Kisah Pilu Anak 3 Tahun Batuk Tak Kunjung Sembuh, Ternyata Idap Penyakit Jantung hingga Meninggal

Kisah Pilu Anak 3 Tahun Batuk Tak Kunjung Sembuh, Ternyata Idap Penyakit Jantung hingga Meninggal

Gaya Hidup | okezone | Sabtu, 26 September 2026 - 06:10
share

JAKARTA - Kisah seorang anak perempuan berusia 3 tahun asal Gloucestershire, Inggris, menjadi perhatian setelah gejala yang awalnya dianggap sebagai batuk biasa ternyata berkaitan dengan penyakit jantung serius. Penny Dunn meninggal dunia pada 6 Juli setelah kondisinya memburuk dalam waktu beberapa bulan.

Kisah tersebut diceritakan oleh sang ibu, Courtney Sherwood. Ia mengungkapkan bahwa Penny sebelumnya merupakan anak yang sehat dan jarang mengalami sakit.

Batuknya Tidak Kunjung Sembuh

Menurut Kennedy News and Media, Penny mulai batuk-batuk sekitar Natal 2025. Balita yang tinggal di Glouchestershire, Inggris, tersebut dilaporkan sehat dan jarang jatuh sakit sebelumnya.

Ibunya bercerita, batuknya sempat membaik sebentar sebelum akhirnya kambuh lagi dan tidak kunjung sembuh. Dia dan suaminya sudah membawa Penny ke dokter sebanyak tiga kali. Pada awalnya, keluarganya diberi tahu bahwa Penny terkena infeksi virus yang biasa menyerang anak-anak, dan dugaan asma juga sempat dipertimbangkan.

Pada akhirnya, batuknya menjadi cukup parah hingga membuat Penny muntah. Sherwood juga menyadari kalau anaknya jadi sering terengah-engah, termasuk saat menaiki tangga menuju ruangan dokter.

Menurut pengakuan ibunya, inhaler (alat isap medis) menjadi sangat membantu untuk sementara waktu. Namun, kesehatan Penny tidak kunjung membaik. Sherwood mengatakan putrinya yang dulu aktif, sekarang berubah menjadi lesu dan tidak nafsu makan, membuatnya kehilangan berat badan.

Kejang yang Berujung pada Masalah Jantung Serius

Pada 29 Juni, Penny mengalami kejang saat sedang mengikuti kegiatan olahraga di sekolahnya. Dokter menemukan bahwa jantungnya membesar dan berdetak secara tidak normal. Jantungnya juga terlihat kesusahan memompa darah secara efektif.

Penny kemudian dipindahkan ke rumah sakit lain setelah pengobatannya gagal untuk menstabilkan kondisinya. Dia dipasangi alat bantu hidup darurat dan didiagnosis menderita kardiomiopati dilatasi (DCM).

DCM mengakibatkan bilik-bilik jantung membesar, sementara otot jantung menjadi renggang dan melemah. Hal ini dapat menurunkan kemampuan jantung untuk memompa darah serta beresiko menyebabkan gagal jantung atau gangguan irama jantung.

Penny juga harus dioperasi untuk mengetahui ritme abnormalnya. Keluarganya sangat berharap bahwa dia bisa sembuh, namun komplikasi lebih lanjut menyusul. Hasil pemindaian CT menunjukkan bahwa sebagian dari otak dan usus Penny telah mati karena kehilangan pasokan darah yang memadai.

Para dokter memberi tahu orang tua Penny bahwa dia tidak akan memiliki kualitas hidup yang baik apabila dia selamat. Kemudian keluarganya memutuskan untuk melepas alat bantu hidup Penny dan pada akhirnya dia meninggal pada 6 Juli.

Sherwood mengatakan kalau dia tidak menyalahkan tim medis dan menggambarkan para dokter yang telah merawat Penny sangat luar biasa. Dia juga mengatakan penyakit Penny masih belum jelas, walaupun dokter memberitahu keluarga kalau batuk bisa saja menjadi penyebabnya.

Kapan Seharusnya Batuk Diwaspadai Sebagai Gejala Masalah Jantung?


Wakil Ketua Layanan Jantung, Kardiologi Klinis & Preventif, Medanta Gurugram, Dr. Manish Bansal, mengatakan orang tua tidak seharusnya langsung berasumsi kalau batuk yang tidak kunjung sembuh merupakan masalah pernapasan.

“Dalam beberapa kasus, batuk pada anak-anak disebabkan oleh infeksi, alergi, atau asma. Namun, apabila batuknya berkepanjangan, sering kali kambuh, atau disertai dengan sesak napas, kelelahan yang tidak biasa, toleransi aktivitas yang buruk, pembengkakan, keringat berlebih, atau kesulitan makan, maka hal tersebut memerlukan evaluasi medis lebih lanjut.” ujarnya.

Dia menjelaskan bahwa beberapa kondisi jantung dapat meningkatkan tekanan di dalam paru-paru atau menyebabkan penumpukan cairan saat jantung tidak dapat memompa darah secara efektif. Hal ini terkadang dapat memicu gejala yang menyerupai penyakit pernapasan.

Namun, batuknya sendiri bukan berarti seorang anak memiliki penyakit jantung. Hal penting yang perlu diwaspadai adalah pola gejala yang terus menetap atau tidak dapat dijelaskan, terutama ketika energi, tumbuh kembang, atau aktivitas anak sehari-hari mengalami perubahan.

Dr. Bansal mengatakan sebuah pemeriksaan klinis dapat membantu dokter menentukan apakah pemeriksaan jantung lebih lanjut diperlukan.

“Pemeriksaan klinis yang menyeluruh, diikuti dengan pemeriksaan penunjang seperti ekokardiogram atau EKG jika diperlukan, dapat membantu mengidentifikasi apakah terdapat masalah jantung yang mendasarinya.”

EKG merekam aktivitas listrik jantung, sementara ekokardiogram menggunakan gelombang suara untuk memeriksa struktur dan fungsi pompa jantung.

Dr. Bansal menekankan bahwa peningkatan kesadaran bukan berarti harus panik.

“Kuncinya adalah kewaspadaan, bukan kepanikan. Orang tua adalah pihak yang paling memahami perilaku normal anak mereka. Apabila ada perubahan signifikan atau yang tidak dapat dijelaskan, maka harus segera berkonsultasi dengan dokter.”

Bagi Sherwood, pesan tersebut membawa makna personal yang mendalam. Setelah kehilangan Penny, dia menyerukan akses yang lebih besar untuk pemeriksaan jantung di fasilitas layanan kesehatan primer anak dan mendorong para orang tua untuk mencari opini kedua ketika ada sesuatu yang mengganjal hati.

Topik Menarik