BNPB: Karhutla dan Tanah Longsor Dominasi Bencana di Sejumlah Wilayah Indonesia

BNPB: Karhutla dan Tanah Longsor Dominasi Bencana di Sejumlah Wilayah Indonesia

Nasional | okezone | Selasa, 28 Juli 2026 - 04:10
share


 

JAKARTA - Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat kebakaran hutan dan lahan (karhutla), tanah longsor, banjir, serta kebakaran permukiman mendominasi kejadian bencana di sejumlah wilayah Indonesia selama periode pelaporan Minggu (26/7) pukul 07.00 WIB hingga Senin (27/7) pukul 07.00 WIB.

Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari, mengatakan karhutla terjadi di berbagai daerah, mulai dari Kepulauan Bangka Belitung, Jawa Tengah, Kalimantan Selatan, hingga Sulawesi Selatan.

Di Kabupaten Bangka Tengah, Kepulauan Bangka Belitung, kebakaran terjadi pada Sabtu (25/7) di belakang Dusun Mulya (Palempat), Desa Penyak, Kecamatan Koba. Sekitar tiga hektare lahan terbakar. Tim Reaksi Cepat BPBD bersama satu unit truk tangki air berkapasitas 5.000 liter berhasil memadamkan api pada hari yang sama. Penyebab kebakaran masih dalam penyelidikan.

Karhutla juga melanda Kabupaten Wonogiri, Jawa Tengah, yang menghanguskan sekitar tiga hektare lahan warga di Petak 19 RPH Cubluk, Dusun Bendorejo, Desa Sendang. BPBD bersama instansi terkait dan masyarakat berhasil memadamkan api pada Minggu (26/7), sementara penyebab kebakaran masih didalami.

Di Kota Banjarbaru, Kalimantan Selatan, kebakaran lahan gambut seluas sekitar dua hektare terjadi di Kelurahan Guntung Manggis, Kecamatan Landasan Ulin. Meski tim gabungan telah melakukan pemadaman dan pembasahan, hingga Minggu (26/7) api masih belum sepenuhnya padam dan terus dipantau BPBD.

Sementara di Kabupaten Pinrang, Sulawesi Selatan, kebakaran lahan seluas satu hektare terjadi di Kelurahan Manarang, Kecamatan Mattiro Bulu. Proses pemadaman masih berlangsung dengan melibatkan BPBD dan tim gabungan.

 

Karhutla kembali terjadi di Kabupaten Klaten, Jawa Tengah, tepatnya di Desa Gunung Gajah, Kecamatan Bayat. Kebakaran yang membakar sekitar 2,8 hektare lahan berhasil dipadamkan pada Minggu (26/7) sore.

Selain karhutla, kebakaran permukiman melanda Kampung Adat Cipta Mulya, Desa Sirnaresmi, Kecamatan Cisolok, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat. Sebanyak 51 rumah mengalami rusak berat akibat kebakaran yang diduga dipicu korsleting listrik.

Sebanyak 51 kepala keluarga (159 jiwa) terpaksa mengungsi, dengan rincian 42 KK atau 132 jiwa mengungsi ke rumah kerabat dan 9 KK atau 27 jiwa berada di tenda pengungsian. Kebakaran juga merusak satu tempat ibadah, satu bangunan PAUD, lumbung dan penumbuk padi, serta dua fasilitas kebersihan umum.

Pemerintah Kabupaten Sukabumi telah mengaktifkan Posko Tanggap Darurat, mendirikan dapur umum, tenda pengungsian, pos logistik, dan pos kesehatan. Saat ini, tim gabungan mulai melakukan pembersihan puing-puing sisa kebakaran.

Di sektor bencana hidrometeorologi, tanah longsor terjadi di Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, yang mengakibatkan saluran pipa air bersih putus setelah tertimpa material longsor. Akibatnya, sekitar 5.000 jiwa terancam mengalami kesulitan air bersih. BPBD bersama warga masih berupaya memperbaiki jaringan pipa.

 

Sementara itu, banjir di Kabupaten Morowali Utara, Sulawesi Tengah, merendam 168 rumah dan berdampak kepada 203 KK atau 504 jiwa di Desa Kalombang, Kecamatan Bungku Utara. Meski banjir telah surut, tanah longsor di wilayah yang sama menyebabkan akses jalan penghubung Desa Lemowalia dan Desa Salubiro terputus.

Akibat longsor tersebut, sekitar 627 KK atau 2.104 jiwa masih terisolasi. Hingga Minggu (26/7), kendaraan roda dua belum dapat melintasi lokasi, sementara kebutuhan mendesak di lapangan adalah pembangunan jembatan darurat.

Bencana banjir dan longsor juga melanda Kabupaten Agam serta Kabupaten Pasaman Barat, Sumatera Barat. Di Agam, bencana merusak satu rumah, tiga ruas jalan, satu jembatan, satu tanggul, serta memutus satu akses jalan. Kondisi banjir telah surut dan warga bersama pemerintah melakukan pembersihan material.

Sementara di Pasaman Barat, banjir dan longsor berdampak pada empat rumah serta mengganggu akses jalan utama Simpang Empat–Talu. Hingga Minggu (26/7), hujan masih mengguyur wilayah tersebut sehingga arus lalu lintas di jalur tersebut masih mengalami gangguan.

BNPB mengimbau pemerintah daerah dan masyarakat tetap meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi bencana, terutama kebakaran hutan dan lahan pada wilayah kering serta banjir dan longsor di daerah yang masih berpotensi diguyur hujan.
 

Topik Menarik