Ikuti Jejak MUI, Gabungan Elemen Masyarakat Sipil Tolak Konser Andrea Bocelli di Indonesia
JAKARTA - Setelah sebelumnya ditolak oleh MUI, gelaran konser Andrea Bocelli, bertajuk Romanza 30th Anniversary World Tour di Indonesia mendapat penolakan keras dari gabungan elemen masyarakat sipil.
Sejumlah lembaga yang tergabung dalam koalisi ini menyatakan keberatan atas rencana pertunjukan yang dijadwalkan berlangsung di Candi Borobudur, Magelang, pada 31 Oktober 2026 dan JiExpo Kemayoran, Jakarta, pada 3 November 2026.
Penolakan tersebut disuarakan oleh gabungan organisasi yang terdiri dari Global Peace Convoy Indonesia (GPCI), Koalisi Indonesia Bela Beitul Maqdis (KIBBM), dan Serikat Jurnalis Muslim Indonesia (SAJID). Pernyataan sikap bersama ini disampaikan dalam konferensi pers yang digelar di AQL Islamic Center, Tebet, Jakarta Selatan, Sabtu (31/10/2026).
“Kami menyatakan menolak kedatangannya, menolak konsernya, dan mengajak kepada masyarakat untuk tidak menjadi bagian yang anti-kemanusiaan sesungguhnya,” kata Pembina GPCI, K.H Bachtiar Nasir dalam konferensi pers.
Penolakan tersebut bukan tanpa alasan, ia menilai bahwa Indonesia sendiri menjadi salah satu negara yang sejak dahulu konsisten membela kemerdekaan Palestina. Hal tersebut juga selaras dengan Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 dimana penjajahan di atas dunia harus dihapuskan.
“Sebagai sebuah bangsa yang sangat menjunjung tinggi nilai-nilai kebangsaan kami lewat Pembukaan Undang-Undang Dasar '45 bahwa penjajahan di muka bumi harus dihapuskan karena memang tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan perikeadilan,” ucapnya.
Sementara, Bachtiar Nasir menilai Bocelli memiliki rekam jejak kamanusiaan dalam membela kemerdekaan dan menyuarakan penjajahan Israel terhadap Palestina. Menurutnya, tidak ada ungkapan secara langsung dari Bocelli bahwa dirinya berpihak kepada hal tersebut secara adil.
"Kita ketahui bersama, sampai hari ini tidak ada pernyataan dari Bocelli langsung bahwa ia betul-betul berpihak kepada kemanusiaan secara adil, yang kami dapati tentu tidak berimbang. Kalaupun ada penyataan, hanya dari pihak penyelenggara. Tidak ada penyataan langsung dari Bocelli sebelum diselenggarakannya konser," tuturnya.
Oleh karena itu, Bachtiar Nasir menduga, konser Bocelli yang digelar di Indonesia bukanlah konser biasa. Ia menduga adanya agenda tersendiri yang dibawa ke Indonesia, mengingat konser tersebut digelar di beberapa situs besar di dunia. Seperti Candi Borobudur di Indonesia, Petra di Yordania, dan Dubai pada Desember mendatang.
“Sebuah rangkaian yang kelihatannya memang memiliki agenda besar sebagai seseorang yang dikenal sangat pro kepada Zionis Israel,” ujarnya.
Sementara itu, Aktivis Kemanusiaan, Muhammad Husein atau dikenal dengan Husein Gaza, mengungkapkan berbagai rekam jejak dari Bocelli yang diduga pro terhadap Israel. Bahkan, ia menduga Bocelli merupakan kontributor utama dari IDF.
“Kalau kita menarik tahun 2010, kita bayangkan, kita berada di atas panggung itu, dalam suasana di mana malam itu Bocelli berhasil mengumpulkan USD9 juta, bernilai Rp170 miliar. Kita bayangkan, hari itu, ketika diumumkan 'Friends of IDF', mendapatkan 9 juta dari acara ini. Masyarakat, Bocelli, dan juga audiens hari itu bertepuk tangan secara penuh, secara sadar bahwa uang itu akan digunakan untuk membantai anak Gaza,” jelasnya.
Menurutnya, hal tersebut merupakan suatu kejahatan kemanusiaan. Terlebih, narasi tersebut dibawa dalam gelaran konser Bocelli di Indonesia, di tengah sikap masyarakat dan negara Indonesia yang menolak keras penjajahan dan zionisme Israel terhadap Palestina.
Selain itu, Husein juga menuturkan, konser ini menjadi pola yang mirip dilakukan oleh zionis terhadap berbagai negara yang menolak mereka. Salah satunya dengan hiburan.
“Mereka menarget anak-anak muda, generasi-generasi muslim Indonesia, bahkan mereka terang-terangan berusaha untuk mengubah kurikulum Indonesia. Jadi alangkah naif, alangkah bodoh kalau kita terlalu polos bahwa kedatangan ini tidak ada disusupi agenda zionis di dalamnya,” tegasnya.
Maka dari itu, ia mengajak seluruh masyarakat Indonesia untuk tampil dan menunjukkan nasionalisme masing-masing lewat penolakan penjajahan Israel atas Palestina di beberapa titik penyelenggaraan konser Bocelli.
“Maka dari itu, saya mengajak seluruh masyarakat Indonesia, terutama yang berada di titik-titik lokasi Andrea Bocelli akan tampil, buktikan bahwa kita punya nasionalisme, kita konsisten dan komitmen terhadap UUD 45 menolak bentuk penjajahan,” pungkas dia.









