Profil Navi Pillay, Hakim Penerima Nobel Perdamaian 2026

Profil Navi Pillay, Hakim Penerima Nobel Perdamaian 2026

Terkini | okezone | Sabtu, 10 Oktober 2026 - 01:02
share

JAKARTA - Navanethem 'Navi' Pillay baru saja dinobatkan sebagai peraih Hadiah Nobel Perdamaian 2026 pada Jumat (9/10/2026). Komite Nobel menilai hakim berusia 85 tahun ini pantas menerima penghargaan besar tersebut "atas upayanya dalam memajukan perdamaian dan hukum internasional".

Navi Pillay dikenal sebagai tokoh yang teguh memperjuangkan hukum internasional dan telah bertugas sebagai hakim di sejumlah pengadilan internasional terkemuka.

Navanethem Pillay lahir pada tahun 1940 di Durban, Provinsi Natal, Afrika Selatan, dalam keluarga keturunan Tamil India. Pada 1967, ia menjadi perempuan pertama yang membuka praktik hukum di Natal, dan kemudian menjadi perempuan non-kulit putih pertama yang bertugas di Pengadilan Tinggi Afrika Selatan.

Ia kemudian memimpin Pengadilan Pidana Internasional untuk Rwanda (ICTR), yang mengadili pihak-pihak yang didakwa melakukan kejahatan kemanusiaan selama genosida Rwanda tahun 1994.

Pillay juga menjabat sebagai Komisaris Tinggi PBB untuk Hak Asasi Manusia (OHCHR) dari tahun 2008 hingga 2014. Baru-baru ini, ia memimpin Komisi Penyelidikan Internasional Independen PBB untuk Wilayah Palestina yang Diduduki, yang pada tahun lalu menyimpulkan bahwa Israel bertanggung jawab atas aksi genosida di Gaza.

Saat ini, Pillay menjabat sebagai hakim di Mahkamah Internasional (ICJ) dan menangani kasus dugaan genosida oleh Myanmar terhadap minoritas Rohingya.

Ia menjadi warga negara Afrika Selatan kelima yang memenangkan Hadiah Nobel Perdamaian, menyusul jejak Nelson Mandela, FW de Klerk, Uskup Agung Desmond Tutu, dan Albert Luthuli.

 

Dalam pernyataannya, Komite Nobel menyebutkan bahwa "Pillay meminta pertanggungjawaban para pemimpin negara dan nasional, membawa harapan bagi para korban kekerasan dan konflik, serta menunjukkan integritas moral yang teguh sepanjang kariernya yang panjang".

Komite tersebut menyatakan bahwa memberikan penghargaan ini kepada Pillay sangatlah penting pada saat hukum internasional “berada di bawah tekanan hebat dan lembaga-lembaganya sedang diserang”.

Pillay mengatakan bahwa ia mendedikasikan penghargaan tersebut kepada "semua penyintas kejahatan internasional".

"Penghargaan ini memperkuat keyakinan saya bahwa kita harus bersatu demi membela supremasi hukum, membela pengadilan yang independen, serta tatanan hukum internasional yang berlandaskan prinsip," tegasnya.

Topik Menarik