Bio-TCV, RI Perkuat Kedaulatan Vaksin Nasional
JAKARTA - PT Bio Farma (Persero) meluncurkan Bio-TCV (Typhoid Conjugate Vaccine), vaksin tifoid konjugat hasil pengembangan dalam negeri yang menjadi tonggak penting dalam memperkuat kedaulatan vaksin nasional.
Bio-TCV menegaskan bahwa pengembangan vaksin nasional membutuhkan kolaborasi yang erat antara industri, akademisi, peneliti, tenaga kesehatan, regulator, pemerintah, serta mitra strategis global. Kehadiran Bio-TCV juga menunjukkan kemampuan Indonesia membangun ekosistem vaksin dari hulu hingga hilir, mulai dari riset, transfer teknologi, uji klinis, persetujuan regulator, produksi, hingga strategi perluasan akses bagi masyarakat.
Direktur Utama Bio Farma Shadiq Akasya mengatakan, demam tifoid masih menjadi tantangan kesehatan masyarakat di Indonesia sebagai negara endemis. Menurutnya, upaya pencegahan tidak hanya bergantung pada vaksinasi, tetapi juga memerlukan perbaikan sanitasi, keamanan pangan, akses air bersih, serta penerapan perilaku hidup bersih dan sehat.
"Bio Farma menghadirkan Bio-TCV sebagai bagian dari kontribusi kami dalam mendukung pencegahan demam tifoid sekaligus memperkuat ketahanan kesehatan nasional," kata Shadiq di Jakarta, Kamis (16/7/2026).
Dia menambahkan, vaksin ini merupakan hasil kolaborasi jangka panjang bersama International Vaccine Institute (IVI) yang dimulai sejak 2010, dilanjutkan dengan transfer teknologi pada 2013, serta melalui proses riset, pengembangan, uji klinis bersama FKUI hingga memperoleh persetujuan regulator.
"Kehadiran Bio-TCV mencerminkan kemampuan Indonesia membangun ekosistem pengembangan vaksin dari hulu hingga hilir, mulai dari riset hingga produksi, sehingga diharapkan dapat memperluas akses masyarakat terhadap vaksin dan mendukung penguatan sistem kesehatan nasional," ujarnya.
Bio-TCV merupakan vaksin tifoid konjugat yang dikembangkan untuk membantu mencegah demam tifoid akibat infeksi bakteri Salmonella typhi. Vaksin ini dapat diberikan mulai usia enam bulan hingga dewasa sesuai indikasi yang telah memperoleh persetujuan dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) RI.
Indonesia sendiri masih menjadi negara endemis tifoid. Data World Health Organization (WHO) tahun 2024 menunjukkan terdapat sekitar 9 juta kasus demam tifoid setiap tahun di dunia dengan sekitar 110 ribu kematian. Di Indonesia, prevalensi tifoid diperkirakan mencapai 1,6 persen dari populasi dengan angka kejadian sekitar 148,7 per 100.000 penduduk.
Sementara, Wakil Menteri Kesehatan Benjamin Paulus Octavianus, mengatakan penguatan kedaulatan kesehatan menjadi salah satu strategi Indonesia dalam menghadapi tantangan kesehatan di masa depan. Menurutnya, kedaulatan kesehatan berarti kemampuan bangsa untuk mandiri dalam penelitian, pengembangan, dan produksi produk kesehatan strategis, termasuk vaksin.
"Kolaborasi antara pemerintah, akademisi, peneliti, industri, dan regulator menjadi kunci untuk mempercepat lahirnya inovasi yang berdampak bagi masyarakat. Indonesia masih menghadapi beban kasus tifoid yang tinggi sehingga membutuhkan solusi pencegahan yang efektif dan berkelanjutan. Kehadiran Bio-TCV menunjukkan bahwa melalui sinergi yang kuat, kita mampu memperkuat kemandirian dan ketahanan kesehatan nasional," ujar Benjamin.
Pengembangan Bio-TCV merupakan hasil kolaborasi jangka panjang Bio Farma bersama International Vaccine Institute (IVI) sejak 2010 yang diperkuat melalui transfer teknologi pada 2013. Dalam prosesnya, Bio Farma juga bekerja sama dengan FKUI-RSCM untuk melaksanakan uji klinis fase I, II, dan III sesuai standar ilmiah, etik, dan regulasi.
Kepala BPOM Taruna Ikrar menegaskan bahwa kemandirian dalam pengembangan vaksin dan obat merupakan bagian penting dari ketahanan nasional. Menurutnya, pengalaman pandemi COVID-19 menjadi pelajaran bahwa Indonesia harus memiliki kemampuan memproduksi vaksin di dalam negeri agar tidak bergantung pada pasokan global saat terjadi krisis kesehatan.
"BPOM mendampingi seluruh proses pengembangan Bio-TCV, mulai dari uji klinis, standardisasi, proses produksi, hingga evaluasi untuk memastikan mutu, keamanan, dan khasiat vaksin. Proses evaluasi regulatori juga dilakukan secara dipercepat tanpa mengurangi standar ilmiah yang berlaku. Kehadiran Bio-TCV menjadi bukti bahwa Indonesia semakin mampu menghasilkan vaksin hasil riset dan pengembangan anak bangsa sebagai bagian dari upaya memperkuat ketahanan kesehatan nasional," kata Taruna Ikrar.
Sebagai bagian dari ekosistem Danantara, Bio Farma terus memperkuat kapasitas riset, inovasi, dan produksi vaksin nasional. Perusahaan juga tengah meningkatkan kapasitas fasilitas produksi vaksin berbasis teknologi konjugasi guna memenuhi kebutuhan domestik sekaligus membuka peluang ekspansi ke pasar global melalui proses WHO Prequalification serta registrasi di berbagai negara.
Selain memperkuat portofolio vaksin nasional, Bio-TCV diharapkan dapat menjadi salah satu kontribusi Indonesia dalam mendukung pencegahan tifoid di negara-negara dengan beban penyakit yang tinggi, khususnya di kawasan Asia, Afrika dan Amerika Latin.
Bio-TCV menjadi bukti bahwa kedaulatan vaksin nasional tidak hanya diukur dari kemampuan memproduksi vaksin di dalam negeri, tetapi juga dari kemampuan mengembangkan riset, menguasai teknologi, memenuhi standar regulator, memperkuat fasilitas produksi, serta memperluas akses masyarakat terhadap vaksin yang aman, bermutu, dan berkualitas melalui sinergi berkelanjutan antara industri, akademisi, pemerintah, regulator, dan mitra global.










