.
Di sisi perdagangan internasional, ekspor barang dan jasa tumbuh 4,59 persen secara tahunan. Kinerja tersebut didukung ekspor CPO, batu bara, serta produk hilirisasi nikel, tembaga, dan aluminium.
Sementara itu, impor barang dan jasa meningkat 7,31 persen secara tahunan. Kenaikan impor terutama digunakan untuk memenuhi kebutuhan bahan baku, barang modal, dan penunjang kegiatan industri.
3. Industri Pengolahan hingga Pariwisata Jadi Motor Pertumbuhan Sektor Usaha
Dari sisi lapangan usaha, industri pengolahan menjadi salah satu motor utama pertumbuhan ekonomi nasional. Sektor manufaktur tersebut tumbuh 5,87 persen secara tahunan dengan kontribusi sebesar 19,22 persen terhadap PDB.
Sejumlah subsektor industri mencatatkan pertumbuhan positif. Industri logam dasar tumbuh 9,94 persen, industri kimia dan farmasi sebesar 8,10 persen, serta industri makanan dan minuman sebesar 7,09 persen. Sementara itu, industri otomotif tumbuh 6,14 persen.
Sektor konstruksi juga mencatatkan pertumbuhan sebesar 6,42 persen secara tahunan. Perkembangan tersebut didukung percepatan pembangunan infrastruktur, program perumahan, KDKMP, dan Sekolah Rakyat.
Sektor perdagangan tumbuh 7,14 persen, seiring peningkatan volume penjualan mobil penumpang sebesar 25,95 persen dan sepeda motor sebesar 8,92 persen.
Sementara itu, sektor penyediaan akomodasi dan makan minum tumbuh 11,2 persen. Kinerja tersebut didukung peningkatan perjalanan wisatawan nusantara sebesar 7,05 persen.
Selain itu, sektor informasi dan komunikasi tumbuh 7,13 persen. Peningkatan penggunaan transaksi elektronik dan trafik data menjadi salah satu faktor pendukung pertumbuhan sektor tersebut.
Airlangga juga mencatat sektor jasa lainnya tumbuh 11,22 persen dan jasa keuangan sebesar 8,47 persen secara tahunan.
Meski mayoritas sektor usaha tumbuh positif, sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan hanya tumbuh 0,46 persen. Perlambatan tersebut dipengaruhi kemarau panjang akibat El Nino yang menekan produksi tanaman pangan dan perkebunan.
Di sisi lain, sektor pertambangan dan penggalian kembali mencatatkan pertumbuhan positif sebesar 0,91 persen setelah mengalami kontraksi selama empat triwulan berturut-turut.
4. Pertumbuhan Ekonomi Lampaui Sejumlah Negara, Pengangguran Turun Jadi 4,75 Persen
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyebut pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 5,47 persen pada kuartal III 2026 melampaui sejumlah negara mitra utama, seperti China, Korea Selatan, Jerman, dan Jepang.
"Di tengah ketidakpastian itu pertumbuhan ekonomi kita masih baik, yaitu pertumbuhan sebesar 5,47 persen secara year on year," ujar Airlangga dalam konferensi pers di Jakarta, Kamis (5/11/2026).
Secara spasial, pertumbuhan ekonomi berlangsung di seluruh wilayah Indonesia. Bali dan Nusa Tenggara mencatatkan pertumbuhan tertinggi sebesar 6,08 persen secara tahunan.
Pulau Jawa tumbuh 5,84 persen dan tetap menjadi kontributor utama perekonomian nasional. Selanjutnya, Sulawesi tumbuh 5,68 persen, Sumatera 4,95 persen, Maluku dan Papua 4,42 persen, serta Kalimantan 3,96 persen.
Pertumbuhan ekonomi tersebut juga diikuti peningkatan penyerapan tenaga kerja. Airlangga menyebut jumlah penduduk bekerja bertambah 1,44 juta orang menjadi 147,99 juta orang.
Sementara itu, tingkat pengangguran terbuka turun menjadi 4,75 persen. Pemerintah juga mencatat angka kemiskinan menurun menjadi 8,07 persen.
Berdasarkan data ketenagakerjaan, sektor pertanian menyerap tenaga kerja terbesar dengan porsi 28,20 persen. Posisi berikutnya ditempati sektor perdagangan sebesar 17,86 persen dan industri pengolahan sebesar 13,75 persen.
Airlangga optimistis momentum pertumbuhan ekonomi nasional masih akan berlanjut pada kuartal IV 2026.
"Momentum ekonomi ini diperkirakan tetap positif untuk memasuki kuartal IV," pungkasnya








