Komandan OPM dan 7 Anaknya Buahnya Kembali ke NKRI, Serahkan 5 Senpi ke TNI
JAKARTA – Komandan Batalion Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat Organisasi Papua Merdeka (TPNPB-OPM) Komando Daerah Pertahanan (Kodap) XV, Kupel Ngalum Oksibil bersama tujuh anggotanya memutuskan kembali ke pangkuan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
Didampingi keluarga, tokoh adat, tokoh agama, kepala distrik, serta ratusan warga, delapan anggota aktif TPNPB-OPM tersebut mendatangi pasukan Komando Operasi TNI Habema di Lapangan Distrik Kiwirok, Kabupaten Pegunungan Bintang, Provinsi Papua Pegunungan.
Kupel Ngalum Oksibil dan tujuh anggotanya secara sukarela melepaskan seluruh atribut serta identitas TPNPB-OPM yang selama ini melekat pada diri mereka. Mereka juga menyerahkan lima pucuk senjata api milik TPNPB-OPM yang diterima langsung oleh Wakil Panglima Komando Operasi TNI Habema, Brigjen TNI Riyanto.
Dengan lantang, kedelapan anggota tersebut mengucapkan ikrar dan sumpah setia kepada NKRI. Momen itu disambut antusias oleh keluarga, tokoh adat dan agama, kepala distrik, serta ratusan masyarakat yang hadir di Kiwirok.
"Pertama, saya dan kita semua tentunya bersyukur, saudara kita Kupel Ngalum Oksibil dan tujuh anggotanya yang aktif di OPM kembali ke pangkuan Ibu Pertiwi," ujar Brigjen TNI Riyanto kepada wartawan, Sabtu (13/6/2026).
Brigjen Riyanto mengaku bahagia dapat kembali menginjakkan kaki di Distrik Kiwirok, dan menyaksikan berbagai perubahan positif yang terus berkembang di tengah masyarakat.
Ia mengenang kondisi Kiwirok pada masa lalu yang dikenal rawan akibat aksi kelompok bersenjata. Menurutnya, wilayah tersebut pernah mengalami serangan terhadap permukiman warga dan pos keamanan, serta pembakaran fasilitas pendidikan dan layanan kesehatan.
"Bukan hanya itu, beberapa anggota kelompok separatis bersenjata tersebut dengan teganya memperkosa tenaga medis di puskesmas, sehingga warga memilih mengungsi meninggalkan rumah dan tanah kelahiran mereka di Distrik Kiwirok," ungkapnya.
Brigjen Riyanto menjelaskan, pendekatan humanis yang dilakukan seluruh personel Satgas TNI di bawah kendali Komando Operasi TNI Habema secara perlahan mampu menyentuh hati dan membangun simpati masyarakat, termasuk simpatisan dan anggota TPNPB-OPM.
Selain mengedepankan pendekatan kemanusiaan, TNI juga mendorong pembangunan wilayah guna menggerakkan roda perekonomian masyarakat. Berbagai sektor, seperti pendidikan dan pelayanan kesehatan, mulai berjalan kembali dengan dukungan personel Satgas TNI bersama masyarakat setempat.
"Pendidikan dan pelayanan kesehatan masyarakat mulai berjalan, di mana seluruh personel Satgas TNI bersama masyarakat berperan aktif dalam setiap upaya menggerakkan sekaligus mengakselerasi percepatan pembangunan di pelosok Papua," jelasnya.
Menurut Brigjen Riyanto, pendekatan humanis yang terus dilakukan Satgas TNI turut mematahkan stigma negatif terhadap pemerintah, khususnya TNI, yang selama ini didoktrinkan oleh TPNPB-OPM kepada sebagian masyarakat Papua.
Ia menegaskan, masa depan Papua harus dibangun melalui persaudaraan, dialog, dan kerja sama, bukan dengan permusuhan maupun konflik berkepanjangan.
Karena itu, ia mengajak anggota kelompok yang masih berada di hutan untuk tidak ragu kembali ke tengah keluarga dan masyarakat.
"Pintu perdamaian selalu terbuka bagi siapa pun yang ingin meninggalkan konflik dan ikut serta membangun kampung halamannya," pungkasnya.










