Manfaat Belajar AI, Bisa Pertajam Pengambilan Keputusan Pemimpin Bisnis
SINGAPURA - Transformasi digital dan adopsi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) kini merambah dunia pendidikan tinggi manajemen di Asia Tenggara. NUS Business School mengambil langkah inovatif dengan mengintegrasikan teknologi AI ke dalam kurikulumnya.
Langkah ini dirancang khusus untuk menguji serta mempertajam kemampuan para calon pemimpin bisnis dalam merumuskan pertanyaan yang tepat di tengah arus informasi.
Selama ini, institusi pendidikan bisnis mengandalkan studi kasus konvensional yang menyajikan data secara lengkap kepada mahasiswa untuk dianalisis.
Namun, kehadiran teknologi mengubah lanskap tersebut secara drastis. Mulai Januari 2026, NUS Business School memperkenalkan pendekatan berbasis simulasi AI untuk menciptakan skenario bisnis yang dinamis dan penuh ketidakpastian.
Simulasi canggih ini dikembangkan menggunakan platform ScholAIstic oleh NUS AI Centre for Educational Technologies (AICET). Kolaborasi antara AICET dan Dr. Emir Hrnjic selaku Dosen Senior Departemen Finance NUS Business School menghasilkan pengembangan persona eksekutif yang disesuaikan dengan realitas dunia manajemen. Program ini telah diuji coba kepada hampir 100 mahasiswa tingkat MBA dan Executive MBA di Singapura serta Jakarta.
1. Mengasah Naluri Manusia Melalui Wawancara Eksekutif Virtual
Dalam sesi simulasi, mahasiswa dihadapkan pada situasi di mana mereka harus mewawancarai jajaran direksi virtual seperti CEO, CFO, hingga CPTO. Setiap peran memberikan sudut pandang unik terhadap permasalahan yang sama, menuntut mahasiswa untuk mengevaluasi informasi dan mengambil kesimpulan sendiri. Usai wawancara, mahasiswa memperoleh umpan balik spesifik untuk menyempurnakan teknik bertanya mereka pada sesi berikutnya.
Dr. Hrnjić menjelaskan bahwa tujuan utama metode ini bukanlah menggantikan insting manusia, melainkan mengasahnya.
“Tujuannya bukan menggantikan insting manusia dengan AI, melainkan mengasahnya dengan membantu mahasiswa lebih cermat dalam menentukan informasi apa yang perlu ditanyakan dan dipercaya,” ujar Dr. Hrnjić.
Pendekatan ini dinilai jauh lebih merefleksikan kompleksitas pengambilan keputusan di dunia nyata.
2. Prospek Ekonomi AI
Temuan awal uji coba menunjukkan bahwa efektivitas pemanfaatan AI bergantung pada ketepatan memilih pertanyaan alih-alih kuantitasnya. Analisis transkrip memperlihatkan bahwa kemampuan beradaptasi dan respons terhadap informasi baru jauh lebih krusial dibandingkan daftar pertanyaan kaku. Hal ini membuktikan bahwa AI generatif mampu mereplikasi dinamika bisnis nyata secara mendalam.
Ke depan, NUS Business School berencana memperluas metode ini ke berbagai disiplin ilmu bisnis lainnya yang menuntut negosiasi dan pengujian argumen. Transformasi studi kasus statis menjadi ekosistem interaktif ini bertujuan membekali mahasiswa dengan kemampuan berpikir kritis dan adaptif. Integrasi ini menjadi sangat mendesak seiring masifnya adopsi teknologi di berbagai lini operasional perusahaan.
Pertumbuhan adopsi teknologi yang pesat di kawasan regional turut memperkuat urgensi penguasaan literasi AI bagi para eksekutif. Terlebih di Indonesia, studi Kearney dan EDBI pada 2020 memproyeksikan bahwa AI berpotensi menyumbang hingga USD366 miliar bagi PDB pada tahun 2030, atau setara dengan 12 persen dari total proyeksi PDB nasional. Dengan potensi sebesar itu, kemampuan pemimpin bisnis dalam menilai dan menyaring informasi dari AI menjadi kompetensi kunci yang tak ternilai harganya.










