Kisah Dua Penasaran Hendra Setiawan, Celah yang Tersisa di Balik Gelimang Gelar sang Legenda

Kisah Dua Penasaran Hendra Setiawan, Celah yang Tersisa di Balik Gelimang Gelar sang Legenda

Olahraga | okezone | Sabtu, 18 Juli 2026 - 14:40
share

CATATAN emas yang ditorehkan legenda bulu tangkis Indonesia, Hendra Setiawan, di panggung internasional memang tidak perlu diragukan lagi. Kendati demikian, perjalanan panjang sang maestro di lapangan tepok bulu ternyata menyisakan kisah emosional mengenai mimpi yang belum sempat terwujud.

Mantan tandem duet Mohammad Ahsan ini secara terbuka mengakui ada rasa penasaran yang mengganjal hingga akhir kariernya. Di balik nama besarnya, ada dua target besar yang terus meleset dan gagal ia amankan sebelum resmi menggantung raket.

Hendra menyudahi perjalanan profesionalnya sebagai atlet dalam ajang Indonesia Masters 2025 lalu. Momen perpisahan tersebut sekaligus menandai berakhirnya dedikasi luar biasa sang pemain yang telah mengabdi selama puluhan tahun untuk Merah Putih.

1. Konsistensi Luar Biasa

Bagi seorang atlet olahraga dengan intensitas tinggi, mampu mempertahankan performa hingga usia 40 tahun merupakan sebuah keajaiban tersendiri. Hendra menghabiskan waktu selama 35 tahun hidupnya untuk mengayun raket dan bersaing di level tertinggi.

Melalui unggahan di kanal YouTube pribadinya, pria yang akrab disapa "Koh Hendra" ini mengungkapkan rasa syukur mendalam atas ketahanan fisiknya. Ia merasa capaian bertahan di sirkuit elite dunia hingga usia senja merupakan berkah yang jauh melampaui ekspektasinya.

Hendra Setiawan jadi pelatih di All England 2025 (Foto: PBSI)

"Ya yang pasti saya ingin mengucapkan terima kasih terutama pada Tuhan karena saya bersyukur saya bisa dikasih kesempatan main sampai hari ini, sampai umur segini, ya itu bener-bener di luar harapan saya lah," ujar Hendra. 

Sepanjang kariernya, lemari trofi Hendra sudah penuh sesak oleh gelar-gelar paling bergengsi di dunia. Ia tercatat pernah merengkuh medali emas Olimpiade Beijing 2008, trofi beregu Piala Thomas 2020, serta koleksi 30 gelar turnamen BWF termasuk dua titel juara All England.

 

2. Dua Trofi Besar yang Menjadi Misteri

Akan tetapi, kegemilangan tersebut tetap menyisakan ruang kosong yang tidak sempat terisi hingga masa pensiunnya tiba. Ambisi besar pertama yang gagal diwujudkan Hendra adalah membawa pulang trofi beregu campuran prestisius, Piala Sudirman, ke Indonesia.

Meski tercatat telah memperkuat kerangka tim nasional dalam lima edisi yang berbeda, prestasi tertingginya hanyalah medali perak pada tahun 2007. Hendra dengan berlapang dada mengakui bahwa turnamen beregu tersebut memang menjadi teka-teki yang gagal ia pecahkan.

"Impian tuh sebenarnya sih satu, Sudirman Cup. Itu dari dulu ikut, kalah terus enggak dapet-dapet. Ya, mungkin memang belum dikasih kan," kenang Hendra.

Mohammad Ahsan dan Hendra Setiawan foto aldhi

Selain Piala Sudirman, Hendra juga memendam hasrat terpendam untuk bisa menambah pundi-pundi medali dari ajang olahraga multieven terbesar, Olimpiade. Ia menaruh respek sekaligus terinspirasi dari rival abadinya asal China, Fu Haifeng, yang sukses mengoleksi tiga medali Olimpiade.

Nahas, keberuntungan belum kembali menaunginya saat tampil pada gelaran Olimpiade Rio 2016 serta Olimpiade Tokyo 2020. Pada edisi Tokyo 2020, langkahnya untuk menambah koleksi medali sebenarnya sudah sangat dekat, namun ia harus puas menyudahi kompetisi di peringkat keempat.

"Inginnya (setiap) olimpik dapat medali, tapi dua kali enggak dapet di Rio dan di Tokyo. Ya udah emang enggak dikasih. Ya (medali) apapun lah," tutup sang legenda.

Topik Menarik