Asap Kebakaran Hutan Mengancam, Mengapa Anak-Anak Jadi Kelompok Paling Rentan? Ini Kata Dokter
KEBAKARAN hutan dan lahan (karhutla) yang kini tengah terjadi di sejumlah wilayah di Indonesia, mulai dari Kalimantan hingga Sumatera, tidak hanya menyebabkan kerusakan lingkungan. Karhutla juga menghasilkan asap dan polutan yang dapat membahayakan kesehatan.
Paparan asap karhutla dapat berdampak pada siapa saja. Namun, beberapa kelompok memiliki risiko lebih tinggi mengalami gangguan kesehatan, terutamanya terhadap anak-anak.
1. Mengapa Anak-Anak Jadi Kelompok Paling Rentan?
Dokter spesialis paru dan pernapasan (pulmonolog), dr. Itna Warnida, Sp.P, FISR, dalam acara Morning Zone di Youtube Okeozne, mengatakan kelompok yang paling rentan terkena dampak karhutla adalah anak-anak, lansia, serta orang yang sebelumnya sudah memiliki penyakit pernapasan. Ibu hamil juga termasuk kelompok yang perlu mendapat perhatian.
Bukan Kisah Vampir Biasa, Microdrama V+Short Married to Vampire Tawarkan Cerita yang Fresh
Di antara kelompok tersebut, anak-anak menjadi salah satu yang paling harus diwaspadai. Menurut dr. Itna, anak-anak bernapas lebih cepat dibandingkan orang dewasa. Orang dewasa secara normal bernapas sekitar 10 hingga 20 kali per menit, sedangkan anak-anak dapat bernapas sekitar 20 hingga 40 kali per menit.
Frekuensi napas yang lebih tinggi membuat anak-anak lebih sering menghirup udara di sekitarnya. Ketika udara tersebut tercemar asap karhutla, paparan terhadap polutan pun dapat menjadi lebih besar.
“Yang pertama (paling rentan terkena dampak dari karhutla) adalah anak-anak, lansia, dan orang-orang dengan penyakit pernapasan sebelumnya, dan ibu hamil,” ujar dr. Itna.
“Anak-anak yang paling harus kita waspadai karena anak-anak bernapas lebih cepat daripada orang dewasa secara normalnya. Jadi kalau orang dewasa bernapas 10 sampai 20 kali per menit, anak-anak bisa 20 sampai 40 kali per menit. Itu normal. Jadi dia akan bernapas lebih sering, jadi dia juga akan terhirup udara yang jelek ini lebih sering dari yang dewasa,” lanjutnya.
2. Fungsi Paru-Paru Anak Belum Sempurna
Selain itu, dr. Itna mengatakan fungsi paru-paru anak belum berkembang dan berfungsi secara sempurna seperti orang dewasa. Kondisi tersebut membuat anak lebih rentan mengalami dampak kesehatan ketika terpapar asap dari kebakaran hutan dan lahan.
Lansia dan orang yang memiliki penyakit pernapasan sebelumnya juga perlu mendapatkan perhatian khusus. Penderita asma, misalnya, termasuk dalam kelompok dengan penyakit pernapasan yang dapat lebih rentan ketika kualitas udara memburuk akibat asap karhutla.
Karena itu, ketika terjadi karhutla dan kualitas udara memburuk, perlindungan terhadap kelompok rentan perlu menjadi prioritas. Mengurangi aktivitas di luar ruangan, menghindari paparan langsung asap, dan memperhatikan kondisi kesehatan dapat membantu mengurangi risiko akibat polusi udara.
“Fungsi paru pada anak-anak belum sempurna seperti dewasa dan itulah yang membuat mereka akan sangat terdampak dari kondisi kebakaran hutan seperti ini,” tutup dr. Itna.









