MSG Ternyata Tidak Membuat Bodoh, Begini Pendapat Ahli!
JAKARTA - Monosodium Glutamat atau yang akrab dikenal dengan MSG seringkali diduga menurunkan kecerdasan otak anak. Apakah pernyataan ini mitos atau fakta?
MSG dipakai untuk menambahkan rasa gurih pada masakan. MSG atau micin diproduksi melalui proses fermentasi bahan alami seperti tetes tebu, jagung, atau singkong.
Namun, benarkah berbahaya bagi perkembangan otak anak? Lewat Instagram pribadinya, Guru Besar Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (MIPA) Universitas Indonesia Prof. Dr. Agustino Zulys, M.Sc mengungkapkan, MSG atau micin menurunkan kecerdasan anak adalah mitos yang tidak ada dasar argumentasi ilmiah yang kuat.
“Monosodium Glutamat adalah garam dari asam amino glutamat yang berperan penting di dalam protein dan sel-sel baru. Lalu kenapa MSG selalu jadi kambing hitam sebagai menurunnya intelegensi?”
Menurutnya, isu ini menguat karena adanya penelitian pada tikus yang baru lahir, lalu disuntik MSG dengan sangat tinggi dan menunjukkan gangguan perkembangannya. Namun metode penyuntikan dengan dosis ekstrem tidak bisa disamakan dengan pola konsumsi MSG manusia dalam jumlah wajar melalui makanan.
“Penelitian-penelitian modern menunjukkan konsumsi MSG dalam batas normal tidak terbukti menurunkan kecerdasan manusia, bahkan tanpa menambahkan MSG sekalipun kita tetap mengonsumsi glutamat alami dari makanan, seperti kaldu ayam, daging, wortel, bawang putih, dan kecap,” ujarnya.
Ia menjelaskan, saat dimasak bahan-bahan ini menghasilkan glutamat yang memberikan rasa umami yang khas. Efek negatif bisa muncul bukan karena MSG nya, tetapi karena pola makan berlebihan.
“Terlalu banyak makan membuat tubuh bekerja lebih berat, memicu rasa kantuk, menurunkan produktivitas, dan dalam jangka panjang berkontribusi pada obesitas. Menjadi cerdas bukan soal menghindari MSG, tetapi hidup seimbang, makan bergizi secukupnya, tidur sesuai kebutuhan, dan belajar,” tuturnya.










