Terungkap, Harga Asli Pertamax Bisa Rp20.000 per Liter

Terungkap, Harga Asli Pertamax Bisa Rp20.000 per Liter

Ekonomi | okezone | Kamis, 25 Juni 2026 - 17:39
share

JAKARTA - Ketua Komisi XII DPR Bambang Patijaya mengungkapkan, harga asli atau keekonomian BBM nonsubsidi jenis Pertamax sekitar Rp19.000-Rp20.000 ribu per liter. Harga ini mengacu pada pergerakan harga minyak dunia.

Namun, Bambang mengatakan, Pemerintah masih melakukan intervensi harga, sehingga kenaikan harga Pertamax dijaga menjadi Rp16.250 per liter pada 10 Juni 2026.

"Saya tanya ke kawan-kawan Pertamina, itu RON 92 (Pertamax) saat tanggal 10 Juni kemarin sebetulnya modal kalian berapa. Itu RON 92 sudah USD1,1 per liter. Kalau kita membiarkan, artinya RON 92 itu sekitar Rp19 ribu-Rp20 ribu per liter," kata Bambang di Jakarta, Kamis (25/6/2026).

Dia mengatakan, untuk harga BBM nonsubsidi, pemerintah masih melakukan intervensi untuk menjaga daya beli masyarakat. Cara dengan memberikan batasan harga jual kepada badan usaha yang ujungnya berdampak pada margin perusahaan. 

"Pemerintah lewat Menteri ESDM mematok bahwa mereka hanya boleh jual RON 92 di harga Rp16.250, dan paling tinggi Rp16.600 misalnya. Artinya untuk harga nonsubsidi, Pertamina tidak dibiarkan full menjual dengan harga ekonomi," kata Bambang. 

"Saya terbuka aja deh, misalkan kawan-kawan SPBU swasta lainnya. Apakah mereka mau jual dengan harga seperti sekarang? Kan belum mau," sambungnya. 

 

Sebelumnya Direktur Utama PT Pertamina (Persero) Simon Aloysius Mantiri mengatakan, kenaikan harga BBM Pertamax telah mempertimbangkan daya beli masyarakat.

Pertamina menaikkan harga jual BBM Pertamax dan Pertamax Green yang berlaku mulai 10 Juni 2026. Harga pertamax saat ini Rp16.250 per liter atau naik Rp3.950 dari harga sebelumnya Rp12.300 per liter. Sementara Pertamax Green naik Rp4.100 menjadi Rp17.000 per liter dari harga sebelumnya Rp12.900.

"Penyesuaian pada harga BBM nonsubsidi dilakukan dengan mempertimbangkan dinamika geopolitik global dan harga minyak yang berlaku di pasar internasional dengan tetap mempertimbangkan daya beli masyarakat," ujarnya.

Topik Menarik