Jangan Salah Paham, Jerawat Setelah Berhenti Pakai Skincare Abal-Abal Ternyata Bukan Detoks

Jangan Salah Paham, Jerawat Setelah Berhenti Pakai Skincare Abal-Abal Ternyata Bukan Detoks

Gaya Hidup | okezone | Sabtu, 9 Mei 2026 - 17:05
share

BANYAK orang percaya bahwa munculnya jerawat setelah berhenti menggunakan krim wajah tertentu, terutama skincare abal-abal, merupakan tanda detoks atau proses keluarnya racun dari tubuh. Namun, anggapan tersebut ternyata keliru.

Kondisi kulit yang justru memburuk setelah berhenti memakai produk ilegal atau tidak jelas kandungannya bukanlah proses detoks. Tetapi, jerawat yang muncul merupakan reaksi efek dari bahan berbahaya yang sebelumnya digunakan.

1. Bukan Detoks

Dokter Spesialis Kulit dari Rumah Sakit Columbia Asia Hospital Pulomas, dr. Zahreza Maya Sari Nasution, Sp.DVE, dalam program Morning Zone yang tayang di channel Youtube official Okezone, menjelaskan bahwa ketika seseorang berhenti memakai skincare abal-abal, wajah biasanya akan berjerawat, mengalami hiperpigmentasi, hingga merasa panas dan perih.

Menurut dr. Maya, semua gejala itu terjadi akibat paparan bahan kimia keras dalam skincare ilegal, seperti merkuri atau steroid dosis tinggi. Bahan-bahan ini dapat memberikan efek instan pada kulit, tetapi merusak lapisan kulit dalam jangka panjang.

Artinya, ketika penggunaan produk dihentikan, kulit tidak sedang “mengeluarkan racun”, melainkan sedang mengalami reaksi penyesuaian dan pemulihan setelah sebelumnya terpapar bahan yang tidak aman. Kondisi ini bisa membuat kulit tampak lebih bermasalah sementara waktu sebelum akhirnya membaik, tergantung tingkat kerusakan kulit.

“Biasanya itu kan kalau orang yang pakai produk abal-abal bisa jerawatan, hiperpigmentasi, merasa panas, perih,” ujar dr. Maya.

“Biasanya itu kan tubuh kita itu berusaha menerima bahan yang masuk ke badan kita. Itu bukan detoks, tapi itu efek,” lanjutnya.

 

2. Purging

Fenomena jerawat yang keluar usai berhenti pakai skincare abal-abal ini sering disalahartikan sebagai “purging” atau proses pembersihan kulit. Padahal ternyata, tidak selalu demikian.

Purging biasanya terjadi pada skincare yang aman dengan kandungan aktif tertentu. Sementara itu, reaksi dari skincare abal-abal lebih mengarah pada iritasi atau kerusakan skin barrier.

Untuk itu, lebih berhati-hati dalam memilih produk perawatan kulit. Pastikan skincare telah terdaftar resmi di Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) agar keamanan kandungannya terjamin.

Topik Menarik