Indeks Dolar AS Diproyeksikan Berfluktuasi Tinggi hingga Bayangi Rupiah Pekan Depan

Indeks Dolar AS Diproyeksikan Berfluktuasi Tinggi hingga Bayangi Rupiah Pekan Depan

Ekonomi | okezone | Minggu, 16 Agustus 2026 - 14:16
share

JAKARTA - Pergerakan indeks dolar Amerika Serikat (AS) diperkirakan mengalami fluktuasi tinggi pada perdagangan pekan depan. Tekanan eksternal tersebut diproyeksikan bakal membayangi pergerakan nilai tukar rupiah saat pembukaan pasar di awal pekan.

Analis Mata Uang dan Komoditas Ibrahim Assuaibi menjelaskan bahwa pergerakan indeks dolar AS diproyeksikan bergerak pada kisaran level support 99,00 dan resistance 101,90, dengan potensi menembus level 102,00.

“Diawali dari USD dalam perdagangan pekan depan dalam satu minggu, kemungkinan besar ini akan cukup fluktuatifnya cukup tinggi, di support-nya 99,00, kemudian resisten-nya di 101,90, bahkan akan menyentuh di resisten 102. Jadi kalau kita lihat bahwa indeks dolar ini di 99,00 dan 102,00,” kata Ibrahim dalam risetnya, Minggu (16/8/2026).

Kondisi tersebut, menurut Ibrahim bakal berdampak langsung pada nilai tukar mata uang Garuda.

Meski rupiah sempat ditutup menguat 50 poin pada akhir pekan lalu didorong sentimen positif pidato nota keuangan RUU APBN 2027 oleh Presiden Prabowo Subianto, rupiah berisiko dibuka melemah pada perdagangan pekan depan akibat dominasi faktor eksternal.

Ibrahim menyoroti potensi pelemahan rupiah pada rentang Rp17.820 per dolar AS hingga Rp17.880 per dolar AS.

“Kemudian untuk rupiah sendiri walaupun kemarin menguat pidato presiden cukup bagus juga tentang APBN tahun 2027 tetapi ada kemungkinan bahwa harga rupiah kemungkinan besar dibuka melemah mungkin karena faktor eksternal yang mempengaruhi yaitu range-nya itu di 17.820 sampai di 17.880. Jadi ada kemungkinan besar ya ada 60 poin lah pelemahan mata uang rupiah,” jelasnya.

 

Ibrahim menjelaskan bahwa dinamika geopolitik global menjadi pemicu utama potensi penguatan indeks dolar AS sekaligus minyak mentah dunia. Ketegangan yang terjadi mencakup eskalasi hubungan AS-Iran, konflik di Laut Merah yang melibatkan kelompok Houthi, penyerangan kilang minyak di Nigeria, hingga situasi perang Rusia-Ukraina yang terus memanas.

“Dan di hari Senin kemungkinan besar pasar akan tertuju terhadap data eksternal terutama dalam geopolitik di Timur Tengah yang semakin memanas dan ini akan membuat dolar itu menjadi gain up. Dolar Amerika akan mengalami penguatan sehingga berdampak terhadap pelemahan mata uang rupiah di pembukaan hari Senin,” ungkapnya.

Di samping isu geopolitik, pergerakan mata uang juga dipengaruhi oleh proyeksi kebijakan bank sentral AS (The Fed). Meskipun rilis data inflasi dan penjualan ritel AS terkini menunjukkan tren pencapaian yang membaik, Ibrahim menilai mayoritas anggota The Fed diproyeksikan akan mempertahankan tingkat suku bunga acuan pada pertemuan bulan ini.

Selain itu, Ibrahim memberikan catatan khusus terhadap kerangka asumsi makro RUU APBN 2027 yang disampaikan pemerintah. Salah satunya terkait dengan penetapan asumsi nilai tukar rupiah sebesar Rp17.500 per dolar AS.

Ibrahim menilai terdapat tantangan cukup berat untuk menjaga pergerakan mata uang domestik berada di bawah batas asumsi tersebut jika ketegangan global terus berlanjut.

“Saya melihat bahwa ada kemungkinan besar yang di tahun 2027 rupiah itu kemungkinan di atas 18.000. Nah artinya apa? Ini pun juga kalau seandainya rupiah masih di atas 17.500 ini kemungkinan besar akan membuat defisit anggaran... kemungkinan besar akan lebih dari 2,86 (persen) apabila rupiah terus mengalami pelemahan,” tegas Ibrahim.

Hal senada juga disampaikannya terkait asumsi harga minyak mentah Indonesia (ICP) yang ditetapkan 75 dolar AS per barel pada RAPBN 2027.

Menurutnya, konflik geopolitik yang berlarut di kawasan strategis pasokan energi berpotensi mendorong harga minyak mentah dunia bertahan di atas level 80 dolar AS per barel, yang dapat memberikan tekanan tambahan bagi efektivitas eksekusi postur anggaran negara.

Topik Menarik