PBNU Gencar Cegah Kekerasan di Pesantren, Pratikno: Perlindungan Anak Jadi Perhatian Serius

PBNU Gencar Cegah Kekerasan di Pesantren, Pratikno: Perlindungan Anak Jadi Perhatian Serius

Nasional | okezone | Selasa, 25 Agustus 2026 - 14:25
share

JAKARTA - Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumberdaya Manusia Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (Lakpesdam PBNU) bersama Rabithah Ma'ahid Islamiyah PBNU mendorong pesantren memiliki sistem perlindungan anak yang lebih konkret, tidak berhenti pada komitmen dan slogan.

Salah satunya dengan membuat dua buku pedoman pencegahan dan penanganan kekerasan di lingkungan pesantren.

Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Pratikno mengatakan, inisiatif Lakpesdam PBNU dan RMI PBNU sejalan dengan program pemerintah melalui Gerakan Nasional Ruang Aman dan Nyaman untuk Anak (Gernas Rana).

“Saya mengapresiasi atas inisiatif ini ya. Terbitnya modul untuk SOP Pencegahan dan Penanganan Kekerasan di Pesantren dan kedua Modul Pelatihan Perlindungan Anak dari Kekerasan di Pesantren,” ujar Pratikno dikutip, Selasa (25/8/2026).

Pratikno menegaskan, bahwa perlindungan anak perlu menjadi perhatian serius karena kekerasan, baik fisik maupun psikologis, dapat berdampak terhadap tumbuh kembang anak.

Menurutnya, pesantren sebagai salah satu satuan pendidikan harus menjadi bagian dari upaya menciptakan lingkungan yang aman dan nyaman bagi anak.

“Kami ikut sosialisasi (kedua buku tersebut) dan ini akan menginspirasi bagi lembaga satuan pendidikan yang lain. Kita jaga ruang-ruang tersebut menjadi aman dan nyaman untuk perkembangan sumberdaya manusia Indonesia ke depan,” pungkas Pratikno.

Sekretaris Lakpesdam PBNU Ufi Ulfiyah mengatakan kedua buku tersebut dapat mendukung transformasi pesantren menjadi lingkungan yang aman dari kekerasan.

“Dua produk dari kerja sama antara Lakpesdam PBNU dan RMI PBNU yang kami dedikasikan untuk memastikan bahwa visi transformasi pesantren melalui satu visi menciptakan pesantren yang aman dari kekerasan,” ujarnya.

 

Menurutnya, keberadaan buku saja tidak cukup untuk memastikan pencegahan kekerasan berjalan efektif. Pesantren juga membutuhkan sumber daya manusia yang memiliki kapasitas dalam melakukan perlindungan anak dan menangani kekerasan.

“Visi untuk menciptakan ramah anak atau aman dari kekerasan di pesantren itu membutuhkan infrastruktur dari lingkungan pesantren itu sendiri,”ujarnya.

“Infrastruktur salah satunya adalah adanya sumber daya manusia baik kiai nyai ustad ustadzah musrif musrifah di pesantren yang memiliki kapasitas mulai dari bagaimana cara melakukan perlindungan, langkah-langkah teknisnya dan lain-lain,” lanjutnya.

Ufi menegaskan, bahwa transformasi pesantren membutuhkan tindakan nyata agar visi tersebut tidak berhenti sebagai gagasan. Salah satunya melalui pelatihan bagi para pengelola dan pendidik di pesantren.

“Di dalam memastikan visi itu berhasil maka harus ada tindakan-tindakan konkret, tindakan-tindakan yang nyata berupa sejumlah atau serangkaian kegiatan yang memastikan bahwa mimpi itu bisa terwujudkan,” katanya.

Dia menambahkan, bahwa buku pedoman tersebut disusun berdasarkan berbagai uji coba bersama insan dan figur pesantren agar isinya dekat dengan pengalaman di lapangan.

“Buku ini itu tidak cukup menjadi alat atau infrastruktur untuk mengubah sesuatu, tapi buku ini menciptakan kapasitas dari sumberdaya manusia di lingkungan pesantren itu juga hal yang lain yang penting,” tutup Ufi.

Topik Menarik