Raffi Ahmad Diboikot, Amy Qanita Curhat soal Kebencian
JAKARTA - Raffi Ahmad menjadi sorotan publik setelah hadir dalam Deklarasi Sumpah Pemuda di kawasan Bundaran Hotel Indonesia (HI), Jakarta Pusat, pada 29 Oktober 2026. Akibat aksi tersebut, netizen ramai menyerukan boikot pada suami Nagita Slavina tersebut.
Bahkan festival musik yang digagas perusahaan sang presenter di Stadion Maguwoharjo, Sleman, pada 31 Oktober hingga 1 November 2026 pun turut terdampak. Guyon Waton, Wawes, Masdddho, dan Tipe-X pun mengumumkan mundur dari daftar line-up acara tersebut.
Tak hanya itu, para pelaku UMKM yang seharusnya meramaikan festival musik itu pun ramai-ramai membatalkan keterlibatan mereka. Di tengah ramainya boikot atas Raffi Ahmad, sang ibu pun memberikan tanggapan dengan mengunggah sebuah pesan.
Melalui Story Instagram, Amy Qanita menuliskan sebuah pesan yang mengajak orang-orang untuk tetap berpikir kritis tanpa kehilangan rasa kasih sayang. “Jagalah dua hal ini dalam hidup: 1.Kejernihan akal 2.Kelembutan hati,” bunyi unggahannya.
Dalam pesan itu, Amy menjelaskan bahwa akal membantu seseorang melihat sesuatu secara lebih kritis. Sementara itu, hati berperan menjaga agar seseorang tidak kehilangan kasih sayang dan kerendahan hati.
Ia juga menyinggung soal bagaimana seseorang sebaiknya menyikapi kesalahan orang lain. Menurut pesan yang dibagikannya, seseorang tetap bisa mengubah penilaian terhadap orang lain tanpa harus membencinya.
“Kita boleh mengubah penilaian tanpa harus membenci. Boleh menyadari kekurangan seseorang tanpa merasa diri lebih baik. Boleh menjaga jarak tanpa harus menyimpan kebencian,” bunyi lanjutan unggahan tersebut.
Amy Qanita kemudian menutup pesannya dengan mengingatkan pentingnya introspeksi diri. Menurutnya, seseorang tidak hanya perlu mengkritisi orang lain, tetapi juga bersedia mengoreksi kekurangan diri sendiri.
Seruan boikot terhadap Raffi Ahmad bermula dari kehadiran bapak tiga anak itu dalam Deklarasi Sumpah Pemuda Mahasiswa Indonesia di Bundaran HI. Dalam acara itu, dia mengajak generasi muda untuk melawan hoaks, ujaran kebencian, dan provokasi di media sosial.
Namun, kehadirannya justru menuai kritik dan memunculkan berbagai pertanyaan setelah terlihat beberapa kejanggalan dari ‘mahasiswa’ yang terlibat dalam event tersebut. Raffi kemudian merilis pernyataan resmi dan mengklaim diri datang karena diundang.*









