Proyek Hilirisasi Banyak Digarap Investor Asing, Bahlil: Bank Kita Tak Mau Biayai
JAKARTA - Menteri Energi dan Sumber Daya Bahlil Lahadalia mengaku saat ini proyek hilirisasi belum seutuhnya memberikan dampak yang luas bagi kesejahteraan masyarakat Indonesia. Terlebih masyarakat daerah yang wilayahnya kemampuan proyek maupun aktivitas pertambangan.
Bahlil mengatakan, hilirisasi seharusnya menjadi instrumen kesejahteraan masyarakat, terutama masyarakat di daerah. Sayangnya hilirisasi yang saat ini berjalan justru masih banyak dimanfaatkan oleh perusahaan asing, maupun perusahaan-perusahaan besar yang kantor pusatnya justru berada di Jakarta.
"Saya ingin mengatakan waktu itu adalah hilirisasi sebagai instrumen
kesejahteraan, tetapi juga orang daerah harus menjadi tuan di negerinya sendiri," kata Bahlil dalam acara peluncuran dan bedah buku 10 Karya Nyata untuk Negeri Setengah Abad Bahlil Lahadalia, di Jakarta, Jumat (7/8/2026).
Bahlil mengatakan, banyaknya proyek hilirisasi yang justru digarap orang asing maupun pengusaha-pengusaha besar yang berada di Jakarta lantaran perbankan dalam negeri masih enggan untuk membiayai. Sebab proyek hilirisasi memerlukan pendanaan yang cukup besar, belum lagi beban bunga yang kurang kompetitif dengan bank-bank asing.
"Kami harus jujur mengatakan bahwa pada tahun-tahun pertama
kami mendapat kritik paling pedas itu dari almarhum Faisal Basri dan Bapak Wapres Pak JK. Memprotes kami begini, 'Hilirisasi betul bagus, tapi kenapa yang merasakan manfaatnya itu oleh pihak luar? Setelah kita kaji, karena memang investasinya itu lebih banyak dari luar. Karena bank kita enggak mau membiayai itu," katanya.
Namun demikian, Ketua Umum Partai Golkar itu mengatakan, proyek hilirisasi saat ini memiliki harapan baru setelah konsolidasi seluruh BUMN di bawah Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara. Sovereign Wealth Fund (SWF) ini diharapkan mampu mendorong pembiayaan dari dalam negeri untuk proyek-proyek hilirisasi.
"Alhamdulillah karena Bapak Presiden mengerti betul tentang bagaimana tujuan hilirisasi, sekarang yang mengelola dan membiayai hilirisasi adalah Danantara. Jadi ini yang menjadi apresiasi bagi kami yang luar biasa sekali," lanjut Bahlil.
Sekedar informasi, proyek hilirisasi dikuasai investasi asing (foreign direct investment/FDI) sepanjang Januari-Maret 2026. Pada kuartal I-2026, realisasi investasi hilirisasi yang ditanamkan pemodal asing mencapai Rp98,4 triliun.
Secara geografis, 75,5 persen investasi hilirisasi berada di luar Jawa senilai Rp111,4 triliun. Secara rinci, provinsi Sulawesi Tengah menjadi lokasi hilirisasi terbesar dengan Rp24,1 triliun, disusul Maluku Utara, Jawa Barat, Nusa Tenggara Barat, dan Kepulauan Riau.
Sektor mineral mendominasi capaian investasi dengan total Rp98,3 triliun, dipimpin oleh nikel Rp41,5 triliun, tembaga Rp 20,7 triliun, dan besi baja Rp17,0 triliun. Sektor perkebunan dan kehutanan menyumbang Rp29,8 triliun, didominasi kelapa sawit. Sementara minyak dan gas bumi berkontribusi Rp17,7 triliun, serta perikanan dan kelautan Rp1,7 triliun.










