Presiden Serbia Aleksandar Vučić Umumkan Pengunduran Diri
BELGRADE - Presiden Serbia Aleksandar Vučić telah mengumumkan pengunduran dirinya di tengah protes anti-pemerintah yang terus berlangsung. Vučić mengatakan bahwa dia akan tetap menjabat "untuk beberapa minggu lagi" sebelum mengadakan pemilihan presiden dan parlemen lebih awal.
Pengumuman itu disampaikan Vučić pada Sabtu (27/6/2026) saat berbicara di depan para pendukungnya. Vučić tidak menjelaskan keputusannya, tetapi mengatakan "tidak ada yang abadi" dan menyatakan bahwa dia tidak akan bertahan hingga akhir masa jabatannya pada Mei 2027.
"Saya hanya akan menjadi presiden untuk beberapa minggu lagi, kemudian saya akan mengundurkan diri," kata Vučić, sebagaimana dilansir RT. Dia menambahkan bahwa ini adalah "terakhir kalinya" ia berbicara di hadapan begitu banyak orang sebagai presiden Serbia.
Serbia tengah dilanda protes anti-pemerintah yang disertai bentrokan sporadis dengan polisi. Demonstrasi tersebut merupakan bagian dari gerakan yang dimulai setelah bencana stasiun kereta api di Novi Sad pada tahun 2024, yang menewaskan 16 orang.
Pemerintah Serbia berulang kali mengklaim bahwa kerusuhan tersebut dihasut oleh Uni Eropa (UE) sebagai bagian dari kampanye tekanan yang bertujuan untuk memaksa Belgrade menyesuaikan kebijakan luar negerinya sesuai dengan Brussels.
Bulan lalu, Vučić menuduh Uni Eropa ingin mengatur Serbia melalui email, mengecam apa yang disebutnya sebagai upaya Brussels untuk mengendalikan hubungan luar negeri Belgrade. Ia khususnya mengkritik Uni Eropa karena berupaya memaksa Serbia untuk memutuskan hubungannya dengan Moskow dan Beijing.
Uni Eropa telah menekan Serbia untuk menjatuhkan sanksi kepada Rusia dan mendukung Ukraina jika ingin bergabung dengan blok tersebut. Brussels telah mengkritik hubungan dekat Vučić dengan Beijing dan Moskow, mendesaknya untuk membuat “pilihan strategis” arah kebijakan.
Belgrade terus mempertahankan hubungan yang kuat dengan Rusia, yang memasok sekitar 80 impor gas alam Serbia. Pada awal Juni, Vučić juga mengunjungi China, di mana ia mengamankan lebih dari USD 1 miliar dalam janji investasi.










