Punya Pasangan Playing Victim? Ini Dampak Psikologis yang Perlu Diwaspadai

Punya Pasangan Playing Victim? Ini Dampak Psikologis yang Perlu Diwaspadai

Gaya Hidup | okezone | Jum'at, 3 Juli 2026 - 08:11
share

JAKARTA – Memiliki pasangan yang gemar bersikap playing victim bukan hanya memicu konflik dalam hubungan, tetapi juga dapat berdampak pada kesehatan mental orang di sekitarnya. Tanpa disadari, korban justru bisa mulai meragukan perasaan sendiri hingga merasa bersalah saat ingin menyampaikan kekecewaan.

Istilah playing victim belakangan semakin populer, terutama di kalangan Generasi Z (Gen Z), untuk menggambarkan seseorang yang cenderung menempatkan dirinya sebagai korban meski sebenarnya melakukan kesalahan.

Sikap ini kerap muncul dalam hubungan asmara sebagai cara untuk menghindari tanggung jawab atas kesalahan yang telah dilakukan, baik oleh laki-laki maupun perempuan.

Dampak Psikologis

Namun, di balik perilaku tersebut, terdapat dampak psikologis yang tidak bisa dianggap sepele. Bukan hanya bagi pelaku, tetapi juga bagi pasangan atau orang-orang di sekitarnya.

Dokter sekaligus influencer kesehatan, dr. Aditya Surya Pratama, dalam unggahan video di akun Instagram pribadinya menjelaskan bahwa perilaku playing victim membuat fokus penyelesaian masalah bergeser dari tindakan yang dilakukan pelaku menjadi rasa iba dari korban.

"Akhirnya, pembahasannya bergeser dari perilakunya menjadi rasa kasihan terhadap dirinya," kata dr. Aditya.

Menurutnya, salah satu dampak psikologis yang paling sering dialami korban adalah mulai meragukan perasaan dan penilaiannya sendiri, terutama jika pola tersebut terjadi secara berulang dalam waktu yang lama.

"Setiap kita ingin menyampaikan kekecewaan, itu malah merasa bersalah. Terus, setiap ingin menetapkan batasan, itu malah jadi takut dianggap jahat," ujarnya.

Karena itu, dr. Aditya menilai pola playing victim sebaiknya dihindari agar hubungan tetap sehat secara emosional.

Menurutnya, hubungan yang sehat dibangun atas dasar saling bertanggung jawab dan berani mengakui kesalahan, bukan saling menyalahkan atau memosisikan diri sebagai korban.

"Karena yang namanya mengakui kesalahan itu bukan tanda kelemahan, justru itu tanda kedewasaan emosional," pungkasnya.

Topik Menarik