Mengenal Tren Frugal Living, dari Skinimalism hingga Micro-Adventures yang Dorong Hidup Sederhana

Mengenal Tren Frugal Living, dari Skinimalism hingga Micro-Adventures yang Dorong Hidup Sederhana

Gaya Hidup | okezone | Rabu, 8 Juli 2026 - 20:05
share

TREN frugal living kini tengah ramai disorot. Di tengah gaya hidup konsumtif yang semakin berkembang, tren frugal living mengajak orang menerapkan gaya hidup hemat yang mengajak seseorang untuk lebih bijak dalam menggunakan uang, waktu, dan sumber daya.

Dilansir dari ABC News, frugal living bukan sekadar mengurangi pengeluaran. Tren ini memilih hal-hal yang benar-benar bernilai dan meninggalkan kebiasaan membeli atau melakukan sesuatu secara berlebihan.

Tren frugal living semakin populer di kalangan generasi muda karena dianggap selaras dengan kesadaran finansial, kesehatan mental, dan kepedulian terhadap lingkungan. Beberapa gaya hidup yang berkembang dari konsep frugal living antara lain skinimalism, underconsumption, capsule wardrobe, joy of missing out (JOMO), micro-adventures, hingga eco-friendly lifestyle.

1. Skinimalism: Perawatan Kulit yang Lebih Sederhana

Skinimalism merupakan gabungan dari kata skin (kulit) dan minimalism (minimalisme). Tren ini mengajak seseorang untuk meninggalkan rutinitas perawatan kulit yang terlalu panjang dan beralih pada produk yang benar-benar dibutuhkan.

Jika sebelumnya banyak orang mengikuti tren menggunakan belasan produk skincare, skinimalism menekankan prinsip lebih sedikit tetapi lebih efektif. Biasanya rutinitas hanya terdiri dari produk dasar seperti pembersih wajah, pelembap, dan tabir surya. Selain menghemat biaya, skinimalism juga membantu mengurangi limbah kemasan produk kecantikan.

2. Underconsumption: Membeli Lebih Sedikit, Menggunakan Lebih Lama

Underconsumption menjadi salah satu tren yang berkembang di media sosial. Konsep ini mengajak seseorang untuk berhenti membeli barang hanya karena tren atau dorongan sesaat.

Dalam gaya hidup underconsumption, seseorang lebih memilih menghabiskan produk yang sudah dimiliki sebelum membeli baru, memperbaiki barang yang rusak daripada langsung menggantinya, hingga membeli barang berkualitas yang tahan lama.

Selain itu, mereka juga menghindari pembelian impulsif. Tren ini berlawanan dengan budaya konsumsi berlebihan yang sering mendorong orang membeli barang yang sebenarnya tidak diperlukan.

3. Capsule Wardrobe: Lemari Pakaian yang Lebih Ringkas

Capsule wardrobe adalah konsep memiliki koleksi pakaian dalam jumlah terbatas, tetapi setiap item mudah dipadupadankan. Alih-alih memiliki banyak pakaian yang jarang dipakai, konsep ini mengutamakan pakaian yang nyaman digunakan dan berkualitas dan tahan lama.

Selain itu, orang-orang yang menerapkan capsule wardrobe juga lebih memilih pakaian dengan warna netral atau mudah dikombinasikan. Mereka akan membeli pakaian sesuai dengan gaya pribadi. Selain menghemat uang, capsule wardrobe juga membantu mengurangi limbah industri fashion.

 

4. Joy of Missing Out (JOMO): Menikmati Momen Tanpa Harus Ikut Semua Tren

Jika FOMO (Fear of Missing Out) menggambarkan rasa takut tertinggal dari tren atau aktivitas orang lain, JOMO (Joy of Missing Out) adalah kebalikannya. JOMO mengajak seseorang menikmati waktu sendiri tanpa merasa harus selalu mengikuti tren terbaru, acara sosial yang tidak penting, hingga aktivitas yang hanya dilakukan demi terlihat aktif.

Gaya hidup ini banyak dikaitkan dengan upaya menjaga kesehatan mental. Sebab, seseorang belajar merasa cukup dengan pilihan hidupnya sendiri.

5. Micro-Adventures: Liburan Kecil dengan Biaya Terjangkau

Micro-adventures adalah konsep melakukan petualangan sederhana tanpa membutuhkan biaya besar atau perjalanan jauh. Contohnya berkemah satu malam di sekitar kota, menjelajahi tempat wisata lokal, bersepeda ke daerah baru, hingga menghabiskan waktu di alam.

Tren ini menawarkan pengalaman baru tanpa harus mengeluarkan banyak uang seperti perjalanan wisata besar.

6. Eco-Friendly Lifestyle: Hemat Sekaligus Peduli Lingkungan

Frugal living juga sering berkaitan dengan gaya hidup ramah lingkungan. Dengan mengurangi konsumsi berlebihan, seseorang secara tidak langsung membantu mengurangi sampah dan penggunaan sumber daya.

Contoh kebiasaan eco-friendly antara lain membawa botol minum sendiri, menggunakan barang yang dapat dipakai ulang, mengurangi penggunaan plastik sekali pakai, dan memilih produk lokal dan berkelanjutan.

Frugal living bukan berarti pelit. Banyak orang salah memahami frugal living sebagai hidup serba kekurangan. Padahal, konsep ini lebih menekankan pada kesadaran dalam menentukan prioritas.

Seseorang yang menerapkan frugal living tetap dapat menikmati hidup, tetapi lebih berhati-hati dalam memilih pengeluaran. Tujuannya bukan sekadar menghemat uang, melainkan menciptakan kehidupan yang lebih sederhana, terarah, dan sesuai dengan nilai yang dianggap penting.

Topik Menarik