Menteri Jumhur: Hilangnya Keanekaragaman Hayati Bukan Lagi Sekadar Krisis Lingkungan!

Menteri Jumhur: Hilangnya Keanekaragaman Hayati Bukan Lagi Sekadar Krisis Lingkungan!

Nasional | okezone | Minggu, 9 Agustus 2026 - 08:08
share

JAKARTA - Menteri Lingkungan Hidup (LH) Jumhur Hidayat, menegaskan, hilangnya keanekaragaman hayati bukan lagi sekadar menjadi krisis lingkungan. Karena telah berkembang menjadi risiko finansial yang memengaruhi dunia usaha dan investasi.

Dikatakan Jumhur, alam tidak lagi dapat dipandang sebagai sumber daya yang tersedia secara gratis. Oleh karena itu, nilai ekonomi keanekaragaman hayati beserta potensi kerusakannya perlu diperhitungkan dalam setiap aktivitas investasi dan bisnis.

“Ketika ekosistem terancam, portofolio investasi turut terpengaruh. Hal ini menunjukkan peta investasi yang mengarah pada performa ekonomi yang positif terhadap alam,” ujar Jumhur, dalam acara Environmental, Social, and Governance (ESG) di Jakarta, dikutip Minggu (9/8/2026).

Oleh sebab itu, investasi perlu diarahkan dari praktik yang merusak alam menuju investasi yang mendukung pelestarian lingkungan.

“Telah banyak langkah berani menggeser investasi yang bersifat merusak nature negative menjadi nature positive,” katanya.

Masih kata Jumhur, sektor usaha dan jasa keuangan memiliki peran penting dalam menjembatani kebutuhan pendanaan konservasi. Utamanya melalui penerapan prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG).

Menurutnya, penerapan ESG dapat mendorong investasi yang lebih bertanggung jawab terhadap lingkungan. Ia menilai investor kini tidak hanya mempertimbangkan kemampuan perusahaan dalam mengelola risiko.

 

Investor juga melihat kontribusi perusahaan dalam memulihkan lingkungan dan menciptakan dampak positif bagi keberlanjutan.

“Kepatuhan terhadap tata kelola lingkungan yang baik akan memperkuat reputasi perusahaan serta mengurangi risiko praktik greenwashing,”pungkasnya.

Direktur Eksekutif Yayasan KEHATI, Riki Frindos, menambahkan, keanekaragaman hayati merupakan kekayaan terbesar Indonesia yang kerap terabaikan. Menurutnya, perhatian publik masih lebih banyak tertuju pada sumber daya alam nonhayati.

Sumber daya genetik Indonesia disebutnya sebagai ‘tambang emas’ yang tidak akan habis selama dijaga dan dimanfaatkan secara berkelanjutan.  “Tapi superdaya non-hayati ini ada batasnya, satu saat akan habis,” tutup Riki.

Topik Menarik